Mari ber-media untuk kebaikan kita dan Indonesia


Beberapa hari yang lalu saya diundang untuk mengisi training kehumasan dan media oleh salah satu Partai Politik peserta Pemilu 2014, PKS. Sebenarnya, mula – mula saya fikir-fikir untuk mengiyakan permintaan mengisi di PKS Kabupaten Tegal tersebut, namun pada akhirnya saya menyetujui, mengingat bisa jadi saya tambah pengalaman dengan mengisi dihadapan para kader PKS di Kabupaten Tegal. Selain itu pikir saya, saya bisa bersilaturahmi dengan para kader PKS disana, mengingat yang saya tau sejauh ini, para kader PKS tersebut, ketika saya memandangnya, adem – adem. Mungkin karena mereka sangat dekat dengan surga kali ya, ah, semoga saya pun bisa meniru dan mencontoh kebaikan yang dimiliki oleh para kader PKS tersebut.

Ngisi Training Media di PKS tegal

Ngisi Training Media di PKS tegal

Singkat cerita, akhirnya saya berangkat ke Tegal untuk mengisi Training Kehumasan tersebut, setelah pada malam sebelumnya saya sudah mempersiapkan sedikit presentasi dalam bentuk power point, dan makalah yang sudah saya kirim ke pihak panitia Training Kehumasan tersebut. Terus terang ini pengalaman pertama mengisi di hadapan para bapak – bapak kader PKS se-Kabupaten tegal, apalagi notabene mereka adalah para ustadz yang memiliki kemampuan lebih. Biasanya sih saya kalau mengisi training kehumasan, ya ditingkat kampus, dengan peserta yang semuanya adalah mahasiswa.

Pada akhirnya saya selesai mengisi dan menyampaikan apa yang saya punyai ilmu tentang kehumasan tersebut, Ahad (27/01) dihadapan bapak-bapak yang rata- rata usianya sekitar 35 tahun. Alhamdulillah lancar, saya bisa menyampaikan materi saya tentang social media dan destination branding, dan saya harap semoga materinya bisa dipahami dengan baik, dan inti gagasan dari materi tersebut segera di aplikasikan untuk kepentingan dan tujuan yang dikehendaki panitia.

Ada hal menarik yang mungkin bisa saya bagi untuk teman – teman semua, yakni ternyata ketika saya sedang asyik didepan ngomong sampai berbusa – busa, ada beberapa peserta yang ternyata belum memilki akun email dan jejaring sosial facebook. Twitter apalagi. Sempat saya berfikir, kok bisa – bisanya di zaman serba canggih saat ini belum punya akun facebook dan email? Tapi lambat laun saya menyadari dan memahami, lalu akhirnya membuat simpulan, bahwa ternyata persebaran informasi di zaman saat ini belum merata sampai ke kalangan menengah dengan akses informasi yang minim, misalnya di pelosok desa.

Bahkan di desa tempat tinggal saya, beberapa pemuda ternyata tidak bisa menggunakan komputer, jangankan menggunakan komputer, menghidupkan komputer pun tidak bisa. Miris kalau saya bilang, tapi inilah kondisi kita, kondisi sebagian masyarakat Indonesia. Bahwa ternyata kenikmatan berteknologi itu hanya bisa dinikmati oleh sebagian kalangan, itupun yang berada dikawasan teknologi dengan akses yang baik, disertai dengan fasilitas yang cukup.

Kita tentu sangat paham akan urgensi teknologi, salah satu hal yang fokus saya tuliskan di artikel ini adalah tentang media sosial. Mungkin hal itu sudah menjadi tugas dan wewenang dari Kemenkominfo selaku penanngungjawab di bidang informasi dan komunikasi di Indonesia. Namun sepertinya, tidak ada salahnya kita menjadi pihak yang turut bertanggungjawab untuk mensosialisasikan zaman informasi ini sampai ke pelosok – pelosok desa. Ini sangat penting, mengapa demikian?

Yap, betul, karena zaman saat ini adalah zaman informasi. Dalam teori materialistik, semua manusia yang sadar akan kedatangan zaman ini,

Kabeh Dadi Humas

Kabeh Dadi Humas

akan terfokus kepada benda yang disebut dengan informasi. Ini wajar, mengingat ketika kita (manusia) ingin diakui eksistensinya, dia harus selalu berada dan muncul pada titik dimana eksistensi itu berada. Dalam konteks ini, maka manusia kudu mampu menyesuaikan dirinya dengan zaman tersebut, yakni zaman informasi. Ketika kita ketinggalan informasi, kita akan tertinggal beberapa langkah dari orang yang mendapatkan informasi tersebut.

Apalagi dalam konteks sekarang, dunia informasi ternyata bukan hanya sebatas industri yang menggiurkan para pemodal, lebih dari itu, informasi dan nilai selalu berbenturan. Ini yang wajib kita cegah sebagai bagian dari konsep fastabiqul khairat. Coba perhatikan, dunia informasi yang serba canggih ini, semuanya bebas berekspresi, semuanya bebas bicara, sehingga perlu adanya nilai untuk mengatur itu. Ketika nilai dalam informasi sudah tidak difungsikan lagi, maka informasi tersebut akan menjadi senjata mematikan untuk menyesatkan masyarakat.

