Wedang Ronde, minuman rakyat, warisan Indonesia


Ada satu lagi warisan asli Indonesia yang tak bisa kita pandang remeh fungsi dan nilai yang terkandung didalamnya. Walaupun sederhana, hanya berupa minuman sederhana yang terbuat dari bahan sederhana, warisan satu ini penting untuk segera dipatenkan sebagai warisan nasional, walaupun kecil, walaupun sekedar minuman.

Adalah wedang ronde, minuman yang bagi saya cukup ngangeni, terutama ketika malam – malam hari, dan sedang berada dalam kondisi kedinginan, pengen sekali menyantap mangkuk – mangkuk ronde itu, untuk menghangatkan tenggorakan.

Wedang ronde ini sebenarnya adalah minuman tradisional asli dari Jawa selain jamu dan dawet. Kata ronde adalah adonan khusus yang terdiri dari campuran tepung beras dan gula merah berbentuk bulatan-bulatan dan dibagian dalamnya berisi kacang yang dihancurkan. Untuk membentuk Wedang Ronde, adonan ronde ini dicelupkan ke dalam air jahe yang masih panas. Wedang Ronde biasanya disajikan dalam mangkuk kecil berukuran kurang lebih 250-500 ml. Wedang Ronde sangat cocok di konsumsi saat cuaca dingin atau musim penghujan.

Bahan – bahan pembuat wedang ronde adalah biasanya ronde sebagai bahan inti, terbuat dari tepung beras yang dibuat bulat – bulat, kemudian dicampur dengan kolang – kaling, campurann kacang, roti, dan disedungd engan air jahe plus gula. Bagi saya sendiri yang paling menyenangkan adalah saat menyantap ronde-nya, karena selain kenyal, juga manis, ini yang membuat saya suka sama wedang ronde.

Katanya beberapa orang sih, dengan mengkonsumsi Wedang Ronde, sekujur badan, terutama tenggorokan, dada dan perut terasa sangat hangat. Selain itu, wedang ronde juga sangat begus untuk kesehatan dan meningkatkan stamina. Dan memang benar adanya, setelah minum wedang ronde, badan saya terasa hangat dan siap untuk melanjutkan aktivitas lainnya.

Saya sendiri ketika berada di tempat – tempat di kota besar di Jawa, selalu ingin menikmati ronde ini. Dan tercatat beberapa kali saya menikmati ronde di alun – alun berbagai kota di Jawa. Di Pacitan jelas pernah, karena memang asal saya dari Pacitan, kemudian pernah juga saat nyetir ke Purwokerto, tepatnya di alun – alun purwokerto, terus juga pernah di Jogja, Semarang, dan yang terakhir di alun – alun Temanggung.

Ronde, kuliner asli Indonesia, sepertinya pemerintah perlu memantenkannya menjadi budaya nasional.

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s