Wonosobo dan rumah yang ngangeni


Wonosobo, sepertinya menjadi satu fenomena tersendiri bagi saya, terutama karena pemandangan dan suhu udaranya yang dahsyat. Pemandangannya yang elok berada diantara dua gunung yang mengapit kota, yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing menambah keelokan view daerah ini. Selain itu, sensasi Wonosobo ditambah dengan suhunya yang dingin banget, hampir sama dengan suhu di rumah saya Pacitan.

Kalau diibaratkan, dengan kondisi yang demikian, Wonosobo adalah Swiss nya Indonesia, karena seanjang perjalanan, terutama di

Rumah keren

Rumah keren

wilayah Kledung, kita akan diajak untuk menyegarkan mata kita dengan suguhan hamparan hijaunya pemandangan daerah ini, mulai dari dua gunung yang mengapit, perkampungan di lereng gunung, tanaman tembakau milik warga yang turut menghiasai keelokan Wonosobo, serta jalanan yang berkelok, menambah indahnya pemandangan daerah sini.

Saya sendiri sebenarnya sering melewati daerah sini, terutama kalau ada job nyetir ke wilayah Wonosobo, Kebumen, Banjarnegara, banyumas, ataupun Cilacap. Namun, rabu kemarin menjadi satu kenangan tersendiri saat menikmati pemandangan Wonosobo dengan segala keelokan alamnya yang nature, alami, penuh dengan simfoni alam yang indah.

Saya kesini sebenarnya hanya menemani teman akrab saya yang tidak usah saya sebutkan disini kalau namanya itu Yuniar Kustanto, hanya sebut inisial saja kalau inisialnya adalah YK. Menemani teman saya yang tidak usah saya sebutkan disini kalau YK itu tergabung dengan kelompok keras geng anak Kompleks. Akan tetapi walaupun Cuma satu hari satu malam ke Wonosobo, ada satu hal menarik yang perlu saya ceritakan disini. Berbagi dengan teman – teman sekalian.

Rumah berbunga

Rumah berbunga

Saya juga tidak akan bercerita tentang Wonosobo, hanya saya tertarik untuk menceritakan sebuah rumah yang berada di sini, yaitu tepatnya di Jambusari. Kretek, Wonosobo. Rumah yang simpel, tapi memiliki kesan yang luar biasa bagi saya. Sebuah konsep rumah dengan desain cerdas bagi saya.

Berada di tengah sawah, walaupun dekat dengan kota, rumah tersebut nampak natural, penataannya sederhana, namun bersih. Rumah yang berada di pematang sawah tersebut makin berawarna karena dikelilingi oleh bunga – bunga yang warna – warni, merah, kuning, putih, biru, nila, dan sebagianya. Yang bagi saya hal itu menandakan kemerdekaan dan cerahnya hati para penghuninya.

Rumahnya bersih, menawan dipandang, dan yang terpenting bagi saya adalah, walau berada di tengah kampung, akan tetapi akses informasi tetap ada. Internet dengan akses speedy dan modem, serta komunikasi terhubung dengan baik, yang menandakan para penghuninya adalah dari kalangan intelektual akdemis dan terdidik.

Desain interiornya juga sederhana, tapi terkesan elegan, perpaduan antara kesahajaan, kealamian, dan intelektualitas berbaur menjadi satu. Hal yang paling membuat saya terkesan dengan rumah ini adalah tulisan – tulisan penyemangat yang sengaja kayaknya ditulis oleh penghuninya untuk menyemangati diri dan saling berbagi nasihat positif dengan yang lainnya. Tulisan – tulisan itu sengaja ditulis acak ditembok kamar, dan ketika saya membacanya, spontan saya menyimpulkan bahwa para penghuni disini adalah tipikal para pemimpi yang visioner, orang – orang yang egaliter, terbuka, dan apa adanya.

Selain itu yang membuat saya terkagum adalah konsep pemanfaatan rumah dikomparasikan dengan lingkungan. Artinya

Kolam Ikan ditengah rumah

Kolam Ikan ditengah rumah

memanfaatkan aliran air yang terbuang, karena kondisi rumah yang berada di tengah sawah, untuk keperluan yang bermanfaat, yaitu membuat kolam ikan. Berbagai macam dan jenis ikan dapat dilihat dan disaksikan disini. Kolamnya berada di bawah rumah, kata pemiliknya yang pas kesana saya wawancarai dengan metode wawancara tak langsung, bagian dapur, bagian ruang makan, dan kamar mandi berada diatas kolam ikan yang airnya mengalir terus tanpa perlu mengganti manual. Untuk konsep ini saya mesti bilang ‘wow’, karena ini konsep yang cerdas, perlu dan penting untuk dicontoh bagi orang yang tetap ingin berharmoni dengan alam.

Rumah yang nuansanya sebenarnya sangat cocok untuk aktivitas menulis, sayang pas disitu saya hanya merampungkan satu tulisan saja karena ngantuk. Bagi saya yang walaupun di rumah tersebut sering tidur akibat cuaca yang dinginnya menusuk tulang, keberadaan rumah itu bukan sekedar menjadi tempat tinggal bagi manusia. Akan tetapi rumah itu adalah contoh dari harmoni dan sinergi antara tiga makhluk sekaligus, manusia, hewan, dan tumbuhan. Sebuah rumah yang bagi saya luar biasa. Kapan – kapan pengen main kesitu lagi.

Dan dalam hati kecil, kedepan pengen buat rumah semacam itu. Rumah yang ngangeni, di Wonosobo. Wonosobo yang asri, sejuk. Pulangnya sempat mengambil beberapa gambar yang menjadi kenangan tersendiri. Yang tak terlupakan. Di Wonosobo.

Ditulis oleh Dwi Purnawan | alias Panji Anom Kaliwinong | Penulis adalah jurnalis magang di Majalah Lifestyle | Penulis buku ‘Pacitan, The Heaven Of Indonesia’ | Pegiat Humas Gerakan

Ini narasumber wawancara sekaligus yang punya Rumah

Ini narasumber wawancara sekaligus yang punya Rumah

Foto bareng anak2 Wonosobo di Kledung

Foto bareng anak2 Wonosobo di Kledung

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s