Format pemimpin ideal masa depan Indonesia [1]


Secara aplikatif kalau kita maknai visi gerakan KAMMI, adalah tentang konsepsi pembentukan lapis intelegensi baru atau para

KAMMI

KAMMI

pemimpin, dan KAMMI adalah sebagai wadah yang akan menjadikan ladang yang ‘seharusnya’ subur untuk memanen para lapis intelegensia baru yang siap menjadi pewaris sah Indonesia. Dan kalau kita cermati, sebenarnya proyek besar dari gerakan ini ada dua, yakni yang pertama adalah proyek mengembalikan dan mengawal agar negara ini tak semakin jatuh ke jurang kehancuran, yang kedua adalah proyek membangun lapis intelegensia atau para pemimpin tangguh yang akan mengembalikan bangsa ini ke puncak kesejarahan dan kejayaannya. Dua proyek inilah yang saya kira menjadi hal yang substansi untuk kita bedah dan bahas bersama. Mari.

proyek KAMMI

proyek KAMMI

Proyek besar KAMMI

Yang pertama, adalah fakta bahwa gerakan ini lahir ditengah kondisi negara yang sedang mengalami kerusakan disemua sistem, gerakan suci ini lahir ditengah kegamangan manusia akan kehancuran jiwa kemanusiaannya, lantas menjadi hal yang sangat penting bagi gerakan yang lahir dengan penuh kesadaran tanggungjawab mengembalikan nilai – nilai kemanusiaan yang terperosok ke jurang kehancuran. Menjadi satu hal yang sangat penting adanya bahwa gerakan ini mencoba membumikan nilai – nilai kebenaran ditengah sulitnya menemukan putihnya kain keadilan ditengah bangkai kemunafikan dan kezaliman manusia. Maka, sebenarnya sama saja, sejak dulu sampai saat ini, dimana gerakan ini sudah membumi, hal yang harus dilakukan adalah mencoba dana terus ikhtiar mengembalikan value, nilai kemanusiaan ketingkat tertinggi. Maka ada satu hal yang menjadi program yang mesti dilakukan gerakan ini ketika melihat kondisi kemanusiaan yang terpuruk. [2]

Humanisasi gerakan, adalah satu frasa yang cocok untuk mengeaskan istilah, kemana gerakan ini akan berkiblat, menjadikan manusia menjadi subjek yang mesti dimatangkan dulu konsepsi dan karakter kemanusiaannya. Dan berbicara masalah humanisasi gerakan,  gerakan ini sudah sangat jelas, yaitu sebagai wadah yang akan melahirkan para pemimpin masa depan Indonesia. Maka gerakan ini adalah gerakan tarbiyah, yang akan menjadikan model manusia yang menjadi obyek dari tarbiyah itu memiliki konsepsi dan tatanan yang kokoh tentang kemanusiaannya. Model manusia muslim inilah yang harus komitmen dibentuk dan menjadi karakter dan menginternalisasi kedalam jiwa para kader – kader yang membersamai gerakan ini.

Konsepsi Manusia Muslim

Ketika kita ingin mengetahui bagaimana model ideal kepemimpinan indonesia masa depan, perlu kita bagi menjadi beberapa tahapan dan rumusan kepemimpinan. Diawali dari penjabaran model manusia muslim yang ideal saat ini. Model manusia muslim, menurut ustadz Anis Matta adalah rumusan kehendak – kehendak Allah yang terjabarkan kedalam konteks kemanusiaan, dimana memiliki empat kualifikasi yaitu iman, amal shalih, dakwah dan sabar, dan direkonstruksikan menjadi tiga tahapan kehidupan, yakni afiliasi, partisipasi, dan kontribusi [3].

Afiliasi adalah tangga awal dimana seorang bergabung dan memperbaharui komitmen keislamannya, menjadikan Islam sebagai basis identitas yang membentuk paradigma, mentalitas dan karakternya. Dalam proses afiliasi ulang itu, kita memperbaharui komitmen kita dalam tiga hal. Pertama, komitmen aqidah yang menuntukan tujuan dan orientasi, atau visi dan misi kehidupan kita. Kedua komitmen ibadah kita yang menentukan pola dan jalan kehidupan, atau cara kita menjalani kehidupan. Ketiga, komitmen akhlak yang menentukan pola sikap dan perilaku dalam seluruh aspek kehidupan kita.

