Memahami KAMMI, mengerti PKS


Tadi pagi (17/07), kebetulan saya ikut aksi tarhib Ramadhan KAMMI Semarang yang jadwalnya adalah bagi – bagi jadwal imsakiyah ke anggota DPRD Kota dan pejabat Pemkot Semarang. Ada satu peristiwa menarik pagi itu, ketika sedang asyik berjalan dan membagi – bagikan jadwal imsakiyah, tiba – tiba dicegat oleh seseorang, yang saya kira dia adalah salah satu pejabat pemkot, tiba – tiba nyeletuk ke saya “Mas KAMMI, mau ketemu sama dewan PKS ya?”, kata dia, yang sudah agak ubanan sih. Lalu saya jawab,” enggak pak, ini mau bagi – bagi jadwal imsakiyah aja ke semua yang disini”, dia nyeletuk lagi ”hemm, KAMMI itu, pasti selalu anaknya PKS ya”, lanjut dia sambil nepuk – nepuk pundak saya. Hanya saya balas dengan senyuman saja kata – kata orang tersebut.

Contoh kasus yang saya alami tersebut sudah tentu menggambarkan paradigma masyarakat terhadap KAMMI dan PKS. KAMMI dan PKS sudah diibaratkan bapak dan anak, memiliki hubungan yang erat sekali. Akan tetapi ada hal yang mungkin perlu untuk dijadikan bahan perenungan bersama, yang akhirnya disela – sela kesibukan saya lembur sesuatu malam ini, saya mencoba menuliskan satu artikel tentang keduanya, PKS dan KAMMI. Yang oleh teman – teman di grup Pengurus KAMMI se-indonesia sering dijadikan bahan diskusi.

Kebetulan juga saya nemu artikel yang pas yang dituliskan oleh gurunda gerakan, mas Andriyana, yang tulisannya sebagian besar mempengaruhi tulisan saya di malam ini.

Begini, sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bahwa KAMMI dan PKS memiliki latar histori yang sama, bahkan satu induk, yaitu induk dakwah. Akan tetapi ternyata kadang, dengan kondisi tersebut membuat sebagian kader KAMMI merasa tidak percaya diri ketika sering di identikan dengan PKS. Ketidak percayaan diri ini di sebabkan mereka gagal memahami secara utuh akan relasi PKS dan KAMMI. Ada sebagian kader KAMMI yang berdiri pada opsisi ekstrim terhadap PKS, menganggap KAMMI harus Oposisi dengan PKS. Bahkan ada juga yang sempat mempertanyakan dan bahkan membenturkan agenda halaqoh dengan agenda KAMMI. Intinya bagi kader dengan tipikal seperti ini adalah, pokoknya asal jangan PKS. Independensi yang di pahami adalah asal jangan di dentikan dengan PKS. Untuk orang atau kader yang demikian saya kategorikan adalah sebagai kader KAMMI ‘kiri’.

Untuk tipikal yang kedua saya namakan KAMMI ‘kanan’. Tipikal ini identik begitu mem-PKS-kan KAMMI. Bahwa KAMMI ya PKS. KAMMI itu ya underbownya PKS. Harus manut sama agenda – agenda PKS. Setiap hal yang ada hubungan dengan KAMMI, selalu diidentikkan dengan PKS. Bahkan saking ‘kanannya’, baju PKS kadang dipakai saat agenda KAMMI. Seakan – akan KAMMI itu tidak memiliki nilai ketika dibenturkan dengan PKS. Padahal kita sama – sama tahu, KAMMI punya filosofi gerakan sendiri, PKS juga punya platform sendiri.

Atau ada juga beberapa kader yang tidak ambil pusing dengan bagaimana relasi PKS dan KAMMI berjalan saja organisasi sambil menyimpan banyak pertanyaan. Akan tetapi diamnya tipikal ketiga ini, saya katakan dia gagal memahami mana perintah murobbi mana perintah oraganisasi. Gagal memahami peran, kapan sebagai kader partai kapan sebagai aktivis organisasi. Untuk tipikal ketiga ini saya namakan kader ‘setengah’.

Sebenarnya, kalau kita sangat memahami hubungan PKS dengan KAMMI, hal tersebut ada  pada kader PKS yang ada di organisasi KAMMI. Hubungannya bukan terletak pada antar lembaga, antara PKS dan KAMMI. Akan tetapi letaknya ada pada kader PKS yang berada d organisasi pergerakan bernama KAMMI.

Dimata publik, KAMMI sangat identik dengan PKS, karena banyak kader KAMMI adalah kader PKS. Coba kalau kemudian di KAMMI itu kebanyakan Kader PAN, PKB, atau PDIP, pasti KAMMI identik dengan PAN, PKB, atau PDIP-nya. Artinya yang perlu diluruskan kembali adalah KAMMI bukan lembaga underbow PKS, sebab secara kostitusi, tidak ada relasi antara lembaga yang cukup jelas antara KAMMI dan PKS, kesamaan ideologi sih iya, tetapi secara keorganisasian, KAMMi berbeda dengan PKS. Yang ada hanyalah hubungan PKS dengan kader – kadernya yang ada di KAMMI. Sehingga apabila PKS punya kepentingan di KAMMI maka dia menggunakan kadernya, dan tentu kepentingan PKS itu seharusnya bisa di bahasakan dengan bahasa KAMMI yang notabene adalah lembaga publik. Bahasa yang digunakan adalah bahasa gerakan. Logika seperti ini yang kadang  pahami oleh sebagian besar kader KAMMI tipikal pertama.

