Semeru [On Mission]


Akhir pekan kemarin mungkin menjadi akhir pekan yang lumayan melelahkan bagi saya, namun juga sekaligus menjadi akhir pekan yang menyenangkan. Menyenangkannya bukan karena akhir pekan kemarin adalah hari libur, bukan juga karena hari libur sehingga bisa bersenang dengan istri, dengan anak, dan dengan keluarga lainnya. Yang pertama karena memang saya belum berkeluarga, sehingga hal menyenangkan bagi saya selaku bujangan adalah naik gunung. Yap. Naek gunung Ungaran.

Sebenarnya agak bosan juga naik gunung satu ini, karena memang terlalu sering saya naek gunung yang memiliki tinggi 2050 meter DPL. Gunung yang letaknya terbagi menjadi dua wilayah besar di Jawa Tengah ini [Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang] memang menjadi tempat yang paling sering saya kunjungi, sekitar 4 kali-an lah saya muncak disini. Tapi ya apa boleh buat, wong yang paling ngirit biaya dan lumayan enak jalannya ya Gunung Ungaran, ya akhirnya saya bersama teman2 lainnya manjat Gunung satu ini.

Mungkin yang agak spesial dari pendakian gunung Ungaran yang keempat ini adalah rute perjalanan ke puncak yang berbeda dari biasanya. Kalau biasanya saya naik dari Bumi perkemahan NglimutàMedinià puncak, kali ini kami muncak berawal dari Bumper Kebonpolo Ungaranàdaerah GebuganàPuncak Promasan. Sehingga tentu ada sensasi yang berbeda dari biasanya, yakni tambah panjang rutenya, tambah jauh jaraknya, dan tentu juga tambah capek luar biasa.

Sekitar 10 jam perjalanan yang kami butuhkan untuk sampai ke puncak, dan beberapa kali pula saya harus istirahat karena kecapekan. Namun akhirnya sampai pulalah saya di puncak, sampai keesokan harinya turun kembali.

Mungkin bukan puncaknya yang menjadi masalah, karena bagi beberapa orang, termasuk saya, muncak gunung ungaran udah biasa, akan tetapi sebenarnya yang perlu dipersiapkan adalah segala sesuatu untuk menuju ke puncak tersebut. Khususnya bagi para pendaki pemula, kayak saya, harus disiapkan segalanya, baik perbekalan, fisik, dan mental agar sampai ke puncak dengan semangat dan selamat.

Bagi yang sudah nonton film 5 cm mungkin sudah tau sedikit banyak pengalaman muncak dan resikonya, namun untuk lebih lanjut, saya akan sedikit berbagi, terutama pengalaman saya muncak, dari dulu hingga terakhir kalinya, agar menjadi pembelajaran bagi para pendaki untuk lebih siap melakukan wisata muncak, sebuah wisata yang penuh sensasi, sekaligus penuh dengan resiko.

Yang pertama dan utama serta wajib dipersiapkan adalah fisik kita untuk muncak. Fisik kita harus sehat, atau setidaknya tidak dalam kondisi drop sebelum berangkat muncak. Maka langkah – langkah penting yang perlu disiapkan sebelum muncak adalah mempersiapkan fisik kita sebaik mungkin. Kalau perlu ya, perlu program latihan fisik khusus selama 1 bulan, agar optimal naiknya. Program latihan fisik yang bisa dijadikan sarana latihan adalah jogging, shuttle run, diakhiri dan diawali dengan test Vo2max, tes denyut nadi, naik turun tangga, dan sebagainya. Untuk contoh program fisik ini bisa dilihat di halaman download.

Kenapa fisik penting? Kenapa harus Tanya juga? Jelas lah, wong namanya juga muncak, ya jelas diperlukan fisik prima-lah. Makanye, yang fisiknya gak terlalu prima dan ngebet muncak, ati2 aja, bisa2 kolaps bro, kalo gak dipersiapkan sejak awal – awal.

Contoh konkrit ya saya kemarin, walaupun sarjana olahraga, kalo fisik sedang gak bagus, dijamin kacau deh muncaknya. karena saya memang sedang jarang olahraga, paling banter futsal, waktunya lebih banyak tersita di kantor, alias didepan computer, duduk, sehingga berimbas pada fisik yanggak prima. Tercatat dalam catatan hati saya, udah beberapa kali saya harus leren ndisit di jalanan menuju puncak, karena kondisi tubuh yang gak prima, ditambah karena memang agak pusing2 juga. Tapi Alhamdulillah nyampe puncak juga.

