Cinta Rohis, cinta Indonesia


Sedih, marah, tersinggung tingkat tinggi, dan kecewa berat. Begitulah perasaan saya, dan semua aktivis Rohis di seantero tanah air, baik yang sudah alumni maupun masih menjadi aktivis kerohanian islam (Rohis) ini ketika secara serampangan dan gegabah Metro TV mengidentikkan ekstrakurikuler yang menggunakan media masjid di sekolah Umum sebagai sarang rekrutmen generasi baru teroris. Walaupun dalam klarifikasinya, Metro TV tidak mengatakan Rohis secara langsung, akan tetapi hal itu sudah menguatkan bukti bahwa Metro TV dalam hal ini sudah membuat stigma negatif kepada khalayak umum tentang pemberitaan palsu Rohis sebagai sarang teroris.

Pada akhirnya, gelombang protes pun bermunculan kepada pihak Metro TV sebagai penyelenggara acara dialog tersebut. Baik di dunia sosial media, twitter, FB, maupun berbagai website, serta aksi – aksi somasi pun dilakukan oleh berbagai kalangan yang merasa tersinggung atas tragedi fitnah Rohis sebagai sarang teroris yang diberitakan Metro TV ini. Protes juga muncul dari berbagai tokoh nasional, seperti MUI, Anggota Dewan Partai Golkar (Indra Jaya Pilliang) dalam akun twitternya, Edy A Effendi (Eks Jurnalis Metro TV), Penulis buku Ridwansyah Yusuf Achmad (Mantan Presma ITB), dan berbagai kalangan lainnya.

Pada intinya, yang saya baca dari semua gelombang protes yang ada terkait pemberitaan ini, adalah bahwa tidak benar adanya bahwa Rohis sebagai sarang teroris, seperti yang diberitakan Metro TV dalam acara tersebut. Metro TV telah terang – terangan melukai segenap elemen masyarakat Indonesia, khususnya ummat islam, yang sebelumnya juga sudah terluka akibat fitnah keji lainnya dalam tragedi film IOM.

Mungkin dari pihak Metro TV maupun peneliti kurang teliti dalam melakukan penelitian mengenai generasi baru teroris ini, sehingga secara langsung menunjuk bahwa kegiatan ektrakurikuler di Sekolah Umum yang berada di Masjid adalah sebagai generasi baru teroris. Padahal jauh panggang dari api. Jauh banget.

Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin sedikit bercerita seputar pengalaman saya di Rohis, serta bantahan atas tuduhan dari pihak Metro TV yang memberikan preseden buruk terhadap aktivis Rohis sebagai generasi baru teroris.

Saya adalah seorang alumni Rohis, yang insyaallah sampai sekarang masih memegang teguh nilai – nilai keislaman yang dulu pernah

somasi teman2 Rohis untuk Metro TV (gambar pinjem di FB)

somasi teman2 Rohis untuk Metro TV (gambar pinjem di FB)

diajarkan sewaktu mengikuti Rohis di kampus semasa kuliah S1 di Unnes. Bahkan semasa di Rohis, saya pernah dipercaya untuk memangku jabatan tertinggi, yaitu sebagai ketua Umum di Rohis tingkat fakultas. Akan tetapi tidak ada praktik yang mengindikasikan kearah pemberontakan, terorisme, seperti yang dituduhkan oleh pihak Metro TV dan narasumber dalam acara tersebut. Yang ada hanyalah latihan membuat buletin bagi bidang syiar, atau rapat atau di internal rohis sering dikenal dengan syuro membahas pembinaan ummat dengan metode taklim dibidang pengkaderan. Atau berlatih kewirausahaan bagi mereka yang diamanahi di bidang kewirausahaan.

Saya sendiri sebagai ketua umum, waktu itu bertanggungjwab untuk mengontrol keberjalanan masing – masing bidang, dan alhamdulillah-nya, walaupun tidak bisa mengurusi semua bidang, minimal bisa merintis beberapa terobosan baru di Rohis saya, semisal membuat sekretariat, membuat blog, dan merintis usaha kewirausahaan. Waktu itu, acara yang cukup membuat saya bangga adalah Tabligh Akbar di fakultas kami yang bisa menghadirkan ustadz kaliber nasional.

