Romantika Mahasiswa baru dan cita masa depan


Senin (27/08), langit kampus Unnes tampak biru, cerah, hangat, dan menawan, pertanda langit dikampus konservasi itu sedang ceria menyambut kedatangan para calon pemimpin – pemimpin masa depan itu dikampus. Langit Unnes tersenyum hangat menyambut mereka yang kelihatan letih karena harus berjalan mutar – muter keliling kampus, mencari penugasan PPA, lalu keliling lagi, lalu masih harus ke kos untuk mengerjakan semua pernak – pernik penugasan yang ditugaskan oleh kakak – kakak panitia, belum lagi esok harus berangkat pagi – pagi agar tak kena hukuman dari sie disiplin Panitia PPA. Karena kalau telat sedikit saja bisa runyam urusan.

Hari – hari di pekan terakhir bulan Agustus 2012 ini mungkin menjadi waktu – waktu yang sibuk dan padat bagi para mahasiswa baru dan aktivis kampus. Aktivis kampus tengah sibuk menyiapkan dan mensukseskan terselenggaranya PPA dan OKPT serta PPA Jurusan, sedangkan kesibukan luar biasa juga tengah dinikmati ribuan mahasiswa baru yang telah resmi ber almamater kuning alias telah resmi menjadi warga Unnes. Apalagi kalau bukan mempersiapkan PPA Fakultas dan Jurusan.

Berbagai macam hal telah mereka lakukan, mengikuti Temu Teknik, membuat berbagai macam pernak – pernik untuk kelengkapan

Senangnya jadi Maba

Senangnya jadi Maba

PPA, serta mengerjakan penugasan yang dibuat oleh para senior mereka. Hal ini seperti menjadi satu tradisi tahunan yang terjadi, bukan hanya di Unnes, tetapi hampir diseluruh perguruan tinggi di Indonesia, pasti dihadapakan dengan penyambutan mahasiswa baru ini. Tentu kedatangan mereka menjadi ladang subur bagi banyak pihak, mulai dari Unnes sendiri, bapak ibu kos, para aktivis kampus, dan bahkan juga para pemiliki toko, foto kopian, dan lain sebagainya.

Lelah. Letih. Capek. Inilah romantika mahasiswa baru.

Akan tetapi dibalik lelah letihnya karena aktivitas yang menumpuk, ada keyakinan tersembul dari mata yang penuh dengan energi baru itu, ia adalah asa dan cita.

Ya. Saat mahasiswa baru, adalah saat dimana asa itu muncul, cita itu mulai nampak. Tentang apa yang akan ia berikan untuk dirinya, untuk keluarganya, untuk masyarakatnya, untuk negeri tercinta ini. Asa itulah yang nanti akan menjadi energi, akan menjadi ruh yang menggerakkan segenap jiwanya berlomba – lomba memberikan prestasi hidup bagi diri, keluarga, masyarakat, serta negeri Indonesia tercinta ini.

Ya. Menjadi mahasiswa baru adalah saat dimana sisi kontribusi keilmuan yang kita masuki itu menjadi tantangan untuk kita selesaikan. Bukan hanya menyelesaikan tantangan pribadi, tetapi lebih dari itu adalah memberikan efek positif, alias memberikan manfaat sebesar – besarnya bagi rakyat Indonesia. Yang kuliah dijurusan Teknik Mesin, seharusnya sejak awal ia berfikir untuk mencipta mesin, bukan hanya teknisi, tetapi mencipta suatu alat yang memiliki nilai kebermanfaatan lebih bagi orang banyak. Yang kuliah dijurusan Hukum, bagaimana mulai memikirkan suatu media solutif alternatif yang mampu menyelesaikan dan menyeimbangan dunia hukum Indonesia, yang saat ini sedang berada dalam kondisi kritis.

Saat menjadi mahasiswa, dimana kita masuk kedalam gerbang  kampus yang serba heterogen, adalah saat dimana kita sedang belajar untuk bertanggungjawab atas nilai keilmuan yang kita miliki. Saat menjadi mahasiswa, kita dihadapkan pada persoalan – persoalan individu yang saya kira sudah menjadi tabiat mahasiswa, persoalan finansial, kos – kosan, lumrah bagi seorang mahasiswa.

Akan tetapi ada hal yang seharusnya penting untuk kita maknai. Yaitu adalah tentang visi Indonesia masa depan. Tentang sikap seorang mahasiswa. Yaitu adalah sikap yang sejak awal masuk kuliah, harus masuk kedalam alam pikirannya, dia adalah Indonesia Visioner. Memiliki visi masa depan untuk Indonesia kedepan. Dan kalau sikap itu tidak tertanam sejak awal, akan sulit Indonesia dimasa depan akan memiliki pemimpin – pemimpin tangguh, idealis, dan tetap konsisten memberikan segenap kontribusinya untuk negeri. Yang ada hanya pemimpin – pemimpin yang bermental lembek, dan bahkan bisa jadi pemimpin pragmatis berjiwa korup ini akan selalu ada di negeri ini, yang katanya adalah tanah surga.