Hal kedua nih, temen, yang perlu diperhatikan, masih dalam sisi fisik, adalah mempersiapkan pemanasan sebelum berangkan muncak. Agar otot2 lebih siap menahan beratnya beban tubuh selama perjalanan muncak. Agar tidak terjadi kram otot, tak terjadi pegel2 yang pada akhirnya menghambat laju mimpi dan harapan kita untuk menuju tempat diatas awan, alias muncak gunung.

Trus, lanjut, yang ketiga adalah kesiapan perbekalan. Duit pastinya iya, tapi jangan banyak2, misalnya mau muncak ungaran aja harus mbobol ATM sampe kertas struknya habis, atau mbawa uang 2 milyar, gak usah, gak penting banget. Apalagi bawa uang 2 milyar, receh semua lagi, gak pentiing. Bawa uang secukupnya saja, ya misalnya 500 atau 501ribu gitu…

Nah, yang ketiga ini juga perlu diperhatikan, yakni perbekalan muncak. Ada beberapa list yang perlu dan wajib, seharusnya dibawa sebagai alat pokok muncak, diantaranya;

Carrier bag, atau tas ransel yang super gedhe, yang biasa buat ndaki2 itu lho, kalo bisa cari yang bagus, ukuran 60 liter lebih pas, kayak yang difoto artikel ini itu lho. Tas semacam ini harganya berkisar antara 500 – 600 ribu, tergantung mereknya. Tapi ini adalah tas ideal para pendaki.

Nah, yang kedua ini adalah perlengkapan penting, yakni obat2an pribadi, dari mulai betadine sampai dengan balsam, kudu ada, karena untuk jaga2 barangkali qta kena musibah diatas, kan gak tau. Iya kan?

Trus perbekalan selanjutnya adalah pakean yang diperlukan aja, missal jaket gunung, kaos yang menyerap panas dua, celana lapangan dua, udah itu aja cukup. Jangan membawa pakean2 yang gak perlu atau kebanyakan, missal ke gunung bawa dasi hitem, baju hem panjang, batik, dan jas, mau ngapain coba. Atau ke gunung bawa pakean satu lemari, mau ngapain coba?

Nah loh, kalo yang selanjutnya ini penting juga, bawa tempat minum, biar simple pake termos aja, yang tahan dingin maupun tahan panas itu lho.  Juga disiapkan tempat makan, tapi gak usah bawa magic jar, juga bawa kompor kecil plus gas.

Kemudian untuk mengantisipasi saat lapar, anda cukup bawa makanan2 cepat saji, seperti mie instan, mi gelas, roti basah, dll, jangan sampai bawa gado2 plus pancinya, gak efektif banget bro.

Jangan lupa bawa jas hujan, yang pakean aja biar simple, plus sleeping bed, matras, tali, pisau, dan terakhir adalah senter, kalao bisa headlamp, jangan lampu petromak, apalagi lampu badai, gak efisien.

Nah, itulah beberapa hal terkait perlatan yang musti dibawa saat ndaki. Oiya lupa, bawa sepatu dan kaos kaki cui, skebo, kaos tangan, ma sarung juga.

Nah, itulah yang perlu dibawa dan dipersiapkan saat mendaki gunung.

Akhirnya selamat mendaki bagi yang mau mndaki. Karena barada dipuncak gunung, adalah karunia terindah, kita bisa merassakan bahwa negeri kita begitu indah, dan Allah begitu luar biasa menciptakan segala bentuk keindahan dimuka bumi. Tentu dengan mendaki, kita akan lebih banyak evaluasi diri dan lebih banyak bersyukur kepada Illahi.

Dan selanjutnya, Semeru on mission ^^

5 thoughts on “Semeru [On Mission]

    • oke mas, ada dua jalur dgn masing2 karakteristik, via Gonoharjo-nglimut-medini-promasan-Puncak, atau lewat Kebonpolo seperti di artikel ini.. dua2nya asyik tapi kalau pertimbangan jaraknya, kebonpolo-puncak lebih jauh, sekitar 11jam, kalo lewat Gonoharjo, lebih deket, sekitar 8 jam.. Untuk rutenya kebonpolo jalur sudah bagus tapi menguras energi.. untuk Gonoharjo, lumayan menantang karena melewati jalan setapak juga, tapi lebih deket

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s