Partisipasi adalah tangga kedua dimana seorang muslim telah mencapai kesempurnaan pribadinya, dari mana kemudian ia melebur ke masyarakat, menyatu dan bersinergi dengan mereka, guna mendistribusikan keshalihannya. Dalam proses partisipasi itu, kita melakukan tiga hal. Pertama, komitmen untuk mendukung semua proyek kebajikan dan melawan semua proyek kerusakan ditengah masyarakat. Kedua, komitmen untuk selalu menjadi faktor pemberi atau pembawa manfaat dalam masyarakat. Ketiga, komitmen untuk selalu menjadi faktor perekat masyarakat dan pencegah disintegrasi sosial.

Kontribusi adalah tangga ketiga dimana seorang muslim yang telah terintegrasi dengan komunitas dan lingkungannya (keluarga, perusahaan, dan masyarakat) berusaha meningkatkan efisiensi dan efektifitas hidupnya. Hal ini dilakukan dengan cara menajamkan posisi dan perannya, sesuatu yang kemudian menjadi bidang spesialisasinya, agar ia lebih tepat dan sesuai dengan kompetensi intinya. Dengan cara itu, ia dapat memberikan kontribusi sebesar – besarnya, dan menyiapkan sebuah “amal unggulan” atau karya terbesar dalam hidupnya. Amal yang ia persembahkan bagi Allah, ummat, dan kemanusiaan secara umumnya, dan bagi komunitas sosial dan bisnis secara khususnya. Kntribusi itu dapat ia berikan dalam ebrbagai bidang; pemikiran, kepemimpinan, profesionalisme, finansial, dan yang lainnya.

Ketiga fase inilah yang penting dan menjadi satu asset kesejarahan personal sebagai bagian dari pembentukan konsep kepemimpinan secara individu. Dengan melewatinya, berarti seorang muslim menggabungkan tiga kekuatan sekaligus, kekuatan pribadi, kekuatan sosial, dan profesionalisme. Ia menjadi kuat secara pribadi, karena ia memilki paradigma kehidupan yang benar dan jelas, struktur mentalitas yang solid dan kuat, serta karakter yang kokoh dan tangguh. Ia menjadi kuat secara sosial, karena ia memiliki kesadaran partisipasi yang kuat, asset kebajikan yang terintegrasi dengan komunitasnya, serta karakter yang kokoh dan tangguh. Ia menjadi kuat secara sosial, karena ia memiliki kesadaran partisipasi yang kuat, asset kebajikan yang teerintegrasi dengan komunitasnya, serta menjadi faktor perekat dan membawa manfaat dalam masyarakat. Ia juga kuat secara profes, karena ia bekerja pada bidang yang menjadi kompetensi intinya. Hal ini menyebabkan ia selalu berorientasi pada amal, karya dan prestasi, serta secara konsisten melakukan perbaikan dan pertumbuhan yang berkesinambungan.

Model manusia Muslim

Model manusia Muslim

Konsepsi Muslim Negarawan

Dalam konsep kaderisasi KAMMI, ada satu kata yang menjadi karakter kader KAMMI, yaitu Muslim Negarawan. Dari definisi ini terdapat lima elemen kunci sebagai alat ukur evaluasi apakah kader KAMMI atau kebijakan-kebijakan KAMMI mencerminkan sebagai Muslim Negarawan[4]. Lima Elemen kunci dari kader Muslim Negarawan adalah:

Yang pertama, memiliki basis ideologi Islam yang mengakar, bahwa kader KAMMI berpikir dan bergerak berdasarkan ‘kehendak’ Islam. Islam sebagai titik tolak pergerakan adalah ideologi yang mewarnai pergerakan dan kebijakan KAMMI. KAMMI tidak berpikir dan bertindak dalam framework liberal atau menggunakan elemen ideologi kelompok lain. KAMMI hanya menggunakan Islam sebagai landasan dan kaidah perjuangannya. Karenanya KAMMI hanya menjalankan kehendak-kehendak Islam dalam membangun bangsa dan merekonstruksi umat. Oleh karena itu hal ini menuntut kader KAMMI untuk mempelajari Islam secara lebih intensif dan komprehensif, terutama mempelajari apa kehendak-kehendak Islam dan bagaimana kaidah-kaidah memperjuangkannya.

