Menumbuhkan Kembali Mental Kepahlawanan Pemuda


Rasa –rasanya kalau kita amati tiap kali dalam peringatan sumpah pemuda, selalu banyak muncul tulisan tentang sumpah pemuda dengan tema – tema konvensional, seperti misalnya menggali makna didalamnya, atau selalu muncul ucapan selamat sumpah pemuda yang bertebaran di seluruh penjuru Kota. Atau juga banyak diadakan dialog – dialog seputar sumpah pemuda di berbagai stasiun televisi. Akan tetapi, setelah itu, selalu muncul preseden buruk tentang pemuda, seperti misal terjadinya kasus perkelahian antar pelajar, atau bentrokan mahasiswa di berbagai kampus, yang belakangan ini marak, bukankah ini merusak citra pemuda itu sendiri.

Kasus terbaru, kita bisa melihat bentrok antar mahasiswa di kampus Universitas Pamulang Tangerang Selatan, yang membuat Kapolsek Pamulang jatuh tersungkur dan berbuntut pada penangkapan 9 mahasiswa. Kasus serupa juga terjadi di Universitas Negeri Makassar yang menwaskan seorang mahasiswa, atau juga tawuran yang melibatkan pelajar SMA 6 dan SMA 70 yang menewaskan seorang pelajar. Lalu sebuah pertanyaan muncul dan terbenak di pikiran, sudahkah semangat sumpah pemuda merasuk kedalam jiwa tiap insan muda Indonesia, wabil khusus para mahasiswa?

Pemuda nusantara dan puncak kesejarahan mereka

Well, mari kita sedikit belajar dari sejarah tentang semangat nasionalisme yang selalu muncul di setiap zamannya, tidak hanya setelah RI merdeka, akan tetapi jauh sebelum itu, semangat persatuan itu sudah tumbuh dan berkembang dalam setiap zaman kebangsaan kita. karena jika kita memperhatikan, semua penggalan sejarah tersebut memiliki kesinambungan dan benang merah yang menautkan satu sama lain. Setidaknya ketika kita belajar dari sejarah nusantara Indonesia raya ini.

Kalau kita amati beberapa sejarah singkat tentang sumpah palapanya gajah mada, atau mudiknya Airlangga ke Bali, memiliki arti penting tentang persatuan kaum muda, saya sebut mereka muda karena usia mereka saat mencapai puncak kegemilangan sejarah adalah masih usia relatif muda.

Pada masa majapahit, kita mengenal Gajah Mada dengan sumpah palapa yang ia ucapkan. Sumpah palapa untuk tidak mengikuti arus perpecahan. Sumaph tersebut adalah manifestasi dari konsep Bhinneka Tunggal Ika. Bisa berbeda kelompok atau kepentingan, namun mengedapankan kepentingan utama, alias kepentingan nasional yang lebih luas.

Namun ternyata kebijakannya tersebut tidak membuat banyak pihak senang. Langkahnya beresiko menyakiti pangeran Sunda. Dalam konteks kekinian, kita menyebutnya sebagai sosok yang berani ‘beda’, atau sosok kontroversial. Dan hasilnya secara simbolik, Gajah Mada mengucapkan sumpah palapa, tidak makan buah palapa sebelum persatuan nasional tercapai.

Pun demikian dengan Airlangga, yang akhirnya mudik dari Bali dan menuju ke Jawa untuk mengawini putri Jawa. hal tersebut menandai tekad bulatnya untuk menyatukan Jawa dan Bali.

Visioner.

Yang lebih revolusioner lagi tentu adalah peristiwa sumpah pemuda tahun 1928. Tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, sejumlah pemuda yang tergabung dalam perhimpunan Pemuda Pelaja Indonesia (PPPI) menggelar Kongres Pemuda (KP) II di Jakarta. Berbgai macam latar belakang pemuda seperti Jong celebes, Jong Java, Jong Soenda, Jong Sumatranen, Jong Betawi, dan sebagainya mengikrarkan sumpah pemuda.

Hal yang patut diapresiasi sebagai bentuk kesejarahan para pemuda tersebut adalah, bahwa mayoritas alumni KP II itu menjadi tulang punggung tim pemerintahan RI pasca merdeka. Walaupun tak tertera nama Soekarno-Hatta di sana, akan tetapi nama – nama alumni KP II seperti Moh Yamin, Wilopo, Amir Syarifudin, Arnold Mononutu, Sartono, Kasman Singodimedjo, Moh Roem, dan Johanes Leimena adalah alumni KP II yang menggapai puncak kesejarahannya saat menduduki jabatan penting di tim-tank RI Soekarno-Hatta.

Mencapai kesejerahan personal dan kebangsaan

Para pemuda nusantara tersebut sudah membuktikan, dengan menjadi agak beda, mereka telah menunjukkan prestasi besar kebangsaan mereka dalam romantika perjalanan bangsa Indonesia. para pemuda nusantara tersebut, yang dikenal kontroversi, pada akhirnya menjadi tulang punggung kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

Well, bagaimana seharusnya menyikapi kesenjangan mental kepahlawanan pemuda masa kini dengan pemuda nusantara masa lampau?

