Karisma, membersamainya, mencipta harmoni cinta


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Karisma, begitu namanya, kependekan dari Kerohanian Islam Mahasiswa. Sebuah rohis di fakultas kami, yang memberikan satu kenangan tersendiri dalam sejarah hidup saya. Yang jelas, bersama mereka, para ikhwah pejuang kebaikan, kami diperstukan disini. Di organisasi ini. Karisma namanya. Hanya sebuah rohis fakultas memang, tetapi hal itu sudah cukup membuat hati ini terpaut, tertawan, oleh rasa cinta yang mendalam, terhadap dakwah ini, bersama tarbiyah ini.

Pertama kali dipertemukan dengan Karisma, saat saya menjadi panitia agenda Bedah Buku “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim” karya Ustadz Salim A Fillah. Mendengarkan beliau memberikan tausiyahnya, hari itu membuat saya hanya menjadi semakin yakin saja bahwa jalan ini adalah jalan tepat yang saya pilih, membersamai dakwah, bersama orang – orang terbaik yang pernah hadir dalam hidup saya. Kemudian setelah itu, kebersamaan saya dengan Karisma ibarat pengantin baru, tak mau dipisahkan satu sama lain. Tercatat diawal – awal, saya diamanahi menjadi Ketua Departemen Dana dan usaha, kemudian berturut tahun berikutnya ada diamanahi sebagai staff syiar koordinator bidang media. Dan tentu hal yang paling berkesan sepanjang sejarah saya membersamai Karisma adalah ketika diamanahi menjadi Ketua Umum tahun 2009.

Menjadi ketua umum Karisma, waktu itu tentu menjadi satu hal yang berat, apalagi sebelumnya saya tak pernah menjabat ketua

Saat jadi Ketua Rohis 2009

Saat jadi Ketua Rohis 2009

lembaga apapun dimanapun. Walaupun dengan berat hati, diawal – awal saya mencoba menguatkan hati untuk menerima amanah tersebut. Pelan tapi pasti, amanah sebagai ketua Rohis Karisma memberikan tarbiyah sendiri buat saya. Tantangan – tantangan didepan sudah siap menghadang, mulai bagaimana mengkreasi agar dakwah menjadi lebih menarik, tetapi disisi lain bagaimana menguatkan pembinaan kader – kadernya. Walaupun dalam perjalanannya juga tidak terlalu maksimal, banyak hal yang tersendat, pada akhirnya memang amanah menjadi ketua Karisma tersebut terus terang telah membuat saya banyak belajar tentang banyak hal. Tentang syiar yang efektif, tentang karakter masing – masing kader, yang tak bisa disamakan satu sama lain, atau tentang banyak hal lagi.

Pada intinya, amanah tersebut, sebagai Ketua Karisma telah membuat saya banyak belajar, banyak tarbiyah yang saya dapatkan dari amanah tersebut. Salah satunya adalah bahwa seorang kader dakwah harus siap saat ditunjuk menjadi apapun, kapanpun, dan dimanapun. Satu peristiwa ini mungkin membuktikan hal tersebut, saat saya terpaksa harus menjadi kultumer dan imam sholat tarawih agenda Ramadhan karena penceramah utamanya berhalangan, waktu itu kalau tidak salah Pak Uen Hertiwan, PD III FIK. Dan pada akhirnya terpaksa saya yang harus maju menggantikan beliau. Sejak itu, saya mencoba belajar dan merenungi kata – kata tersebut, bahwa setiap saat dalam kondisi apapun, seorang da’i harus siap menjalankan amanah yang dibebankan kepadanya. Sebab amanah adalah ilmu yang akan menguatkan kapasitas kita.

Satu kenangan yang tak terlupakan semasa saya menjadi ketua Karisma, atau mungkin ini adalah satu prestasi saya bersama teman – teman pengurus ketika itu, adalah ketika berhasil mengadakan Tabligh Akbar mengundang ustadz Cinta, menghadirkan pembicara sekelas beliau adalah satu kebanggaan tersendiri bagi saya dan juga teman – teman ketika itu. Apalagi kami berhasil ‘mengkondisikan’ masa yang dari mahasiswa untuk ikut bergabung dalam tabligh akbar tersebut, kalau tidak salah masanya lebih dari 200 orang. Satu agenda yang membuat saya terkenang akan hal tersebut. Agenda tersebut yang pada akhirnya juga sedikit mendekatkan hubungan saya dengan Dekan FIK, Pak Harry Pramono kembali erat. Semoga beliau hari ini tetap bersemangat dan senantiasa memiliki ghirah menebar nilai kebaikan. Amin.

Rihlah ke Air Terjun Semirang

Rihlah ke Air Terjun Semirang

Dan satu hal lagi momentum yang mengharukan dan tak mungkin saya lupakan semasa hidup saya, saat diri ini didaulat menjadi ketua Karisma, adalah kebersamaan saat rihlah pasca raker Karisma tahun saya ke Air terjun Semirang. Walaupun waktu itu yang ikut tak bisa semua, sekitar kurang lebih hanya 30-an orang, tapi tetap tak mengurangi khidmatnya agenda. Selain agenda outbond yang digarap oleh mas – mas dan mbak – mbak MPP, agenda yang menjadi menjadi satu kebahagiaan tersendiri, adalah ketika saya diminta untuk menjadi muwajjih, tepat diatas puncak air terjun, dengan view air terjun semirang yang deras. Kalau saya gambarkan suasana itu, begitu harmonis, perpaduan antara alam – alam, air terjun, dan juga kondisi pengurus yang bersemangat, membuat agenda siang itu mengharukan, mirip sekali saat ust. Rahmat Abdullah (Alm) dalam taujihnya saat rihlah bersama kader – kader tarbiyah, di film sang Murabbi.

