The Dark Night Rises : Pahlawan itu telah pergi dan (akan) kembali


Setelah beberapa hari menunggu untuk menyaksikan film superhero favorit saya tayang, akhirnya beberapa waktu lalu bisa menyaksikan film yang merupakan akhir dari kisah The Dark Night ini. Dan mungkin ada juga beberapa pembelajaran yang bisa diambil dari film “The Dark Night Rises” garapan Cristopher Nolan ini. Tetapi sebelum menyampaikan beberapa hikmah dan pembelajaran, terlebih dahulu ingin saya sampaikan resensi film terakhir serial Batman ini.

Kota Ghotam, setelah 8 tahun yang lalu memanas akibat ulah Joker dan harvey Dent, terlihat damai, dimana para penduduknya dapat menjalankan aktivitas masing – masing. Namun kedamaian itu masih menyisakan intrik politisasi kematian harvey Dent. Batman, dituduh pihak yang paling bertanggungjawab atas kematian Harvey Dent yang dianggap penduduk kota adalah pahlawan Gotham.

Wayne and Alfred

Wayne and Alfred

Batman mengorbankan segalanya yang menurut ia dan Komisaris Gordon untuk kebaikan. Untuk sementara, kebohongan itu bekerja dan kegiatan kriminal di Gotham City bisa ditekan oleh anti kekerasan Act Dent. Karena Batman dianggap paling bertanggungjawab atas kematian Harvey, Batman terus diburu oleh Departemen kepolisian Kota Ghotam, padahal sebenarnya kejadiannya tidak seperti ini, dan salah satu komisaris, komisaris Gordon dipaksa untuk memberikan keterangan palsu seputar kasus Harvey Dent ini. Sampai cerita ini dimulai, Batman masih dinyatakan hilang dari Gotham.

Sementara Sang Batman sendiri, yaitu Bruce Wayne, juga tengah dirundung permasalahan internal yang membuatnya bersembunyi dan mengurung dirumah pribadinya bersama Alfred, pelayan setia keluarga Wayne. Selama 8 tahun Wayne terus mengurung diri, dan bahkan cambangnya sudah tumbuh lebat dan berjalan pincang. Selain karena politisasi kasus Harvey, hal yang membuat Wayne galau adalah kematian Rachel, kekasih hatinya yang 8 tahun lalu meninggal saat Joker membuat ulah.

Sebenarnya, ada sosok yang justru terlihat senang dengan tidak munculnya Batman sebagai suerhero Gotham, dan justru lebih senang Batman adalah Bruce Wayne, sang CEO perusahaan Wayne. Namanya Alfred, pelayan setia keluarga Wayne. Ia sangat tidak ingin bruce Wayne menjadi Batman lagi dan ingin melihat Bruce sebagai orang biasa. Film ini juga menampilkan pertarungan batin dalam diri Batman. Hubungan antara Bruce Wayne dengan pelayannya yang setia, Alfred pun sangat menyentuh. Terutama ketika Alfred menyatakan ke pada Bruce dirinya akan berhenti melayani Bruce.

“Saya tidak akan mengubur anda. Saya sudah cukup mengubur anggota keluarga Wayne,” Kata Alfred dalam salah satu adegan. Sedikit informasi bahwa Alfred adalah pelayan setia keluarga Wayne sejak ayahnya Bruce ada, dan berlanjut dengan kesetiaannya merawat Bruce Wayne kecil sampai dewasa saat ini.

Catwoman

Catwoman

Inilah salah satu adegan konflik batin yang terjadi dalam diri Batman, sebab setelah kehilangan Rachel, ia harus terancam kehilangan pelayan setianya karena sikapnya yang ingin kembali mengenakan kostum Batman. Namun Bruce memilih untuk kembali beraksi di Gotham dengan baju Batmannya, dan pada akhirnya Alfred pergi dari rumah yang misterius tersebut.

Hingga pada suatu ketika, terjadi satu peristiwa yang membuat Batman keluar dari persembunyiannya. Dimana peristiwa itu adalah pencurian kalung dan sidik jari oleh perempuan bernama Selyna Kelly, si kucing malam. Tetapi pada ending ceritanya, bukan si kucing ini yang menjadi tokoh antagonis, akan tetapi Bane dan yang tak kalah mengejutkan lagi, tokoh antagonis yang saya kira semula adalah tokoh pendukung adalah Miranda Tate.

Biar bagaimanapun, yang lebih berbahaya adalah kemunculan Bane, seorang teroris bertopeng, memiliki rencana menghancurkan

Bane

Bane

kota Gotham. Memaksa Bruce harus keluar dari pengasingannya. Bahkan jika ia memakai topeng dan jubahnya lagi, Batman mungkin bukan lawan Bane. Dan film ini menyajikan dramatisnya akhir hidup Batman, sang legenda tersebut. Dan mungkin film ini paling suram dan paling putus asa dibanding film superhero yang pernah dibuat. Menggunakan penjahat yang sepenuhnya menakutkan untuk mendominasi kerentanan fisik dari pahlawan kita yang terkadang lupa, bahwa ia juga seorang manusia. Dan itu menggarisbawahi suasana hitam dan kegelapan yang selalu berkerumun di sekitar jiwa miliarder Bruce Wayne dan untuk melawan kejahatan.

Kenapa saya katakan film yang putus asa dan suram, serta akhir dramatis bagi Batman? Karena pada film ini begitu banyak konflik batin dan lahir yang menyayat seorang Bruce Wayne. Diawal cerita dia masih teringat seorang rachel, kemudian kasus Dent yang membuatnya dicap buron oleh polisi, dicurinya kalung berlian, perginya Alfred. Bertubi – tubinya kasus dan masalah yang mendera sang Pahlawan ini masih ditambah dengan kasus yang lebih feneomenal lagi.

