Asyiknya survei bidik misi di Pacitan


Setelah paripurna mendeskripsikan kecintaan saya kepada kota pacitan dalam bentuk buku, akhirnya dalam versi lain, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk mengenal Pacitan secara lebih mendalam, dari sisi emosional dan humanis masyarakatnya. Dan kesempatan itu datang saat pekan – pekan kemarin diakhir bulan Mei, ditawarin jadi surveyor mahasiswa baru penerima bidik misi dari Tim bidik misi Unnes, dan walaupun sempat ragu mengiyakan atau tidak, setelah berdiskusi dengan seseorang, akhirnya saya mengiyakan tawaran tersebut. Itung – itung buat nyari pengalaman dan sekaligus mendalami daerah pacitan, karena kebetulan daerah yang saya suvei adalah kampung halaman sendiri, Pacitan, The heaven of Indonesia, seperti judul buku my 1st book.

Saya kebetulan ditemani adik kelas saya di FIK, anak BEM KM untuk membantu mensurvei mereka, para mahasiswa yang berasal dari Pacitan, yang berasal dari kalangan ekonomi tak mampu, dan pada akhirnya selama tiga hari full, kami berdua mensurvei dan memverifikasi data lapangan untuk selanjutnya diserahkan ke tim bidik misi.

Survei dari rumah ke rumah, ini di daerah Ngromo Nawangan, memprihatinkan

Survei dari rumah ke rumah, ini di daerah Ngromo Nawangan, memprihatinkan

And, jadilah akhirnya, selama tiga hari itu, kamu berdua melewati eloknya pemandangan pacitan, lembahnya yang curam, jalanan yang terjal, dari gunung ke gunung menyeberang ke sungai, dan alhamdulillah, perjalanan selama tiga hari itu luar biasa. Banyak kenangan dan romantika perjalanan kami dapatkan selama survei. Tentang kesederhanaan, tentang kesungguh2an menggapai cita, tentang keseriusan dalam menimba ilmu, semuanya kami dapatkan dari mereka, para calon mahasiswa Unnes yang diterima melalui jalur bidik misi.

Hari pertama survei, kami hanya mendapatkan 5 data, yang pertama terverifikasi adalah siswa yang berada di pedalaman Kecamatan Punung, tepatnya Desa Bomo, kurang lebih sekitar 20 Km dari pusat kecamatan Punung. Yang mnearik dari survey pertama ini adalah jalannya yang curam, karena harus turun naik melewat pegunungan sewu daerah punung. Dan alhamdulillah setelah 1 jam perjalanan dari pusat kecamatan, kami menemukan tempat yang kami verifikasi.

Dan berlanjut hari itu juga, kami haru mendaki gunung di daerah kecamatan pringkuku, tepatnya Desa Tamanasri Pringkuku, yang ternyata tempat tersebut begitu memprihatinkan. Selain akses jalan yang rumit dan menyeramkan, juga rumahnya anak ini yang berada di pinggir jurang dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Hemm, kami berpendapat harusnya dia tak perlu diverifikasi, karena udah layak dapat beasiswa.

Hari kedua survey, karena sepeda motor yang saya pakai adalah sepeda motor feminim, akhirnya terpaksa saya mengganti dengan

Rumahnya sederhana, ini tempatnya Wita di Ngadirojo

Rumahnya sederhana, ini tempatnya Wita di Ngadirojo

sepeda motor gunung milik paklik saya, dengan plat merahnya, karena medan di hari kedua itu cukup dan bahkan sangat terjal, lebih sesuatu dari hari pertama survei.

Sepanjang perjalanan, kami ibarat pejabat desa yang mau mendata masyarakat miskin, karena motor yang kami pakai adalah motor berplat merah, dan memang benar, kami dikira lurah atau carik desa yang mendata desa. Hahahaha. Dan alhamdulillah hari itu kami dapat 13 data mahasiswa bidik misi dari Pacitan. Kurang 5 lagi dan memang sangat tidak mungkin untuk dilanjutkan karena medan yang terjal, dan kami harus mendaki gunung yang berbeda. Akan tetapi dihari kedua ini kami mendapati suatu kenyataan yang cukup menyentuh hati saya. Tepatnya ketika memverifikasi mahasiswa di daerah Desa Wonokarto Kecamatan Ngadirojo Pacitan.

Rumah sederhana sekali berukuran kurang lebih 8 kali 4 meter dengan dinding esbes, kemudian dapurnya yang hanya berbataskan esbes di rumah seukuran itu, belum lagi ditambah dengan akses jalanan yang sungguh curam, dan juga kondisi perekonomian anak tersebut yang ternyata hanya hidup dengan ayahnya, membuat saya begitu terenyuh melihatnya. Subhanallah. Saya hanya berharap anak ini, yang bernama wita, mampu menjadi Pacitanisti yang sukses diperantauan kelak. Menjadi tokoh besar Pacitan yang menyejarah.