Kita lupakan sejanak tentang Indonesia Visioner, kita kembali tentang bagaimana seorang mahasiswa baru dapat memposisikan dirinya menjadi mahasiswa sukses sejak awal kuliah. Saya sendiri sebenarnya bukan tipe contoh mahasiswa yang lulus 4 tahun pas, molor dua tahun, tapi sebenarnya bukan masalah 4 tahun apa 5 tahun, apa 6 tahun lulusnya. Masalahnya adalah terletak pada kematangan dan kedewasaan pola pikir seorang mahasiswa.

Suatu ketika saya pernah berdiskusi dengan adik sepupu saya yang sudah menjadi dosen di Pondok Modern Gontor Ponorogo, yang waktu itu sedang memberikan arahan untuk adik saya yang lain yang baru mau masuk ke STIE Tazkiya. Salah satu visi yang sejak awal harus tertanam di benak mahasiswa baru adalah memanajemen waktu selama 4 tahun dikampus. Rinciannya tahap ke-1 yaitu tahun pertama adalah tahap adaptasi dunia kampus dan mulai mengenal minat dan bakatnya, tahap ke-2 di tahun kedua adalah tahap menjadi aktivis kampus/organisasi kampus, tahap ke-3 atau tahun ketiga adalah tahap menjadi tokoh kampus dengan segudang prestasinya, entah itu menjadi mahasiswa prestasi atau menjadi tokoh aktivis kampus, dan tahap ke-4 di tahun ke empat adalah tahap fokus Tugas akhir dan pengembangan karir pasca kampus.

Kalau saya bahasakan kedalam bahasa saya, tahap pertama adalah tahap Afiliasi, yang pada tahap ini mahasiswa baru harus segera mencermati kondisi kampus dan disesuaikan dengan kondisi dirinya, mulai memetakkan potensi yang dimiliki, kemudian berlanjut ke tahap kedua adalah tahap Partisipasi, yaitu bagaimana seorang mahasiswa setelah tahu pemetaan potensi dirinya, lekas untuk ikut andil, berpartisipasi dalam Republik Mahasiswa, alias menjadi aktivis kampus. Tahap ketiga adalah tahap Prestasi besar – besaran, dimana dalam tahap ini seorang mahasiswa sudah menjadi tokoh kampus dengan memiliki karakter diri seorang pemimpin, entah itu dalam konteks dirinya sebagai aktivis, atau dalam konteks kesejarahan personal, dengan prestasi yang dimilikinya. Tahap terakhir adalah tahap kontribusi, dimana fokus tahap terakhir ini adalah pada penyelesaian studi dan mulai mencermati karir pasca kampus.

Empat tahap itu yang disampaikan adik sepupu saya, dan sayangnya saya tahunya tidak sejak awal menjadi mahasiswa, sehingga mungkin tips empat tahap menjadi mahasiswa ini berlaku untuk adik – adik mahasiswa baru di Unnes. Keempat tahap tersebut menjadi sangat penting untuk sejak awal mulai dirancang sedemikian rupa, agar kelak ketika selesai kuliah, yang didapatkan adalah bukan hanya mahasiswa siap kerja, tetapi adalah mahasiswa siap kontribusi. Sangat berbeda antara kerja dan kontribusi, kalau kerja kita hanya melaksanakan perintah dari majikan, alias menjadi kuli, sedangkan kontribusi adalah mengaktualisasikan segenap kemampuan kita dan memberikan kebermanfaatan sepenuhnya kepada rakyat banyak di Indonesia.

Jadi pada akhirnya, kampus hanya akan melahirkan dua tipe alumni, tipe pertama adalah alumni berkarakter pemimpin yang siap mencurahkan segenap potensi, energi, dan kerja – kerja nyatanya untuk Indonesia, sedangkan yang kedua adalah alumni bermental pekerja yang pragmatis, yang setelah lulus bervisi pendek hanya diterima kerja. Dua tipe itu bisa saya kategorikan tipe bermental sosial negarawan dan tipe individualistik pragmatis.

Silahkan temen – temen mahasiswa baru memilih masa depan mana yang dikehendaki.

Akhirnya selamat datang kepada mahasiswa baru Unnes.

Selamat datang di dunia kampus, wadah aktualisasi gagasan dan karya.

Iklan

2 thoughts on “Romantika Mahasiswa baru dan cita masa depan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s