Mudik dan kebahagiaan Nasional


Fenomena mudik selalu menghadirkan cerita tersendiri yang sayang sekali untuk dilewatkan dirangkai kata perkata, kalimat perkalimat, hingga menjadi satu frasa yang indah. Mudik bukan hanya tradisi kembalinya si perantau ke kampung halamannya. Mudik bukan hanya saat kita berlebaran dirumah. Mudik adalah bukan hanya kita menerima THR, atau menyerahkan parcel Lebaran, atau sekedar mengucapkan Selamat lebaran dengan kartu Lebaran. Bukan, bukan hanya itu.

Mudik adalah saat – saat dimana hati itu kembali tertaut, saat dimana kebahagiaan itu terpancar dan memuncak, membuncah memenuhi rongga – rongga jiwa. Mudik adalah saat – saat dimana mata kita berbinar, karena bertemu kembali dengan orang – orang tercinta di kampung halaman. Bukan hanya pertemuan dan perjamuan biasa, tetapi adalah perjamuan hati. Karena disaat mudik, kita akan berkesempatan untuk saling bermaaf-maafan satu sama lain. Saling berjanji untuk tidak melakukan dosa – dosa lagi. Saling berbagi tentang harmoni, tentang cerita seputar pengalaman diperantauan, sembari memberikan sesungging senyum termanis kepada sang terkasih dirumah. Ah indahnya mudik.

Mudik adalah cerita tentang kebahagian. Bukan hanya dirasakan oleh sebagian kalangan saja, tetapi mudik adalah cerita tentang kebagagiaan nasional. Kebahagiaan seluruh warga indonesia. Wajar kalau fenomena mudik ini mendapatkan sambutan yang luar biasa. Mulai dari instansi – instansi pemerintah membuat ucapan selamat mudik, mulai dari kolom khusu di media massa, baik cetak maupun elektronik bercerita tentang mudik. Bahkan beberapa partai politik atau LSM, atau pihak sponsor membuat ratusan posko mudik untuk memberikan pelayan terbaik kepada para pemudik.

Mudik adalah cerita tentang kebahagiaan. Yang melayani pemudik bahagia bisa melayani sepenuh hati. Lihat saja dari satuan polisi, begitu detail mempersiapkan agenda mudik ini, misalnya disemarang dinamakan “Operasi ketupat”, dibeberapa titik ditaruh posko – posko dadakan untuk memudahkan para pemudik melanjutkan perjalanannya. Polisi merasa ayem tentrem jikalau jalanan titikrawan macet itu kini lancar jaya, itu artinya operasi ketupat mereka sukses.

Atau lihat juga para pengelola jasa transportasi, Bus misalnya, mereka mempersiapkan agenda mudik ini dengan sebaik – baiknya. Armada ditambah, unit bus juga ditambah, belum lagi pelayanan penumpang ditingkatkan. Walaupun konsekuensinya harganya sedikit naik, tetapi itu tak menjadi soal bagi para pemudik dengan bus. Bagi mereka, yang terpenting dapat berlebaran dirumah. Dengan keluarga yang dicintainya.

Lain lagi kisah mudik dari beberapa pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua. Walaupun harus berjauh – jauh ria, dari jawa barat  (cikampek) ke Jawa tengah (Pati), dengan mengendarai sepeda motor bebek, belum lagi membawa anak kecil yang masih berusia balita, tiga orang, satu motor, yang pada akhirnya terpaksa tas besar yang dibawanya ditaruh dibelakang dengan bantuan kayu penyangga, agar tetap bisa mudik. Capek, lelah, letih, panas, bukan lagi menjadi soal bagi para pemudik itu. Karena yang terpenting adalah bahagia, bisa bertemu dengan keluarga dirumah. Merayakan lebaran dirumah, makan kue dan segelas sirup bersama dirumah. Ah, indahnya.

Sekali lagi mudik adalah cerita tentang kebahagiaan nasional. Kebahagiaan yang dirasakan oleh semua. Semuanya larut dalam sukacita, saling memaafkan dikampung halaman, sekaligus memenuhi jiwa dengan energi kerinduan, untuk menjadi kekuatan saat merantau nantinya. Mudik adalah cerita tentang harmoni.  Bahagia, cinta, rasa, senyum, ketupat, riang, semuanya berpadu dan bersatu dalam jiwa, membaur, dan pada akhirnya mencipta harmoni. Selamat bermudik ria. Selamat merayakan hari kebahagiaan nasional.

Mohon maaf lahir dan batin.

 

 

 

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s