Refresh sejenak di Monumen Pangsar Soedirman di Pakisbaru Nawangan

Refresh sejenak di Monumen Pangsar Soedirman di Pakisbaru Nawangan

Hari ketiga sebagai hari penghabisan, kami menghabiskan waktu dengan agenda menghabiskan verifikasi, dan juga sekaligus refreshing menikmati pesona alam pacitan. Kebetulan hari ketiga itu kami survey di kawasan pegunungan bandar Nawangan, jadi memangg tepat untuk menghirup sejuknya udara Pacitan. Setelah suvey di daerah Njeruk Bandar, kami bersepakat untuk sejenak melepas penat di monumen jenderal Soedirman di Desa Pakisbaru Nawangan. Nah, untuk satu ini, saya akan sedikit bercerita tentang kawasan wisata gratis di Pacitan yang satu ini.

Fresh.. seger..  atau bahasa kerennya adalah sejuk, itulah kesan pertama ketika berada dan menikmati pemandangan yang ada di Monumen Jenderal Soedirman yang beberapa waktu lalu sempat diisukan akan di lelang, karena semua bahan patung disini terbuat dari perak, jadi ya harganya mungkin sangat mahal, wajar kalau Malaysia sangat menginginkannya.

Disepanjang perjalanan ke arah monumen, banyak tulisan – tulisan berbau nasionalisme heroik anti primodialisme (apa ini) terpampang sebagai penambah semangat para pejuang, misalnya kata – kata tentara berjuang untuk rakyat, bukan untuk materi (kalau gak salah) sih, atau kata – kata penyebar semangat lainnya, misalnya  walaupun hanya dengan satu paru, semangat berjuang  tetap bergelora. Luar biasa.

Memasuki kawasan monumen, kita akan disuguhi beberapa relief perjuangan jenderal Soedirman, seperti rumah gerilya beliau, terus

Nggaya sithik dikawasan Monumen jenderal Soedirman

Nggaya sithik dikawasan Monumen jenderal Soedirman

sejarah perjuangan beliau, dan juga yang utama adalah patung jenderal Soedirman yang dibuat dari perak pada tahun 1993 oleh Pak Saptoto. Selain itu juga ada pelengkap lainnya seperti ada landasan helikopter, lapangan upacara berukuran raksasa, selain tentunya area latihan militer.

oiya lupa, selain wisata di Monumen Pangsar, momen survey kemarin juga menjadi agenda wisata kuliner, terutama untuk Saikudin, partner saya saat survey. Yang pertama selain setiap rumah kami disuguh teh, dan akibat seringnya minum teh di 20 rumah tersebut, saya sering ke belakang. selain teh, juga yang terpenting adalah saya bisa merasakan kembali Lotek pacitan dan Es dhawet jabung.

Lotek Pacitan adalah pecel yang berbeda dari pecel biasanya, sambalnya pedas khas lidah orang – orang pantai selatan, pun kemudian ditambah dengan lontongnya bercampur dedaunan yang menambah rasanya makin sesuatu.

Juga yang kedua adalah es dhawet Jabung yang kami nikmati pada malam kamisnya. Es dhawet jabung adalah es dhawet terenek sedunia. Seger dan menyehatkan. Pokoknya kuliner Pacitan tetap yang paling sesuatu lah.. ^_^

Setelah melepas penat di kawasan wisata sejarah tersebut kami menghabiskan data verifikasi bidik misi Unnes, tentunya dengan semangat baru doong.

Akhirnya, purna sudahlah tugas kami memverifikasi data lapangan mahasiswa penerima bidik misi dari Pacitan, yang semuanya berjumlah 23 mahasiswa. Saya lalu berkesimpulan setelah melakukan verifikasi lapangan tersebut, mungkin hal inilah yang melecut semangat para pacitanisti pendahulu untuk sukses dirantau. Kondisi daerah yang minus, ditambah dengan kondisi ekonomi yang pas – pasan, ternyata memotivasi para pendahulu, putra daerah pacitan untuk memotivasi diri sukses di negeri orang. Sehingga banyak orang sukses di Indonesia yang berasal dari Pacitan. Karena semangat mereka adalah semangat petualang dan pemimpin, serta ditambah motivasi untuk menduniakan Pacitan. Membuat Pacitan menuju puncak kesejarahannya.

Saya berharap semoga para adik – adik saya itu, yang saya verifikasi, yang berasal dari pacitan, yang saya anggap semuanya layak mendapat bidik misi, terlecut motivasinya untuk membuat Pacitan, kota kecil di ujung selatan Jawa Tmur, yang kemudian saya deskripsikan di buku saya sebagai The Heaven Of Indonesia, menjadi kota kecil yang menyejarah. Ya. Semoga. Amin.

Lotek Pacitan yang sesuatu

Lotek Pacitan yang sesuatu

2 thoughts on “Asyiknya survei bidik misi di Pacitan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s