Senandung cinta pasir putih


although I had to do it in a different way, I’ll love this way,

I wanted to keep working with this way, giving all my energy to this way,

and most importantly ….

I’ll love you, anytime, anywhere, and forever…

trust me..

Klayar, di sore hari awal bulan ini, masih terlihat cantik dan mempesona. Pasirnya masih putih, bersih, seakan tak ternoda oleh sang hitam sama sekali. Pun demikian dengan batu karang yang menjulang tegak dibibir palung, menjuntai perkasa ke angkasa, menandakan seakan sang karang bisa menghadang laju gelombang yang ingin menghancurkan daratan.

Namun, aku sendiri tak begitu yakin dan percaya kepada sang karang itu, ketika sang gelombang silih berganti menerpa karang, bergantian, terus bergantian, dan mungkin suatu saat tak kan kusaksikan lagi sang karang itu perkasa diatas seruling samudera. Entah, hanya waktu yang kan menjawabnya.

Sore itu, ya, pantai Klayar tetaplah pantai Klayar, yang menampilkan sejuta pesona keindahan dan pancaran karunia Illahi. Sore itu, Pantai Klayar tetap menyuguhkan panorama alam yang luar biasa indah, tak bisa dipungkiri, inilah karunia terindah yang diberikan Allah kepada Pacitan dan Indonesia. Indah, alami, mempesona.

Namun suasana yang berbeda justru dialaminya. Entah, hatinya sedang suram. Sesuram langit sore klayar yang berhiaskan mendung gelap yang tebal. Entah, mungkin hatinya sedang diterpa banyak masalah. Atau apalah, yang jelas, suguhan keindahan pantai Klayar, ditambah dengan renyahnya suara tawa dari empat temannya yang lain, belum cukup untuk memoles gundahnya menjadi keceriaan.

Pikirannya, menerawang jauh, ditelinganya masih terngiang – ngiang nasehat sang guru yang dikaguminya kemarin pagi. Saat hanya bersua berdua. Pikirannya juga menerawang jauh beberapa tahun silam, saat dirinya dipertemukan pertama kalinya dengan sang guru tersebut. Yang jelas, tampak di wajah dan guratan kulit dipipinya, betapa dia mengagumi sosok ‘sang guru itu’.

Baginya, sosok itu begitu luar biasa. Aktivitas surgawi dan komitmennya untuk selalu bersama jalan surge itu tak diragukan lagi. Mungkin kalau diibaratkan, seluruh hidupnya telah diwakafkan di jalan surga. Pagi berangkat ngajar sampai sore, malamnya ia gunakan untuk mengisi agenda pekanan jalan surge itu sampai larut, tapi dia tetap pulang kerumah, kembali bersama keluarganya.Begitu terus aktivitas hariannya, tak ada lelah, tak ada capek, yang ada hanya raut muka yang sayu, tetapi sunggingan senyumnya tak berubah. Selalu tersenyum kepada siapapun.

Dimata pemuda galau itu, sang guru itulah yang membuatnya menjadi bingung, menjadi galau, atau apapun lah, sehingga walau sore itu dihibur dengan hiburan dari Allah berupa keindahan pantai Klayar, hatinya tetap mendung, semendung langit klayar di sore itu.

Yang ada dibenak pemuda itu, ia tak habis piker, kenapa sang guru yang telah mengetahui ada noda dalam dirinya, bersedia untuk diajak jalan – jalan, menemaninya, menasehatinya, bermalam dengan dia dan teman – temannya. Dan bahkan beberapa agenda yang ‘lebih penting’ di batalkan demi membersamai pemuda tersebut. Dua hari, yang penuh dengan cerita. Romantika.

Lalu sang pemuda itu berandai-andai, andai saja roda waktu itu berputar ke masa yang lalu, saat dimana dirinya bertemu dengan sang guru untuk pertama kalinya, bersama – sama temannya yang lain yang berjumlah belasan itu, bersama merajut mimpi, bersama merajut asa, dalam bingkai ukhuwah. Dalam barisan surga yang penuh dengan cita dan cinta. Ia ingin terus bersamanya, bersama merajut asa, mimpi, dan cita. Bersama sang guru, dirinya hidup dan menghidupi banyak orang. Bersama sang guru, ia mengangkasa. Ia, pemuda itu, telah jatuh hati pada sang guru.

Ah, mungkin dalam benak pemuda itu, dia memang harus menjalaninya, waktu dan takdir hidup, yang harus dilaluinya. Sang waktu yang terus berputar, dan takdir yang menghampirinya. Maka tak seharusnya dia berandai – andai. Maka tak seharusnya dia melayangkan pikirnya ke masa yang lalu, masa yang penuh dengan romantika dan satu handicraft hidup yang indah.

Tentu yang dipikirnya sekarang, adalah tentang takdir dan waktu yang akan membawa perahu kehidupannya ini terdampar. Dan sepertinya sang pemuda itu, begitu yakin, dan percaya, bahwa cinta dan cita itu tak jauh dengan apa yang dilakukannya sekarang.

Sang guru, yang walaupun telah tersematkan namanya di celah hati sang pemuda itu, tetap dia harus memilih, melalui takdir hidupnya dan sang waktu yang membersamainya. Dan mungkin, sore itu, akan selalu dikenang dalam simfoni kehidupan sang pemuda itu. Ya sore, itu, saat sang guru melantunkan sebait syair the zikr, sang pemuda itu terharu, luruh, hatinya dibelai, diantara desiran angin pantai dan deburan ombak yang silih bergantian memainkan musik alam yang indah. Yang mengiringi sang guru melantunkan syairnya.

Maka mungkin, bagi sang pemuda, nama sang guru akan tetap tersemat di celah hatinya, meskipun berbeda haluan, meskipun tak sama dalam cara, meskipun, yah, banyak kata meskipun yang mungkin menghalanginya untuk kembali bersua bersama sang guru kelak.

Tapi, bertemu dengan sang guru, lalu membersamainya dalam beberapa waktu, adalah pengalaman yang indah dalam hidupnya. Akan tetapi, tetap, dia harus memilih takdir mana yang dia jalani, dan kelihatannya, dia sudah memilih takdir mana yang akan membersamainya kelak.

Ah, pikir pemuda itu, sore itu, dua hari itu, bersama sang guru, bersama teman – temannya, adalah saat – saat terindah yang pernah dijalaninya. Pikir pemuda itu, bukankah warna pemandangan laut itu, meski tak sama, tetapi tetap mencipta harmoni? Ada pasir yang berwarna putih semu kekuningan, ada deburan ombak yang putih, ada laut yang biru, ada tanaman laut yang hijau, dan ada mentari sore yang jingga. Bukankah harmoni laut, berbeda, tapi tetap mempesona?

Ya, sore itu, ada senandung cinta pasir putih.

Sore itu, Klayar begitu cantik dan mempesona.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s