Belajar dari Pilkada Jakarta


Pilkada DKI Jakarta yang beberapa waktu lalu baru selesai, menyisakan cerita yang sayang sekali bila tidak saya tuliskan disini. Banyak hal yang kita bisa ambil pembelajaran dari hajatan politik yang dilangsungkan di Ibukota Negara Indonesia tersebut. Pada akhirnya, seperti diketahui, Jokowi-Basuki berhasil memenangkan Pilkada yang cukup melelahkan itu dan terpilih menjadi Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur yang memegang tongkat estafet kepemimpinan Jakarta selama lima tahun kedepan.  

Setelah melalui proses yang cukup melelahkan, Pemilu dua putaran dengan segala intrik didalamnya, Jokowi-Basuki berhasil mengungguli semua pesaingnya. Diputaran pertama, Jokowi-Basuki mengungguli semua pesaingnya dengan prosentase 40% lebih. Kemudian di putaran kedua, seperti kita ketahui bersama, Jokowi-Basuki berhasil mengungguli Foke-Nara dengan perbandingan prosentase 53%-46%.

Jokowi dan Foke

Jokowi dan Foke

Tetapi bukan hanya persoalan kemenangan Jokowi-Basuki yang membuat saya menuliskan artikel ini, akan tetapi proses selama terjadinya Pilkada, sejak awal kampanye sampai KPU memutuskan pemenang di Pilkada Jakarta ini. Walaupun memang kemenangan Jokowi-basuki membuat ‘keterkejutan nasional’, akan tetapi proses panjang nan melelahkan Pilkada DKI Jakarta inilah yang membuat Pilkada ini kelihatan seksi, hot, dan menarik untuk diambil pelajaran – pelajaran didalamnya.

Kemenangan Jokowi, Party low trust, Fresh idea and fresh man

Mari kita kupas beberapa peristiwa yang membuat saya ‘tergoda’ untuk menuliskan serial artikel Pilkada jakarta ini. Yang pertama adalah terkait sosok sang fenomenal nan kontroversial yang melekat pada sosok Joko Widodo (Jokowi). Setelah mendapatkan ‘prestasi’ gemilang hasil proyek Mobil Esemka, Jokowi menjadi idola baru pejabat publik. Keberhasilannya mengangkat beberapa sisi Kota Solo, kemudian mendapatkan nominasi walikota terbaik dunia menjadi alasan yang menarik ‘minat’ publik terhadap Jokowi, sehingga bermodal hal tersbut, Jokowi pada akhirnya mendaftar sebagai salah satu calon Gubernur DKI Jakarta, bersama kendaraan PDIP. Dan seperti yang akhirnya kita ketahui, Jokowi berhasil meyakinkan publik ibukota untuk memilihnya sebagai pemimpin baru Jakarta dengan segala konsep baru yang dibawahnya. Inilah hal yang fenomenal yang pertama dari agenda Pilkada jakarta. Terpilihnya Jokowi.

Yang mencengangkan lagi adalah bahwa terpilihnya Jokowi menjadi Gubernur DKI ini ibarat semut yang berhasil mengalahkan gajah. Betapa tidak, pasangan Jokowi-Basuki hanya didukung oleh dua parati saja, PDIP dan Gerindra, sementara sang rival, Foke, didukung oleh mayoritas Partai penguasa di DKI Jakarta, seperti Demokrat, PKS, maupun PAN. Ini menjadi satu sinyalemen bahwa kekuatan Partai tidak berpengaruh terhadap hasil Pemilukada, atau bisa diartikan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat DKI terhadap Partai menurun. masyarakat DKI dalam konteks Pilkada DKI lebih memilih figur daripada Partai. Dalam konteks ini berarti publik Jakarta sudah mengalami low trust terhadap Partai. Pembelajaran yang bisa diambil adalah bahwa perlu ada strategi baru, perlu ada pola perjuangan baru yang dilakukan oleh Partai agar kembali mendapatkan kepercayaan di mata publik.

Yang menjadi alasan kenapa Partai – partai di Pilkada DKI kurang begitu di minati masyarakat, adalah karena jualannya hanya itu – itu saja. Tidak segar, mereka menjual citra bersih, tetapi ternyata setelah memegang kekuasaan, banyak kader – kader dari Partai-partai penguasa tersebut korupsi. Kecuali PKS, hampir semua Partai – partai penguasa di DKI tersebut pernah tersangkut kasus korupsi

Jokofoke (source:Tribunnews)

Jokofoke (source:Tribunnews)

Karena saya bukan pengamat politik dari lembaga politik terkenal, saya hanya seorang alumnus sebuah Universitas negeri di semarang, bukan jurusan politik pula, hanya jurusan Penjas, jadi diawal mohon maklum kalau analisis saya sedikit serampangan. Kemenangan Jokowi di Jakarta memang sangat fenomenal mengingat sebelumnya Jokowi hanyalah seorang ‘ndeso’, orang jawa yang menjadi walikota di sebuah Kota di jawa Tengah, lalu ternyata tanpa disangka, dia berhasil mengalahkan muka – muka beken macam Foke, Hidayat Nur Wahid, Faisal basri, Alex Noerdin, maupun Hendardi.

