Sumber energi kehidupan


Hidup, begitulah hidup. Kadang hidup itu begitu dahsyat. Berwarna. Senyum kita merekah bak bunga yang sedang mekar. Indah. Pun dengan hati kita, bergelora, sedang mekar, seperti halnya pelangi yang muncul saat hujan berhenti. Indah. Mencipta harmoni. Tetapi ada saat dimana hidup terasa tak adil bagi kita. ada kala hidup ini begitu kelam, hitam, dan pekat. Bahkan saat sang bulan yang muncul dimalam hari untuk tersenyum sekalipun, tetap tak mampu mencerahkan hati yang sedang kelam. Yang sedang menggerutu terhadap hidup. Bahkan warna pelangi yang begitu mempesona, warna – warni itu tetap terlihat hitam saat hidup kita sedang seperti ini.

Ada saat kita mengalami masa senang dalam kehidupan kita, berada dan membersamai dengan orang – orang terkasih, berpadu bersama mereka merumuskan visi, menuangkan ekspresi jiwa dan karya bersama mereka, tetapi ada kalanya kita juga berada dalam posisi yang mencekam. Berada dalam kesendirian, satu persatu ditinggalkan orang – orang terkasih. Dan pada akhirnya sendiri. Itulah saat – saat mengerikan dalam hidup ini.

Mungkin Kaab Bin Malik juga pada awalnya, saat iqab dari Rasul datang dengan 40 hari tak boleh ditegur, merasa kelam hidupnya,

Lapangan Golf

Lapangan Golf

merasa terguncang jiwanya, merasa pedih hatinya. Selama 40 hari itu juga ia merasa dalam kesendirian. Tetapi ia sepenuhnya sadar, bahwa ketika dia berhasil melewati tahap itu, derajatnya akan naik, hidupnya akan lebih mulia. Walaupun berat memang, menjalan hari – hari dalam hidup, tidak membersamai orang – orang terkasih, sahabatnya, istrinya, anaknya, Sang nabi, semuanya berpaling dan tidak bertegur sapa dengannya. Pahit memang, tetapi Kaab yakin bahwa kisah tersebut akan berakhir indah. Happy ending.

Ada faktor yang menyebabkan mengapa Kaab begitu kuat akan cobaan hidup yang mendera hidupnya. Dan faktor itu adalah tentang hati, hati yang lembut yang dimiliki oleh Kaab. Hati yang setiap sudutnya terpenuhi dengan energi iman. Hati yang begitu dekat dengan sang penciptanya. Hati yang lembutnya mampu menghadirkan kesejukan jiwa. Inilah yang dimiliki oleh Kaab. Dia tetap menjalani periode kelam dalam hidup dengan tetap memberikan kontribusinya untuk ummat. Dia sangat yakin, selama ini sepenuhnya kita serahkan kepada Allah, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan dalam setiap ujian yang mendera hidup.

Hidup ini indah, ada suatu keyakinan dalam diri Kaab bahwa suatu saat, hidupnya akan kembali normal, dan tentu akan lebih indah. Tetapi untuk menuju kesana, butuh sarana ujian, dan pada akhirnya 40 hari itu adalah ujian yang harus dijalani Kaab. Untuk mengembalikan hidupnya agar lebih berwarna. Agar derajatnya semakin meningkat, hidupnya pun mulia.

Ya. Hati yang lembut yang bersumber dari keimanan. Itulah kunci menyelesaikan persoalan hidup yang pasti setiap saat akan datang dan bertubi – tubi menghampiri  kita. kapanpun. Diwaktu apapun.

Konsekuensi logis dari lembut hati adalah semakin dekatnya kita kepada Allah. Semakin cinta kepada Allah. Dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah atas segala sesuatu yang terjadi. Inilah kunci – kunci kebahagiaan kita. kunci kelembutan hati yang akan berimbas terhadap kebahagiaan hidup.

Faidzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallah. Atau lebih jelasnya kita bisa melihat firman Allah Azza Wa Jalla di QS Ali Imran 159 yang artinya Ya, Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Satu ungkapan yang seringkali kita dengarkan dari para ulama, para sahabat, para murabbi itu setidaknya menjadi satu ungkapan penguat bahwa kebeningan hati, kelembutan jiwa, yang bersumber dari keimanan yang mendalam kepaa Allah Azza Wa Jalla adalah kunci pembuka kebahagiaan hidup.

Siluet Pagi

Siluet Pagi

Kekuatan tekad kita, ikhtiar kita yang dilandasi kelembutan hati, adalah sumber energi yang akan membawa kita kepada jenjang kehidupan yang lebih berkualitas. Energi kehidupan tersebut kemudian masih dipadukan dengan kekuatan Tawakkal kita kepada Allah. setelah kita menguatkan energi jiwa kita dengan azzam dan tekad, energi tersebut masih dipadukan dengan energi surga untuk memperoleh derajat kemuliaan seorang makhluk.

Jadi penyempurna ikhtiar kita adalah kuatnya tawakkal kita kepada Allah Azza Wa Jalla.

Dalam suatu forum, kalau tidak saat mengisi kajian di Fakultas MIPA Unnes, saat saya masih dikampus beberapa waktu lalu, saya menganalogikan bahwa ikhtiar dan tawakkal itu ibarat deret bilangan. Untuk mencapai bilangan yang lebih tinggi, kita tidak boleh menghilangkan salah satunya, baik itu ikhtiar dan tawakkal. Semuanya saling melengkapi.

Faidza azzamta, azzam, kekuatan tekad akan melahirkan qana’ah fikriyah dan qana’ah qalbiyah. Dan itu semuanya adalah syarat-syarat yang kita perlukan untuk menemukan tekad. Tekad itu sendiri menurut para ahli psikologi disebut sebagai energi. Jadi yang punya tekad adalah mereka yang punya energi.

Lalu Allah mengatakan fatawakkal ‘alallah, bertawakkallah kepada Allah. Yang dimaksud tawakkal menurut para ulama adalah penuhnya hati dengan kepercayaan bahwa atas kehendak dan kemampuan Allah SWT untuk menjalankan segala urusan itu sesuai dengan kehendak-Nya. Dan hal tersebut berarti bahwa kita sepenuhnya bergantung kepada Allah Azza Wa Jalla dan tidak takut kepada seluruh makhluk Allah yang lain.

Inilah intinya.

Kelembutan hati yang bersumber dari keimanan, dipadukan dengan kekuatan ikhtiar yang berada segaris dengan tekad, serta bergabung dengan rasa tawakkal kita kepada Allah yang mendalam, maka akan melahirkan energi kehidupan, dan hal itu akan menjadikan kita insan kamil. Manusia – manusia mulia yang dirindu surga, juga para perindu surga.

Wallahu alam Bishowwab.

 

 

 

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s