Maka dari itu dalam dunia informasi, perlu adanya pendamping yaitu nilai. Nilai yang dimaksud adalah segi kebermanfaatan dari informasi yang diberikan tersebut, selain itu juga etika dari informasi yang diberikan. Maka dari itu, dalam dunia modern seperti sekarang, dengan peluang yang prospektif dari dunia informasi, kadang nilai dikesampingkan hanya untuk sekedar mengejar materi saja. Hal ini yang mungkin, kita yang paham akan nilai dan norma dalam informasi, bertanggungjawab sepenuhnya untuk mengawal nilai dan etika informasi. Artinya menebar kebaikan dengan dunia informasi.

Mungkin dalam dua paragraf terakhir bahasanya agak sedikit tinggi, saya akan lebih analogikan menjadi bahasa yang sederhana. Begini, era saat ini, banyak situs – situs yang berbau sara, pornografi, juga hal – hal lain yang banyak nilai negatifnya dari pada positifnya. Nah, tugas kita adalah melawan semua ketidakberesan orang – orang yang tidak bertanggungjawab tersebut, tentu dengan menguasi, serta menyebarluaskan akses informasi yang penuh dengan manfaat tersebut kepada orang banyak.

Kabeh dadi humas-nya PKS Jateng

Untuk yang satu ini, saya mangapresiasi beberapa lembaga, atau tokoh, atau pihak yang dengan caranya masing – masing, mampu mengemas dengan apik konsep syiar melalui dunia informasi, salah satunya dengan media sosial, lalu menyebarluaskan kepada banyak orang. Seperti misal, kalau yang saya ketahui, PKS Jawa Tengah menawarkan satu konsep yang utuh dengan tajuk, kabeh dadi humas. Sebuah cara yang efektif yang saya kira hal ini menjadi langkah efektif untuk melakukan destination branding dari partai tersebut kepada masyarakat.

Yang saya tahu dari konsep kabeh dadi humas PKS adalah mewajibkan seluruh kadernya menjadi humas, yang menjadi wajah dan citra Partai itu sendiri. Artinya setiap kader di Jawa Tengah menjadi pioner pencitraan positif Partai tersebut. Ini adalah sebuah langkah brilian untuk menjadi jembatan komunikasi efektif antara Partai dan konstituen. Dan mungkin Parpol – parpol di Indonesia bisa mencontoh konsep kabeh dadi humas dari PKS Jateng ini.

Belajar dai Mursi, Obama, dan Jokowi

Tiga tokoh ini turut menjadi salah satu sebab mengapa sampai sekarang saya masih begitu getol menekuni dunia media, yang saya bisa tentunya, menulis, blogging, ber sosial media. Bahwa ternyata kemenangan ketiganya dalam konteks politik, Mursi di Mesir, Obama di AS, dan Jokowi di Jakarta, tidak lepas dari peran yang sangat signifikan dari media yang menjadi tim mereka,.

Mursi, menang karena salah satu faktor, diantara faktor kekuatan lainnya, adalah karena relawan dan kader Mursi yang tersebar seantero mesir, sudha mengerti ber-media itu bagaimana. Mereka serempak meng upload foto kegiatan Mursi di facebook masing – masing. Hasilnya, semua masyarakat mesir yang melihat foto tersebut di facebook, langsung berfikir bahwa Mursi adalah presiden ideal bagi mesir. Efeknya, Mursi menang.

Pun demikian dengan Obama dan Jokowi. Obama seperti kita ketahui bersama, menjadikan facebook sebagai alat kampanye yang hasilnya memiliki signifikansi luar biasa bagi perolehan suara Obama. Begitu juga halnya dengan Jokowi, meski lingkupnya hanya Jakarta, Jokowi dengan team medianya yang bernama JASMEV, senantiasa menjadi kekuatan pendukung untuk memenangkan Jokowi. Branding yang dibawa Jokowi, yakni Jakarta Baru, terinternalisasikan ke semua media yang mereka kelola. Dengan kemasan media yang menarik, kesan Jokowi menjadi satu solution maker bagi persoalan yang membelit Jakarta akan muncul. Dengan branding Jakarta barunya, Jokowi mampu membius masyarakat Jakarta, sehingga kita tahu, akhirnya Jokowi menang.

Inilah, dengan media sosial, yang disini saya kategorikan menjadi tiga macam saja, blog, facebook, dan twitter, ternyata mampu menjadi kekuatan kalau kita benar – benar mengelola dengan baik demi kepentingan dan kebaikan bersama.

Maka dari itu, tugas dan kewajiban kita untuk menjadikan, dunia informasi kita, dunia media sosial kita, menjadi dunia baru, yang akan menjadi faktor pendukung, terciptanya peradaban baru yang madani dan beradab. Bukan malah menjadikan dunia informasi dan media sosial menjadi alat untuk memecah belah masyarakat dengan segala cara yang bertolak belakang dengan nilai dan etika.

Mari ber-media, untuk kebaikan kita dan Indonesia.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s