Perusahaan Wayne yang dipimpinnya bangkrtu dan membuat Wayne harus menjadi orang biasa, tak lagi milyarder, dan dia lebih memilih untuk menitipkan perusahaan itu kepada orang yang dicintainya sepeninggal rachel, Miranda Tate, termasuk salah satunya reaktor nuklir yang dibuatnya. Lebih parah lagi, Batman akhirnya kalah bertarung dengan Bane dan akhirnya dibuang ke Penjara bawah tanah, yang tidak semua orang mampu naik dari penjara tersebut, kecuali seroang anak.

Batman-Vs-Bane-in-The-Dark-Knight-Rises

Batman-Vs-Bane-in-The-Dark-Knight-Rises

Wayne dipenjara dengan kondisi tak berdaya, ditambah sepak terjang Bane yang berambisi bukan hanya membunuh Wayne, tetapi menghancurkan Gotham dengan segala kekuatannya, menambah daftar masalah yang semakin membuat Wayne sadar, bahwa pahlawan sejati tak bisa hanya hidup dari kemewahan. Kalau Bane saja yang pada akhirnya menindas dilahirkan dalam kondisi yang sangat sederhana dan penuh penderitaan, seorang pahlawan sejati harus hadir ditengah penindasan, ditengah keterasingan, ditengah keterbatasan, dan ditengah ketidak berdayaan.

Bane yang semakin menjadi – jadi dengan segala cara ia hancurkan Gotham dengan segala kekuatannya, mengadu domba masyarakatnya, membuat konsep pengadilan yang sangat jauh dari nilai keadilan, yang vonisnya Cuma dua, dibuang, atau mati. Karakter Bane sendiri digambarkan sangat menakutkan dengan badan besar berotot ditambah dengan topeng yang mampu mengitimidasi karakter lain di film.  Bane membuat ulah dengan mengurung sekitar 3000 polisi gotham di terowongan, dan yang semakin ruwet adalah ketika bane meledakkan hampir semua titik sentral Gotham, puncaknya adalah ketika Gotham akan meledak dengan reaktor nuklir milik Wayne Corp yang dirubah menjadi senjata pemusnah massal. Gotham dibawah diktator Bane telah menjadi kota yang kelam.

Gotham akan meledak, gotham akan hilang. Beberapa pejabat kepolisian yang bersikap pragmatis mulai putus asa, lebih memilih mengurung diri dirumah daripada membantu menyelesaikan permasalahan. Dan Wayne dari penjara bawah tanah mengamati itu semua, merasa hampir putus asa. Pada akhirnya berkat motivasi dan dukungan dari para penghuni penjara lainnya, Wayne berhasil lolos dari penjara tersebut setelah menghilangkan ketakutannya, dengan tidak memakai tali apapun, persis dengan apa yang dilakukan sang anak sebelumnya.

Inilah ending film yang tak henti menyajikan kejutan – kejutannya. Cristopher Nolan sukses membuat saya dan para pecandu Batman di dunia memainkan emosinya, dibolak – balikkan adrenalinnya. Adalah ketika pada akhirnya Batman berhasil mengalahkan Bane, sembari memburu wakttu menghentikan pemicu nuklirnya, disinilah muncul adegan tak terduga, bahwa sebenarnya musuh yang akan menghancurkan Gotham adalah Merinda Tate. Saya pun terkejut, begitu pula dengan Batman, Lucius Fox, dan Komisaris gordon.

 Merinda Tate ternyata adalah anak yang bangkit dari penjara itu, lalu berencana menghancurkan Gotham, dan memainkan Bane

Miranda tate

Miranda tate

sebagai temannya. Batman tak habis pikir, perempuan yang digadang – gadang akan menggantikan posisi rachel itu ternyata adalah seorang penjahat keji yang begitu kejamnya memainkan perasaan batman.

Inilah endingnya. Rasa haru, cemas, dan lega bercampur menjadi satu. Betapa tidak, sang legenda itu merelakan hidupnya demi menyelamatkan Gotham. Dia membawa jauh ke teluk reaktor nuklir yang sebentar lagi akan meledak itu agar tidak mengenai masyarakat Gotham.

Batman memang sudah tiada, tetapi namanya menyejarah dan terpahat kokoh dengan patungnya sebagai lambang kesejarahan Gotham dengan jiwa kepahlawanan yang dimilikinya.

Begitulah, The Dark Night Rises, sang legenda memang telah tiada, tetapi Batman seolah membuktikan bahwa orang yang berani mengambil jalan kepahlawanan, hidupnya akan selalu diiringi batu terjal, bahkan rasa cintanya harus tergadaikan karena jiwa kepahlawanan selalu memilih untuk memberikan rasa cintanya kepada orang banyak. Begitu juga Batman, yang seumur hidupnya belum pernah manis mencicipi indahnya cinta, dengan Rachel, berakhir tragis, dan dengan tate, juga berakhir sama.

Para pahlawan tersebut tidak banyak, dan dia dilahirkan dalam keterasingan, dalam kesunyian, dalam penderitaan. Tetapi dengan kondisi tersebut dia kokoh, dia kuat, dan pada akhirnya dia menorehkan nama yang tak pernah lekang oleh waktu.

Akan tetapi, setalah matinya jasad pahlwan itu, akan selalu muncul pahlwan – pahlawan baru yang siap membuat dunia menuju kedamaiannya. Dan disana sudah menunggu John Blake. Kita tunggu saja gebrakan Cristopher Nolan selanjutnya. Selamat menonton.

 

 

 

2 thoughts on “The Dark Night Rises : Pahlawan itu telah pergi dan (akan) kembali

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s