Sungai grindulu, sebuah identitas dan kekayaan alam Pacitan


Kalau Solo punya Sungai Bengawan Solo, atau kalau Mesir identik dengan Sungai Nilnya, atau Kalimantan dengan Sungai Musi-nya, maka Pacitan memiliki Sungai Grindulu sebagai identitas dan kekayaan alam yang terdapat di daerah Kabupaten paling ujung di Jawa Timur ini.

Sungai Grindulu di pacitan adalah sebuah sungai yang terpanjang di Pacitan yang membentang dari wilayah Kecamatan Pacitan, berturut – turut ke Kecamatan Arjosari, sampai diujung Kecamatan Tegalombo, dengan jarak sekitar 60 Km sampai ke muara laut.

Kalau di cermati, hampir sebagian besar wilayah sungai grindulu berdampingan dengan jalan utama Pacitan –Ponorogo, terutama di wilayah Kecamatan Arjosari dan kecamatan Tegalombo. Ciri khas yang mencolok biasanya, jalan besar utama langsung berdampingan dengan sungai Grindulu di bawahnya. Atau juga dengan model jalan besar utama, berbataskan rumah atau sawah, baru sungai grindulu. Biasanya daerah dengan jalan besar berdampingan langsung dengan Grindulu memiliki potensi bencana longsor yang lebih besar, daerah ini intensitas longsornya lebih tinggi dari daerah lainnya.

Sungai Grindulu, bagi sebagian warga Pacitan yang tinggal dikawasan yang berdekatan dengan sungai ini, menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan mereka. Selain digunakan untuk keperluan sehari – hari, seperti mandi dan mencuci, air sungai grindulu sebagian besar juga dimanfaatkan untuk keperluan irigasi pertanian. Fungsi lain yang bisa diambil dari keberadaan sungai Grindulu adalah pasir sungai yang sangat bermanfaat untuk keperluan pembangunan, dan tentu juga memiliki nilai ekonomi.

Tambang pasir dan batu Sungai Grindulu

Keberadaan sungai Grindulu tentu memberikan dampak yang positif bagi warga sekitar, selain batu kali, pasir, dan macam – macam ikan, sungai Grindulu juga dikenal dengan keindahan pemandangannya. Sering di wilayah Sungai Grindulu ini dijadikan obyek penambangan pasir kali untuk keperluan pembangunan rumah, kantor, masjid, dan sebagainya. Banyak yang menggunakan pasir sungai Grindulu untuk keperluan mencari mata pencaharian. Tentunya ada yang model penambang tradisional dan ada juga yang menggunakan alat berat.

Walaupun kekuatan pasir sungai untuk keperluan pembangunan tak sekuat pasir gunung berapi, akan tetapi Pasir Sungai Grindulu tetap diminati warga untuk dijadikan bahan baku bangunan, baik itu rumah, perkantoran, maupun keperluan pembangunan lainnya. Hal ini disebabkan karena harga yang lumayan murah daripada pasir sungai lainnya. Selain jarak yang cukup dekat, juga penggunaan pasir sungai grindulu ini memiliki kualitas pasir yang lumayan baik.

Dalam konteks penambangan pasir sungai Grindulu, terbagi menjadi tiga model, yaitu masyarakat penambangan daerah perbukitan, masyarakat ini tinggal didaerah elevasi tinggi yang relatif jauh dari daerah aliran sungai. Kemudian yang kedua adalah model masyarakat penambang daerah sungai : Masyarakat ini tinggal di daerah aliran sungai, baik hulu maupun hilir. Yang ketiga adalah model Masyarakat penambang di daerah perbukitan yang dekat dengan sungai, biasanya masyarakat ini tinggal di daerah perbukitan yang dekat dengan sungai pasir. Mereka nggak hanya menambang pasir di bukit tempat tinggal mereka, namun juga dari sungai yang mengalir di sekitarnya. Nah, ini adalah tipe – tipe penambang pasir di sungai Grindulu Pacitan.

