Kembali mencintai tembang Jawa


…umpama sliramu sekar melati

Gamelan

Gamelan

Aku kumbang nyidam sari

Umpama slirami margi wong manis

Aku sing bakal ngliwati….

Sineksen lintange wuku semono

Janji prasetyaning ati…

Sebait tembang diatas adalah tembang yang ketika saya menulis artikel ini sedang play di winamp laptop saya, yang dinyanyikan oleh Didi Kempot, sang maestro tembang Jawa kontemporer. Entah kenapa ingin sekali rasanya kembali nostalgia mendengarkan tembang – tembang jawa zaman dahulu, sehingga akhirnya sayapun ‘menyetel’ tembang nyidam sari ini. Tapi bukan berarti pemaknaan tembang ini sedang menggambarkan kondisi saya lho, jangan salah persepsi. Yang ingin saya tuliskan sebenarnya adalah tentang budaya jawa yang kembali lagi membuat saya terpesona dan semakin cinta saja dengan budaya ini, dan juga kembali semakin bersyukur bahwa saya dilahirkan sebagai seorang Jawa. Orang Jawa yang mencintai budaya Jawa, itu saja, tidak lebih.

Kalau saya cermati, selain sarat makna dalam setiap tembang Jawa yang ada, bagi orang Jawa seperti saya, keberadaan tembang Jawa seakan menjadi pelipur lara, karena didalmnya banyak mengajarkan hakikat kemanusiaan dan tanggungjawab moral yang diemban manusia sebagai pemimpin dan juga pelaku hidup. Tembang Jawa juga memiliki makna artifisial yang tidak bisa dipisahkan dari karakteristik kebudayaan Jawa, misalnya tentang budaya anggah – ungguh, budaya mikul dhuwur mendhem jero, juga berbicara tentang nasihat – nasihat yang membangun bagi generasi muda.

Tembang Jawa yang sering dilantunkan, memiliki konsep etika yang (seharusnya) dijadikan falsafah hidup orang jawa. Transformasi moral dan nilai – nilai sosial pun biasanya dilakukan para orang tua yang faham makna tembang Jawa ketika mengajarkan budi pekerti kepada anak – anaknya. Selain mereka mengajarkan maknawiyah tembang Jawa, mereka juga mengajarkan cara melantunkan tembang Jawa, seperti saya dulu juga pernah diajarkan oleh Rama saya beberapa tembang macapat.

Kalau tembang Jawa berbicara cinta pun, makna yang diambil dari tata bahasanya sangat mendalam, ya misalnya seperti sebait lagu nyidham sari yang saya lantunkan diatas. Jadi sebenarnya budaya Jawa yang dalam artikel ini lebih saya spesifikkan pembahasannya menjadi tembang Jawa, mencerminkan perilaku orang Jawa yang memiliki semangat mencintai yang tinggi, dan hal itu dibuktikan dengan beberapa bait lagu yang berbicara tentang cinta, pasti akan anda dapatkan makna tentang cinta yang luar biasa dahsyat. Tak kalah dengan bahasanya Muhammad Iqbal, penyair Muslim dari Pakistan.

Salah satu contoh tembang Macapat yang mengajarkan banyak makna kehidupan adalah sekar Gambuh. Tembang yang satu ini berisi nasihat tentang tingkah laku yang baik. Mari kita simak beberapa baitnya.

Sekar gambuh ping catur,

Kang cinatur polah kang kalantur,

Tanpa tutur katulo-tulo katali

Kadaluwarso katutur

Kapatuh pan dadi awon.

Makna bait diatas adalah berbicara tentang upaya untuk saling menasihati dalam kebaikan, mengajarkan tentang pentingnya tatakrama dan etika pergaulan dengan sesama. Selain itu tembang gambuh ini juga mengajarkan akan tanggung jawab sosial kita sebagai manusia dan perannya sebagai makhluk sosial. Menjadi kewajiban bagi manusia untuk tolabul ilmu, memberi pengarahan kepada yang tidak paham, memberi tahu kepada yang tidak tahu. Dan hal ini adalah wujud dari tanggung jawa sosial kita sebagai khalifatul ‘ard. Luar biasa, tembang Jawa ternyata pembelajaran Islamnya sangat kuat.

Itulah tembang Jawa yang memiliki makna – makna tinggi lagi kuat tentang rumus kehidupan dan bagaimana cara menjalaninya. Ini jugalah yang akhirnya membuat saya kembali jatuh hati untuk mendengarkan makna – makna yang tersirat dibalik lagu – atau tembang jawa tersebut.

Dan bagi saya sendiri, walaupun disiplin ilmu yang saya geluti ketika kuliah adalah Penjas, dan tidak ada korelasinya dengan tembang dan budaya Jawa, namun sebagai seorang yang terlahir dialam Jawa dan keluarga yang menjunjung tinggi budaya Jawa, menjadi kewajiban moral bagi saya untuk terus belajar dan memahami budaya Jawa, sebagai bentuk terimakasih saya kepada keluhuran budaya jawa.

Kembali ke topik pembahasan, sepertinya walaupun kita terlarut dalam kegembiraan akan kecintaan kita sebagai budaya jawa sebagai budaya unggul, namun kita harus arif bersikap dan menyikapi budaya Jawa. Jangan terlalu berlebihan dalam mencintai sesuatu, karena bisa jadi itu tak baik bagimu, begitu nasihat yang pernah disampaikan dalam sebuah forum. Dan bagi kecintaan kita terhadap budaya Jawa, salah satunya adalah tembang, kita juga harus bijak dalam sikap kita,

Iklan

3 thoughts on “Kembali mencintai tembang Jawa

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s