Tentu kita mengenal istilah, tiap zaman punya anak zaman masing – masing. Kita tulis saja bahwa dalam konteks zaman – zaman tersebut, mereka telah menjadi anak zaman masing – masing. Maka, berawal dari logika ini, kita telah menyebut, seharusnya sekarang kitalah yang menjadi anak zaman bangsa ini. Kitalah yang seharusnya membawa Indonesia ke tangga tertinggi pencapaian kebangsaan Indonesia. kalau mereka, para pemuda nusantara tersebut menyejarah karena sikap yang menentang arus, maka sikap menentang arus dalam artian positif inilah yang harus kita budayakan dan berdayakan di kalangan pemuda kita saat ini.

Mental kepahlawanan yang turun dewasa ini, bahkan bisa dikatakan anjlok ke jurang terdalam, adalah disebabkan oleh kurang bisanya kita (para pemuda) untuk menafsirkan zaman saat ini. Pun demikian hal tersebut diperparah dengan penjajahan model baru berupa kapitalisme yang merenggut jantung nurani kepemudaan kita. mental kepahlawanan yang dulu menjadi ciri khas para pemuda nusantara, kini hilang ditelan bumi, bahkan hancur berkeping – keping.

Lalu, bagaimana seharusnya para pemuda nusantara membangkitkan kembali mental kepahlawanannya? Bisakah kita memugar citra buruk pemuda saat ini menjadi sebuah kepahlawanan muda yang heroik dan revolusioner?

Impossible is nothing.

20-30 tahun lagi, Indonesia akan dipimpin oleh seorang pemimpin muda yang mau berbeda dari kebanyakan pemuda, yang berasala dari kapasitas – kapasitas kepahlawanan personal yang dimilikinya. Kapasitas tersebut adalah kapasitas ideologi, jaringan, dan finansial. Tiga hal tersebut yang menjadikan kunci menuju puncak kesejarahan personal dan kebangsaan kaum muda.

Ideologi diperlukan untuk membentuk karakter diri, sehingga berawal dari kokohnya ideologi tersebut, seseorang tersebut mampu melakukan positioning yang baik dalam setiap meomentum yang ada. Dan inilah yang biasa disebut para ideolog bangsa. Mereka tercipta bukan hanya karena bakat kepemimpinannya saja, akan tetapi polesan – polesan serta lingkungannyalah yang membentuk karakter dirinya dengan baik. Untuk yang satu ini, para ideolog terbentuk karena kebiasaan mereka melakukan proses ideologisasi yang kontinyu, aktual, dan berisfat kontemporer. Dan mereka lahir dari rahim gerakan pemuda yang masih memegang teguh proses ideologisasi kadernya.

Yang kedua, adalah kapasitas jaringan. Dalam konteks kekinian, eksistensi kita hanya akan diakui dalam segi kapasitas personal, akan tetapi hal tersebut tidaklah cukup tanpa dibarengi dengan kokohnya jaringan. Karena para pahlawan tersebut hidup dalam komunitas manusia, maka harus ada pengakuan dari manusia lain kepada para pahlawan tersebut, disinilah fungsi jaringan. Semakin besar jaringan yang dimiliki oleh para pemuda pahlawan, maka semakin besar peluang bagi dirinya untuk mampu mempengaruhi publik dengan kapasitas kepahlawanannya.

Contoh yang bisa diambil adalah bagaimana seorang gajahmada yang memiliki jaringan sampai ke negeri nusantara, untuk kemudian mampu memudahkan misinya mneyatukan nusantara. Atau juga Airlangga yang melakukan ekspansi jaringan ke tanah jawa, agara eksistensi kepahlawanan dirinya dalam konteks personal, serta persatuan jawa –Bali dalam konteks sosial, dapat terwujud.

Dalam konteks kekinian, jaringan yang dimaksud salah satunya adalah penguasaan media, karena kita hidup di dua dunia, maka keberdayaan kita dalam menguasai media, turut menentukan nasib kepahlawanan kita, baik secara personal maupun kebangsaan.

Daya dukung finansial adalah syarat ketiga yang harus dipenuhi oleh para pahlwan pemuda tersebut. Ini sudah syarat mutlak yang mesti dimiliki ketik kita menginginkan kemenangan dalam konteks visi mulia kita, finansial menjadi satu sebabnya. Kita tentu masih teringat kemenangan Jokowi-Ahok di Pilkada Jakarta. Selain tentunya peran kemasan media yang cantik, peran – peran finansial yang kuat, didukung oleh para pengusaha China, turut menentukan suksesnya Jokowi menjadi jakarta 1.

Belajar dari peristiwa ini, tentu kita sangat faham, sebersih apapun profil dari tokoh tersebut, kalau tidak didukung finansial yang kuat, dia tetap akan terkalahkan oleh raksasa bernama uang. Maka, perlu kiranya, kita, para pemuda, melakukan positioning diri kita untuk menjadi enterpreneurship muda, tentunya dalam konteks mendukung kepahlawanan muda kita dimasa yang akan datang.

Well, begitulah, sejarah pemuda nusantara selalu dibumbui dengan romantika kepahlawanan yang cukup membuat sejarah jatuh hati, lalu menuliskannya dalam sejarah panjang keberadaan bangsa ini. Selanjutnya, tinggal kita, bagaimana kemudian kita membuat sang pena sejarah jatuh hati kepada kita, untuk menuliskan kesejarahan personal dan kebangsaan kita, untuk mengangkat indonesia ke puncak kesejarahannya.

Selamat hari sumpah pemuda.

terbit di web KAMMI Pusat

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s