Sederhana memang yang kami lakukan di Rohis, tidak neko – neko, apalagi sampai seperti yang dikatakn Metro, bahwa kami men ‘toghutkan’ penguasa. Tidak ada yang seperti itu. Akan tetapi yang kami anggap dan terpenting dari aktivitas di Rohis adalah terkait pembinaan diri dalam konteks nilai keislaman. Setiap pekan kami mengaji dengan ustadz untuk menjaga diri, belajar Islam, dan tentunya memperbaiki kapasitas individu untuk menjadi lebih baik. Mulai dari bacaan Qur’annya, cara sholatnya diperbagus, interaksi sosialnya dengan masyarakat kampus digiatkan lagi, sampai bagaimana mampu menjadi pioner kebaikan bagi ummat.

Inilah sekelumit kisah yang saya alami selamai di Rohis. Dan kalau selama ini, seperti yang diberitakan di berbagai media, bahwa para teroris diajarkan cara membuat bom dan sebagainya, berbeda samasekali dengan di Rohis, hal itu adalah fitnah yang keji. Di rohis, seperti yang pernah saya alami dulu, adalah tempatnya orang belajar menjadi baik. Mempelajari ilmu islam, lalu sedikit demi sedikit mengamalkannya, mulai dari islam yang paling dasar, tingkat individu, sampai tingkat internasional, semuanya diajarkan, runtut, rapi, dan bertahap. Membina adik – adik angkatan kami adalah bagian dari upaya untuk mengamalkan nilai – nilai Islam yang kami peroleh selama menuntut ilmu di Rohis.

Semuanya terjaga, manajemen waktu yang baik, memperbaiki aqidah, memperkuat nilai ibadah, memperbaiki akhlak, menjaga kesehatan tubuh, teratur dalam segala urusan, sampai dengan mandiri secara ekonomi, semuanya diajarkan di Rohis. Dan saya katakan, saya sangat berterimakasih dengan Rohis, karena entah saya jadi apa kalau saya waktu awal kuliah dulu tidak masuk Rohis.

Saya katakan bahwa masuk ke dalam Rohis itu adalah sebuah kenikmatan tersendiri, baik di SMP/SMA, maupun saat menjadi mahasiswa. Menjadi Rohis adalah salah satu cara untuk menjadi manusia solutif, baik bagi diri, keluarga, masyarakat, maupun negara. Menjadi rohis itu, akan membuka peluang kita untuk berprestasi sebesar – besarnya bagi bangsa dan negara. Menjadi Rohis itu indah, bukan petaka, apalagi menjadi teroris. Seperti misalnya Mas Yusuf tadi yang alumni Ketua Rohis Gamais yang menjadi Presiden Mahasiswa, atau adik angkatan saya, Donny Kusuma Ariwibawa, yang juga mantan Ketua Rohis yang kini menjabat sebagai Presiden mahasiswa Unnes. Menjadi Rohis adalah prestasi yang luar biasa.

Bagi saya, menjadi anggota Rohis, atau berkecimpung didunia keislaman, adalah sebagai bentuk kecintaan kita kepada Indonesia, dengan segala kelebihan yang sudahs aya ungkap di alinea sebelumnya. Karena dalam Islam, kita dianjurkan untuk mencintai bangsa kita dalam keadaan apapun, jadi orang Rohis itu bagi saya adalah nasionalis sejati. Mereka memiliki tingkat dan rasa nasionalisme yang sangat kuat. Tidak mungkin mereka malah merongrong semangat untuk mencintai Indonesia dengan segala bentuk, seperti yang dituduhkan Metro TV, seperti membuat teror untuk mengacaukan Indonesia.

Dalam tulisan saya kali ini, saya berpesan untuk para alumni Rohis dan para aktivis Rohis yang sampai saat ini dan seterusnya terus berjuang untuk mencintai Indonesia dengan segala bentuk partisipasi dan kontribusinya, mari kita buat Indonesia tersenyum kembali.

Kalau Bang Edy A Effendi menyampaikan kepada generasi rohis, para adik – adik rohis untuk berprestasi dengan menjadi generasi penulis, maka saya pun ingin berpesan, tekuni dunia keilmuan masing – masing, yang kuliah di jurusan Ilmu politik tetap tekuni dunia perpolitikan, tentunya dengan tetap menyandang gelar muslim sejati, yang kuliah di kedokteran tetap menjadi dokter yang shalih, juga tetap menjadi aktivis Rohis yang santun, mari perbaiki kapasitas, perkokoh keimanan, dan terus memberikan yang terbaik untuk negeri Indonesia tercinta ini. Mari kita singsingkan lengan baju kita, untuk membuat Indonesia tetap tersenyum, menyejarah, menuju puncak kejayaannya.

Cinta Rohis, cinta Indonesia.

6 thoughts on “Cinta Rohis, cinta Indonesia

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s