Dia saudaraku, akhuna Shalih, Luqmanul Hakim


Malam ini (01/04), sejatinya saya merasa capek sekali, dan kondisi badan sedang anjlok, dan pikir saya ketika nyampai kontrakan ya

with luqman

with luqman

langsung tidur. Tapi ternyata, malam itu menjadi malam panjang bagi saya. Bertemu dengan saudara saya, dan diajak diskusi tentang, ya tentang hal – hal yang bersifat sensitif, terutama bagi orang seumuran saya. Tentang nikah dan jodoh. Dan subhanallah, saudara yang satu ini memang inspiring, mampu menerka dan menjelaskan tentang kondisi saya, siapa yang cocok untuk saya, sampai dengan karakter – karekter yang pas untuk saya. Dan barangkali ini memang menjadi spesialisasi beliau, tentang konsep diri. Karena kebetulan buku – buku yang beliau baca adalah tentang konsep diri, seperti 8 dan 7 habbits.

Mungkin tak banyak yang kenal dengannya, tak banyak juga yang mengetahui karakter dirinya. Karena memang dia bukan tokoh besar, dia buka motivator, trainer, atau tokoh besar lainnya. Dia hanya seorang aktivis mahasiswa, mahasiswa semester akhir pula, dan juga lebih tepatnya adalah aktivis KAMMI. Tetapi hal itu sudah membuat saya bangga dapat bertemu dengannya. Bahagia pernah bersamanya. Karena barangkali, bersama dengannya semenjak awal diri ini berada di ladang amal siyasi, dan sejak itu pula saya belajar banyak darinya, tentang visi, tentang mimpi, tentang masa depan, tentang cinta, dan cita.

Barangkali berawal dari hobinya yang gemar membacalah, pada akhirnya mengantarkan dia menjadi luas cakrawala dan cara

kenang2an semasa dikomsat

kenang2an semasa dikomsat

berfikirnya, sehingga arif dan bijak memandang segalanya, tentang hakikat kemanusiaan, tentang fungsi cinta dalam kehidupan, tentang pentingnya mimpi bagi manusia, tentang pentingnya segala sesuatu itu berawal dari memahami dalam konteks kesadaran, bukan warisan, bukan taqlid. Mungkin juga, dikarenakan hal itulah, ketika setiap saya berjumpa dan berdiskusi dengannya, bicaranya tentang masa depan, tentang mimpi yang mesti diwujudkan, tentang kepemimpinan yang harus hadir dan menjiwai dalam setiap aktivitas kita, dan tentang peradaban. Dan hal tersebut sudah membuat saya takjub, dan pada akhirnya berkata jujur pada diri ini, saya terinspirasi beliau.

Bermula perjamuan kami, adalah ketika kami berada dalam satu amanah di KAMMI Solutif Unnes 1431 H. Beliau menjadi ketua Komisariat, saya waktu itu menjadi ketua biro Humas. Sayapun tak banyak mengenal beliau, karena sebelumnya saya memang fokus nggarap ladang daawi, sedangkan beliau di siyasi. Tetapi saat momentum amanah di KAMMI Komisariat itu, kami dipersatukan dengan teman – teman yang menurut saya begitu luar biasa, konsistensi amalnya, militansinya, dan kekuatan maknawinya. Sejak itu saya mulai mengenal beliau sebagi seorang yang memiliki kearifan filosofis, memiliki cara pandang yang berbeda tentang sesuatu hal yang terjadi, tetapi semuanya berawal dari pencarian dalam koridor kesadaran sikap.

 Kenangan waktu dikomsat ketika itu, adalah ketika awal – awal pembentukan PH plus, beliau menjelaskan tentang tahap – tahap yang harus dilakukan dalam perjalanan satu tahun kepengurusan, kalau tidak salah, ada 4 tahap, tahap konsolidasi, tahap ekspansi, tahap prestasi, dan tahap pewarisan. Walaupun 4 tahap itu tidak tercapai dalam indikator pencapaian, tetapi kalau menurut saya hal itu sudah meruapakan terobosan brilian bagi konsepsi organisasi.

