Inspirasi dari Pak Cah : Why should me? why not me?


Pak Cahyadi Takariawan. Saya mengenal beliau diawal – awal dulu adalah ketika banyak membaca buku2 yang beliau tulis, seperti menyongsong mihwar daulah, Rumah Tangga Islami, Di Jalan dakwah aku menikah, dan sebagainya. Pun demikian makin takjub dengan tulisa2 beliau di blog yang mengalir, dan mencerahkan terkait kondisi2 kekinian. Makin keren setelah ikut dalam beberapa sesi yang dimana beliau jadi pembicaranya, seperti Training kepemimpinan Nasional di DIY, atau beberapa sesi lainnya di Jawa tengah.

Tambah deket saja dengan beliau ketika beliau sering main2 ke semarang karena amanah baru beliau, dan kebetulan karena amanah saya yang berada di humas dan reporter majalah online yang ada hubungannya sama partai beliau,  sehingga saya juga sering meliput berbagai agenda beliau di beberapa tempat, makin dekat deh dengan ustadz yang satu ini.

Sehingga dalam kesempatan ini, ingin mendokumentasikan tulisan beliau yang cukup menginspirasi. salah satunya adalah tentang kedewasaan kita dalam bersikap.

Mengapa Saya, Mengapa Bukan Saya?

Mengambil pelajaran dan hikmah, bisa kita lakukan dimanapun dan dari siapapun. Hikmah itu bersifat universal, bisa diambil dari semua kejadian dalam kehidupan. Mari sedikit balajar dari seorang Arthur Ashe.

Ia adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang berhasil memenangkan tiga gelar juara Grand Slam, yaitu US Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?”

Ashe menjawab, “Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5000 mencapai turnamen grandslam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon, empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final”.

”Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon”, lanjut Ashe, “Saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan : Mengapa saya? Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan : Mengapa saya?”

Ah, itu cerita jadul yang sudah sangat sering kita baca di buku-buku motivasi dan cerita dari mulut ke mulut. Namun yang jelas, Ashe bisa melakukannya. Sekarang saatnya bertanya kepada kita, apakah kita mampu bersikap positif seperti Ashe. Sangat jauh membandingkan diri kita dengan generasi salaf, apalagi para sahabat, apalagi para Nabi. Masyaallah, dimana posisi diri kita dibanding mereka ?

Sekarang bandingkan diri kita dengan seorang Ashe saja. Bisa jadi, dia bukan siapa-siapa dalam kehidupan dakwah kita. Cobalah bersikap jujur, bagaimana penilaian kita atas sikap positif Ashe?

Saat kita menerima sebuah amanah dalam dakwah, berupa posisi kepengurusan, posisi kepemimpinan, posisi jabatan publik, dan lain sebagainya, kita terima dan kita laksanakan dengan segenap kemampuan yang kita punya. Kita tidak perlu bertanya, “Mengapa saya?” Sudahlah, laksanakan saja amanah itu.

Maka pada saat kita tidak terpilih, tidak mendapat amanah, tidak menempati posisi-posisi penting, tidak mendapatkan jabatan atau kepemimpinan seperti yang kita inginkan, mestinya kita juga tidak perlu bertanya, “Mengapa bukan saya?”

Ya, mengapa dia yang mendapat amanah itu, mengapa bukan saya? Sombongnya kita, jika menganggap kader lain lebih rendah kualitasnya dibanding dengan diri kita. Seakan hanya kita yang bisa melaksanakan amanah dengan penuh keberhasilan dan kesuksesan. Seakan hanya kita yang mampu mengukir sejumlah prestasi. Seakan kader lain –semuanya—memiliki kualitas yang jauh di bawah kita. Masyaallah.

Demikian pula saat amanah diambil kembali dari diri kita, dan diberikan kepada orang lain. Padahal kita tahu bahwa kita mampu melakukannya, namun mengapa amanah ini diambil, mengapa tidak dipercayakan lagi kepada saya, mengapa diberikan kepada dia, apa kelebihan dia dari saya, apa masalah saya sehingga saya tidak lagi dipercaya ? Bukankah tidak layak kita menggugat keputusan syura dan mempersoalkan pengalihan amanah ini ?

“Mengapa saya yang diambil amanahnya? Mengapa bukan yang lainnya?”

“Mengapa saya yang tidak diberi kepercayaan memegang amanah jabatan itu?”

“Mengapa dia yang mendapatkan posisi, mengapa bukan saya?”

Wah, kalah dong sama si Ashe. “Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5000 mencapai turnamen grandslam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon, empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final”.

Kalau kita mendapatkan sesuatu amanah dalam dakwah, kerjakan dengan segenap kemampuan. Kalau kita tidak mendapatkan sesuatu amanah sesuai yang kita inginkan, bersyukurlah karena bisa melakukan banyak hal dalam peran-peran fungsional lainnya. Tidak perlu galau dan risau. Apalagi sampai sakit hati dan mendramatisir situasi.

Jadi, gue harus bilang “waww” gitu ? Sambil lompat ?

Biasa aja kaleee………

Source : Web Pak Cah

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s