Memang, saya sadar bahwa selama satu tahun saya menjadi ketua Karisma, banyak hal yang masih jauh dari harapan. Masih jauh dari prestasi gemilang yang diharapkan dari substansi dakwahnya. Saya sangat sadar akan hal tersebut. Dan andaikan saja, kalau misalnya ada mesin waktu, saya ingin sekali kembali ke zaman itu, saya ingin menjadi ketua Karisma lagi, saya ingin memperbaiki sisi – sisi yang belum tersentuh oleh saya dan teman – teman. Tentang kaderisasi yang tersendat, tentang pembinaan yang belum efektif. Tentang, ya tentang segalanya, tentang dakwah ini yang belum menyentuh nilai.

Tapi saya sadar kembali, bahwa dakwah ini adalah tentang kaderisasi, bahwa ada pewarisan disana, sehingga tak mungkin saya kembali kesana. Yang ada hanya sepucuk surat cinta penuh harap, untuk para pewaris Karisma, semoga mereka menjadi pewaris ulung, mampu menjadikan Karisma kembali menyejarah, mencapai titik tertinggi dalam sejarah Islam, mampu dengan seutuhnya menebar nilai kebermanfaatan bagi ummat, mampu menebarkan karismanya, kesegala penjuru negeri. Semoga.

Tentang Mushola itu…

Mushola itu, namanya Mushola Al-Hikmah. Musholanya kecil, tak besar – besar amat, hanya seukuran sekitar 5×5 m. Tapi kecilnya mushola itu sudah cukup menjadi saksi bisu, betapa waktu itu, ada sekelompok orang dengan visi mulia, dengan rasa cinta dan ukhuwah yang mereka miliki, menjadikan dakwah sebagai laku utama. Menjadikan dakwah dan tarbiyah sebagai nafas yang membuat mereka hidup, bahkan menghidupi lainnya. Mushola itu, menjadi saksi, saat mereka, para penyeru kebaikan itu, berpadu, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mencoba menggapai langit, menggapai surga, meminta keberkahan, mencoba terbang mengangkasa, mencoba menebar energi kebaikan bagi sesama.

Mushola itu, namanya Mushola Al-Hikmah, mushola kecil disamping dekanat FIK, catnya beberapa mengelupas, dan kadang juga

Mushola Al HIkma

Mushola Al HIkmah

sound systemnya kadang tak berfungsi dengan baik. Namun hal itu tak cukup menjadi penghalang bagi para aktivis dakwah itu, menyebarkan energi kebaikan ke sesama, menyiraminya, merawatnya dengan penuh cinta. yang ikhwan kalau pas saatnya Adzan ya mengadzani, dan sholat berjamaah, lalu kalau pas momentum Ramadhan tak henti – hentinya berkunjung ke dosen, meminta sumbangan untuk agenda Ramadhan. Bagi yang akhwat, dengan segala keterbatasan mereka, mencoba menghias mushola, dengan pernak – pernik cantik khas akhwat. Musholanya menjadi semarak saat Ramadhan tiba. Mushola kecil itu, tiba – tiba menjadi hidup, cerah, dan benderang saat lantunan tilawah yang merdu dari akhuna Saefudin Husni terlontar saat setelah tarawih, menghidupkan malam – malam penuh keberkahan. Oh syahdunya.

Andaikan, jika, saya pinta….

Diakhir tulisan ini, sangat manusiawi ketika saya juga memiliki rasa rindu yang mendalam akan kebersamaan bersama mereka, bersama dan merajut cinta dan memintal benang – benang ukhuwah itu, terkenang kembali.

Dan kalau boleh berandai – andai… saya hanya ingin mengatakan, saya ingin kembali ke masa itu, masa dimana aura – aura langit itu terpancar dari wajah – wajah sayu lelah seharian berdakwah.

Andaikan saja, saya kembali ke masa itu, saya ingin memperbaiki segala kekurangan, memperbaiki segala kesalahan saya, mencipta sejarah, berpadu, dalam rapatnya shaf – shaf shalat, mencoba kembali mencipta harmoni cinta, bersama mereka. Bersama Karisma.

Jika saja, waktu kembali ke masa lalu, aku ingin bersama kalian, memupuk kembali rasa cinta, merawat dan menjaga kembali nur iman, sehingga iman kembali mencahaya dihati – hati kita. bersama Karisma, bersama mereka, mencipta cinta, mencipta harmoni.

Tetapi memang, waktu tak kan pernah kembali bisa berputar seperti dulu, yang ada hanya kenangan indah yang tak terlupakan. Mungkin hanya satu pinta untuk mereka, untuk para pendahulu, untuk para pewaris masa depan, hanya sebait pinta

Jangan pernah berlelah – lelah, apapun kondisinya dalam dakwah ini, karena dakwahlah yang pada akhirnya akan menempatkan kita kepada ketinggian derajat kita, dimata manusia, dimata orang – orang beriman, dimata rasul, dan yang terpenting adalah ketinggian derajat disisi Allah Taala.

Ana ukhibhukum fillah.

Semoga istiqomah, semoga barakah, semoga khusnul khatimah.

Wallahu alam bishowwab.

Iklan

One thought on “Karisma, membersamainya, mencipta harmoni cinta

  1. Ping-balik: Grazie Unnes! « Berbagi Makna

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s