Komsat zaman saya

Komsat zaman saya

Pun demikian ketika membuat jargon, waktu itu kebetulan saya dirumah dan ditugasi untuk komunikasi dengan sekretaris masing – masing, sembari menyiapkan jargon. Beliau, mengusulkan kalau jargonnya sholeh kontributif bagaimana, sayapun menjawab, kayaknya terlalu ngeri. Akhirnya setelah dalam proses pencarian jargon yang tepat, saya mengusulkan ada penambahan unggul, sehingga jargonnya menjadi sholeh, unggul, kontributif. Alhamdulillah, pada akhirnya jargon solutif itulah yang dipakai sebagai landasan gerak komisariat waktu itu, dan juga kayaknya dipakai pada periode kepengurusan berikutnya.

Subhanallah, yang saya kenal dari beliau, adalah tentang visi komprehensifnya dalam tataran kesejarahan personal. Walaupun komisariat pada waktu itu masih mulai dari nol, tetapi gagasan – gagasannya telah membuat warna baru dalam perjuangan KAMMI. Walaupun jujur, waktu dikomsat kami belum banyak memberikan prestasi besar, tetapi kami telah mengerahkan segala daya untuk mencipta sejarah bersama KAMMI Unnes.

Kalau saya sendiri, yang memang orang lapangan, dan waktu itu dihadapkan pada dialektika, pada perang wacana, ya terus terang jelas kalah, dan pada akhirnya, saya bersama Ukh Fiya (Sekretaris) dan teman – teman humas yang lain berpartisipasi dengan bentuk yang kami bisa. Membuat buletin. Sederhana. Karena hanya itu yang waktu itu kami bisa.

Saya pun, karena sangat ketinggalan dalam wacana, dalam pemikiran, mencoba berbenah dengan lebih banyak membaca buku – buku pemikiran, buku – buku manhaj tugas baca, dan walaupun belum sempurna dan indibath, tetapi saya menemukan api peradaban di KAMMI. Saya sangat yakin bahwa suatu saat, pemimpin – pemimpin dan tokoh – tokoh besar nasional masa depan salah satunya berasal dari KAMMI Unnes 1431 H. Sampai sekarang saya masih optimis dan sangat yakin bahwa hal itu akan menjadi kenyataan. Dan bukankah optimisme itu adalah energi kebangkitan?

Beliau, saudara saya, yang cukup menginspirasi saya, dan detik ini saya sangat malu kepadanya, belum bisa seperti dia, masih terus dengan gagasan – gagasan visionernya, masih terus berupaya menjadi manusia efektif. Sedangkan saya, saya, ah, malu mengatakannya. Belum bisa menjadi apa – apa.

Beliau, saudara saya, yang pernah kita dipersatukan selama 6 bulan dalam lingkaran iman, dan subhanallah, ternyata hal itu semakin membuat saya merasa bersanding dengan tokoh  besar saja, semacam bersanding dengan Anis Matta, atau yang lainnya. Selama 6 bulan kurang lebih menjadi satu momentum berharga yang tak bisa dilupakan sampai kini.

Terakhir, doa saya kepada beliau, semoga beliau senantisa istiqomah dalam dakwah ini, semoga beliau tetap menjaga semangat belajar, dan terus menjadi seorang pembelajar sejati. Karena sejarah pemimpin – pemimpin besar adalah mereka yang tetap menjaga semangat belajarnya. Dan saya berharap beliau tidak membaca artikel yang saya tulis ini, agar amalnya mengalir bersama ruh keikhlasan.

Beliau yang telah menginspirasiku, dia adalah saudaraku…

Jazakallahu khair ilaa akhuna Muhammad Luqmanul Hakim.

Iklan

2 thoughts on “Dia saudaraku, akhuna Shalih, Luqmanul Hakim

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s