Suatu senja, syahdu bersama mereka


Pekan – pekan terakhir menjelang berakhirnya bulan mulia ini, menjadi satu kenangan yang tak terlupakan tatkala disebuah senja bersama dengan gemericik renyahnya senyum mereka. Suatu senja yang mungkin tak terbayangkan, menjadi hari bahagia bagi mereka, senyumnya yang manis dan kadang tatapan matanya yang menyiratkan kesedihan yang dipendam dan berganti dengan riang gembira, membalut mata sayu mereka sore itu.

Ya, sore itu, adalah hari yang spesial buat saya, dan mereka, dan teman2 yang masih kecil – kecil, namun sudah harus ditinggal pergi

hehehe, baju ijo namanya arif, sebelahnya namanya lupa

hehehe, baju ijo namanya arif, sebelahnya namanya lupa

oleh orang tuanya, baik itu bapak maupun ibunya. Ah, tapi tak nampak raut muka sedih menggelayuti pipi lesungnya. Tak nampak lagi air mata kesedihan yang mendalam tatkala ditinggal pergi oleh orang  orang yang dicintainya. Sore itu, sekotak nasi ayam, beberapa butir kurma, dan sebuah sarung, semoga mampu sedikit melupakan duka mendalam yang menimpa dirinya, ditinggal ayahnya pergi untuk selamanya. Baru sepekan yang lalu.

Ah, diri ini tak kuasa menahan haru, ketika menyaksikan, dua anak ingusan, kakak beradik, di usia yang sedemikian pagi, baru menginjak usia 5 tahunan, atau kurang, harus rela ditinggal oleh ayahnya, sedih. Sangat sedih. Bahkan saya yang alhamdulillah masih dikaruniai orang tua lengkap pun, merasa ikut sedih. Tapi anak itu tetap kelihatan tersenyum. Senyumnya manis, menyiratkan rasa optimisme yang bersamanya.

Sore itu, mungkin menjadi satu sore yang terkenang buat saya. Adalah agenda buka bersama anak yatim, yang sebenarnya sudah digagas beberapa waktu yang lalu oleh teman2 geng komplex, baru terlaksana kemarin sore, Senin (24 Ramadhan). Dan kebetulan sekaligus dirangkaikan dengan tasyakuran kontrakannya Yuyun dan sisus. Dan walapun tidak jadi berbuka dengan anak – anak yatim Rijalul Quran, akhirnya sore itu tetap bis aberbuka bareng, dengan anak – anak yatim dari Kelurahan Sukorejo, binaan dari Yatim mandiri. Bagi saya tak masalah, asalkan tetap buka dengan mereka. Berbagi keceriaan dengan mereka itu rasanya menjadi kebahagiaan tersendiri buat saya.

nyamm

nyamm

Kurang lebih 15 anak yatim dengan bermacam usia alhamdulillah bisa datang dan berbagi buka bersama dengan si pemilik kontrakan, yuyun, sus (tidak hadir), mas Tri, Ipung, saya, dan temen2 kampus lainnya. Acara yang cukup sederhana, mungkin bagi temen2 sebaya kami yang masih dikaruniai rezeki berlebih, akan tetapi bagi anak2 tersebut, mungkin hari itu adalah hari yang spesial, menikmati kurma, kolak, nasi kotak, dan sarung lebaran, adalah hal yang mungkin jarang mereka dapatkan.

Dan alhamdulillah, senja itu, senyum mereka merekah, senyum kebahagiaan terpancar dari mata – mata sayu mereka, yang semula sedih karena ditinggal sang terkasih, semoga dengan sedikit makanan itu, mengembalikan kepercayaan diri mereka. Para anak  – anak yang luar biasa. Syahdunya sore itu. Dirumah nomor 64 Green village, mungkin mereka akan terkesan dengan sore itu.

Begitu juga kami. Bahagia rasanya bisa menikmati syahdu bersama mereka.

Bahagia rasanya bisa membelikan es kolak dadakan yang mungkin akan sejenak melupakan dahaga kasih sayang mereka, anak – anak yang lucu – lucu itu.

Suatu senja yang tak mungkin terlupa.

Ah, indahnya sore itu.

 

 

 

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s