Analisis saya, kemenangan ini adalah buah dari baiknya citra Jokowi dimata masyarakat saat mengemban jabatan sebelumnya. Citra Jokowi yang merakyat, dekat dengan rakyat kecil, kemudian mampu mengkondisikan Kota Solo di beberapa sisi menjadi Kota yang nyaman secara tidak langsung mengangkat pamor Jokowi di mata masyarakat Ibukota. Hal inilah yang kemudian menjadikan nilai plus Jokowi di mata publik DKI. Sementara hal tersebut sangat bertolak belakang dengan figur Foke yang digambarkan masyarakat sebagai figur yang tegas, tidak terlalu dekat dengan masyarakat, dan kebijakan – kebijakannya yang cenderung jauh dari rakyat.

Pada intinya dari kemenangan Jokowi, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa masyarakat butuh ide segar dari orang baru untuk menata Jakarta menjadi lebih baik. Entah nanti dalam pelaksanaannya seperti apa, kita kan belum melihatnya, yang jelas biarkan Jokowi dan timnya bekerja, membuktikan janji ‘jakarta baru’ seperti saat kampanye, lalu selanjutnya mari kita nilai bersama, bagaiman kinerja Jokowi dalam membangun ‘jakarta baru’ seperti yang dijanjikan saat kampanye.

Pembelajaran selanjutnya dari kemenangan Jokowi ini, bisa jadi adalah refleksi dari Pemilu 2014. Rakyat Indonesia menginginkan ide segar dari orang baru, untuk menahkodai Indonesia kedepan menjadi Presiden. Jadi saya sarankan kepada para muka lama yang berniat nyalon, hati – hati dan siap – siap bangkrut. Ya, karena sebagai rakyat Indonesia, kita sangat merindukan sosok yang mampu membawa Indonesia ini ke puncak kejayaannya, bukan malaikat, tetapi dia adalah lahir sebagai manusia biasa, yang bekerja lebih, bekerja ikhlas untuk negeri. Jadi saya pikir, ide presiden alternatif menjadi solusi dari krisis kepemimpinan nasional saat ini.

Pilkada Jakarta, sebuah prototype demokrasi modern

Pembelajaran selanjutnya dari Pilkada jakarta ini adalah tentang pendidikan politik yang baik yang ditunjukkan oleh semua pihak yang bersangkutan dalam prosesi Pilkada jakarta. Untuk yang satu ini, mari kita kupas secara lebih mendalam, tentang pendidikan politik apa dibalik Pilkada jakarta.

Selama proses Pilkada berlangsung, kita menyaksikan suasana Jakarta begitu mencekam, saling serang antar pendukung. Tak hanya di

contoh kartun Pilkada DKI yang unik

contoh kartun Pilkada DKI yang unik

dunia nyata, didunia maya pun kita menyaksikan perang antar pendukung ini menjadi ‘hiburan tersendiri’ bagi saya dan masyarakat Indonesia. Semua masyarakat saling serang di twitter, ada yang bilang Fokelah kalau begitu, atau ada juga yang anti kumis. Semua membela calonnya masing – masing dan melakukan twit war ke pendukung calon lainnya.

Unik, menarik, dan gayeng. Inilah yang terjadi selama beberapa bulan terakhir sampai agenda Pilkada Jakarta usai.  Nuansa sensitivitas itu semakin kental ketika muncul isu SARA, yang bahkan sempat menyeret Raja dangdut Rhoma Irama terlibat dalam kasus ini. Dan itu semua semakin menambah daya tarik Pilkada Jakarta ini sebagai contoh demokrasi modern. Nuansa emosional tersebut tentu tak hanya dimiliki oleh warga jakarta, akan tetapi hampir semua masyarakat di Indonesia sepakat bahwa Pilkada Jakarta adalah contoh dari demokrasi modern.

Yang unik dan perlu dicontoh oleh para pemimpin kita adalah sikap negarawan yang ditunjukkan oleh masing – masing calon, baik itu Jokowi di pihak yang menang, dan Foke sebagai pihak yang kalah. Begitu hasil hitung cepat di hampir semua lembaga survei memenangkan Jokowi, Foke langsung memberikan ucapan selamat kepada Jokowi, tak ada penyesalan, atau protes yang berlebihan, ketika mengetahui dirinya kalah. Tentu yang terakhir kalinya  adalah kunjungan Jokowi kepada Foke paska dirinya dinyatakan menang oleh KPU, lalu kemudian Foke mengenalkan Jokowi tim dari Pemprov DKI, semakin membuktikan mental negawaran yang mereka miliki, dan perlu untuk dicontoh oleh setiap dari kita.

Saya sih bukan analis politik yang tahu semua tentang perpolitikan, akan tetapi pilkada DKI telah menjadi contoh yang baik buat demokrasi di Indonesia. Nah, sekarang, Jokowi dan Basuki telah terpilih, biarkan mereka bekerja menuntaskan Jakarta dari segala polemik yang mendera. Biarkan mereka fokus pada aplikasi dari janji mereka selama kampanye. Kita dukung sepenuhnya kebijakan yang membangun Jakarta, kita kritisi kebijakan yang tidak sesuai dengan pembangunan Nasional. Kalau mereka punya ciri khas baju kotak – kotak warna – warni,  biarkan mereka sekarang mendesain Jakarta menjadi sebuah tempat yang berwarna, kotak – kotak, seperti pelangi yang indah.

Pak Jokowi dan Pak Basuki, selamat menjalankan amanah baru di Jakarta. Semoga Jakarta menjadi lebih baik.

 

 

 

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s