Selain Pasir, batu kali juga menjadi obyek mata pencaharian sebagian warga yang tinggal di wilayah Tegalombo dan Arjosari. Ini bisa dilihat ketika anda melewati wilayah Desa Mangunharjo Kecamatan Arjosari, maupun di wilayah Desa gemaharjo, Kecamatan Tegalombo. Fungsi batu kali Grindulu ini adalah untuk bahan campuran membuat bangunan. Biasanya digunakan bahan campuran pembuatan beton atau cor, agar lebih kuat dan tahan lama.

Banyak disana penambang batu kali mengais rezeki mereka untuk kemudian dijual kepada konsumen. Model yang digunakan para penambang batu kali ini adalah dengan memukul batu keras yang berukuran besar menjadi bentuk yang paling kecil, dan biasanya mereka membuat gubuk – gubuk kecil yang sederhana yang digunakan sebagai tempat bekerja. Selain penambang yang menggunakan metode tradisional untuk memcah batu kali menjadi ukuran yang paling kecil dengan bermodalkan palu ukuran besar, ada juga yang menggunakan alat pemecah batu modern.

Pemanfaatan Sungai grindulu

Selain diambil manfaat pasir dan batunya, sungai Grindulu juga memiliki nilai kemanfaatan dari airnya. Air sungai grindulu yang jernih bisa dimanfaatkan warga untuk mencuci, kadang ada juga yang digunakan untuk mandi, dan keperluan irigasi pertanian.

Untuk irigasi pertanian ini adalah daerah yang memiliki tekstur tanah yang datar, misalnya wilayah Desa Kebondalem di Kecamatan tegalombo, atau di Kelurahan tambakrejo Kecamatan pacitan. Sedangkan daerah dengan tekstur tanah yang berbukit, sungai grindulu hanya diambil manfaat batu dan pasirnya.

Sayang Sungai Grindulu adalah model sungai yang volume aliran airnya tidak stabil. Artinya volume air meningkat ketika musim hujan, dan cenderung menurun ketika musim kemarau. Hal ini tentu mempengaruhi tingkat kemanfaatan sungai Grindulu bagi warga sekitar. Karena pada musim penghujan, debit air yang meningkat akan emmbawa endapan pasir sungai yang banyak, sehingga hal ini akan menghasilkan nilai ekonomi bagi penambang pasir. Namun demikin, sungai grindulu tetap bermanfaat bagi kesejahteraan warga sekitar sungai.

Daerah aliran sungai grindulu merupakan daerah yang memiliki pemandangan yang elok dan mempesona. Hal ini mungkin bagi sebagian orang bisa juga menjadi sarana rekreasi mencari kesejukan panorama sungai grindulu. Misalnya di perbukitan yang dihiasi dengan sawah model teras iring di wilayah Ngreco, kecamatan Tegalombo, nampak indah dengan jalan dan sungai grindulu yang berdampingan, membentuk pola berkelok – kelok, membuat pemandangan yang indah untuk dipandang mata. Pun demikian dengan batu – batu besar Sungai Grindulu yang menghiasai panorama alam, menambah keindahan yang sejuk dipandang mata.

Sungai Grindulu dan intensitas bencana Longsor

Daerah aliran Sungai grindulu yang berdampingan dengan jalan utama Pacitan-Ponorogo merupakan daerah yang memilki resiko terjadi bencana tanah longsor yang tinggi. Hampir setiap musim penghujan, daerah aliran sungai grindulu yang berdampingan dengan jalan utama pacitan – Ponorogo selalu terjadi tanah longsor, baik itu tebing, maupun jalanan yang amblas karena tergerus derasnya aliran sungai grindulu.

Intensitas bencana longsor yang cukup tinggi ini menjadikan derah pacitan menjadi daerah rawan bencana alam. Sehingga perlu adanya kerjasama antara lembaga terkait dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipatif dan preventif terhadap kemungkinan terjadinya tanah longsor di wilayah DAS Grindulu.

Grindulu adalah asset, grindulu adalah identitas dan kekayaan alam Pacitan. Mari kita jaga!

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s