Ketika kita dihadapkan sebagai kader KAMMI, dan  mengkritisi kebijakan publik dalam konteks sebagai institusi publik, dan anda sebagai kader KAMMI yang juga merupakan kader lembaga publik, maka logikanya adalah logika publik. Jangan karena misalnya ada pejabat dari PKS maka tidak mengkritisi dan mengingatkannya atau tidak jadi mendemo karena dia ustadznya PKS. Ketika para ustadz PKS itu menjadi pejabat publik,  mereka sudah menjadi milik publik, dan bukan lagi hanya milik PKS, sehingga apabila mereka dalam menjalankan amanah publiknya ada ketidakberesan didalamnya, maka sebagai gerakan yang berpedoman kepada politik nilai, berpijak kepada kebenaran, maka sudah menjadi kewajiban bagi KAMMI sebagai gerakan untuk mengkritisinya.

Gurunda gerakan Mas Andriyana sudah menuliskan dalam catatannya, bahwa KAMMI sebagai konstitusi, tidak pernah menjadi underbow partai manapun, itu independensi yang cukup jelas dalam konstitusi KAMMI, seperti tercatat dalam salah satu paradigma KAMMI. Akan tetapi yang perlu dipahami juga, KAMMI secara lembaga tidak melarang kadernya untuk aktif dan menjadi bagian dari salah satu partai politik. Tidak ada lembaga atau organisasi manapun yang itu lembaga publik yang tidak syarat akan kepentingan, begitupun di KAMMI. Akan tetapi kepentingan apa pun dan darimana pun harus senantiasa di bahasakan dengan bahasa gerakan KAMMI. Karena sekali lagi, gerakan ini adalah gerakan yang berpedoman kepada politik nilai. Ketika itu dianggap benar oleh gerakan, akan diperjuangkan, ketika itu salah, wajib dikritisi, tak peduli dari afiliasi politik manapun.

Satu lagi yang kemudian perlu kita fahami bersama, dalam memahami posisi antara KAMMI dan PKS. Bahwa yang pelu kita lakukan saat ini, dalam memahami posisi kita sebagai kader dalam tubuh gerakan bernama KAMMI, adalah bersikap arif dan bijak. Arif dan bijak yang saya maksud adalah berada pada posisi tengah, tidak terlalu kanan, dan juga tidak terlalu kiri. Tidak terlalu memposisikan, seakan – akan KAMM tak memiliki hubungan apapun dengan PKS, sehingga KAMMI dan kader – kadernya tegas bersikap menjadi oposisi permanen bagi PKS. Kalau kondisi seperti ini bisa dibilang dengan pepatah kacang lupa kulitnya.

Atau kondisi lain, kita terlalu kanan, terlalu memposisikan bahwa KAMMI harus selalu mem-PKS-kan diri. Ini sebenarnya juga bahaya kalau kita memiliki pemahaman seperti ini. Padahal KAMMI punya filosofi gerakan sendiri, PKS punya Platform sendiri. Yang kita perlukan adalah bersikap arif, berada ditengah, memposisikan bahwa KAMMI dan PKS sama – sama memiliki nilai, sama – sama menjadi wasilah perjuangan dan dakwah Islam. Proporsional dalam sikap kita, sebagai gerakan, juga sebagai kader Dakwah yang berada di PKS.

Kalau dikomparasikan dengan model manusia muslim Ustadz Anis Matta, positioning kita adalah dalam level ketiga, yaitu level kontribusi. Peran kita adalah peran kontributor. Seorang kontributor adalah mereka yang memiliki kapasitas dan kapabilitas kepemimpinan. Sarana dan wasilah hanya penghias dan pemacu mentalitas kepemimpinan kita. karena pesona pemimpin itu akan nampak dari jiwanya. Sarana dan wasilah apapun, entah itu sebagai kader PKS di KAMMI, itu hanya sebagai sarana untuk menggapai pesona kepemimpinan kita menjadi lebih cepat.

Pesona kepemimpinan yang saya maksud adalah tentang kapasitas ketaqwaan, intelektualitas, dan juga jaringan yang dimiliki oleh personal tersebut. PKS dan KAMMI adalah sarana belajar untuk mempercepat akselerasi kemampuan kepemimpinan. Agar bangsa ini kedepan memiliki stok pemimpin yang banyak. Pesona kepemimpinan yang saya maksud juga adalh tentang mentalitas negarawan. Positioning yang kita bangun adalah dengan menjadikan diri kita adalah solusi bagi semua, rahmat bagi semua. Yang pada intinya, kita mau belajar dan memahami dengan utuh semuanya, dalam kerangka berdakwah di jalan Allah.

Wallahu’alam bi showab.

Dwi Purnawan | Kadep Humas KAMMI Semarang | Instruktur Olahraga DPD PKS Kota Semarang

Referensi

Catatan Adriyana El Qassam

Dilema PKS, Burhanudin Muhtadi

8 Mata Air kecemerlangan, Anis Matta

4 thoughts on “Memahami KAMMI, mengerti PKS

  1. aslkm ana pikir dengan tulisan seperti ini, tetap menyatakan kesamaan KAMMI n PKS yg tidak langsung menyebutkan peran KAMMI yang lebih sering di bawah PKS.

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s