Yang kedua, memiliki basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, adalah bahwa kader KAMMI berpikir dan bertindak berdasarkan pengetahuan ilmiah dan pemikiran yang mapan. Yang dimaksud dengan pengetahuan ilmiah adalah berangkat dari pengetahuan yang rasional (masuk akal) dan empirik (dapat dibuktikan). KAMMI tidak bergerak secara emosional tapi bergerak dengan penuh argumen yang valid dan solid, lengkap dengan data-data yang akurat dan pembelaan yang tepat. Yang dimaksud dengan pemikiran yang mapan adalah bahwa KAMMI tidak berangkat dari pengetahuan yang mudah didekonstruksi. KAMMI berbeda dengan kelompok liberal yang memandang banyak persoalan terutama persoalan keislaman dengan cara pandang dekonstruksi, sedangkan mereka sendiri mendekonstruksi Islam dengan ilmu alat epistemologi yang tidak mapan dan mudah didekonstruksi pula. Oleh karena itu hal ini menuntut kader KAMMI untuk giat mempelajari konsep-konsep pengetahuan dan pemikiran yang mapan agar tidak mudah didekonstruksi argumen pergerakannya.

Yang ketiga, idealis dan konsisten, adalah bahwa kader KAMMI berpikir, berniat, dan bertindak berangkat dari nilai-nilai ideal bukan dari keuntungan sesaat dan tidak mudah menjual diri pada kepentingan pragmatis. Hal ini bukan berarti KAMMI tidak realistis, justru dengan mematok ‘nilai tertinggi’ ini ada upaya dialektis dengan realitas yang kemudian akan memudahkan KAMMI bergerak secara terpadu. Dalam cara pandang ini diupayakan kader KAMMI untuk selalu mengasah idealismenya dan melakukan evaluasi diri atas konsistensi perjuangannya. Bisa jadi godaan sesaat dapat menjebak KAMMI pada kepentingan yang tidak menguntungkan umat dunia akhirat dan menghilangkan investasi pahala ikhlas padahal perjuangan begitu melelahkan.

Yang keempat, berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa, adalah bahwa kader KAMMI bukanlah beban dan masalah bagi umat dan bangsa, justru sebaliknya ekspresi kader KAMMI dalam pikiran, niatan, dan tindakan merupakan dalam rangka memberi solusi memecahkan problematika umat dan bangsa. KAMMI secara individual maupun organisasional adalah aset bagi umat dan bangsa ini. Oleh karenanya keterlibatan KAMMI dalam proses-proses perubahan dan kebijakan serta intervensi sosial secara kreatif dan strategis menjadi signifikan dalam upaya perbaikan. Dengan demikian KAMMI dan kader-kadernya penuh dinamika dan bukanlah kelompok yang diam dan tidak peduli terhadap persoalan kebangsaan dan keummatan.

Yang kelima, mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan, adalah bahwa kader KAMMI bukanlah musuh bagi pihak tertentu, gerakan atau institusi lainnya, sebaliknya KAMMI dapat memainkan perannya dalam merekatkan komponen-komponen bangsa pada upaya perbaikan dan pembangunan bangsa dan umat ini. Musuh KAMMI hanyalah kebatilan, KAMMI hanya berpikir, berniat, dan bertindak untuk menghilangkan kebatilan itu dalam komponen-komponen bangsa untuk kemudian bersama-sama membangun negeri tercinta Indonesia dan semesta dunia ini. Oleh karena itu, hal ini menuntut kader-kader KAMMI untuk bergaul secara luas, memiliki jaringan luas dalam proses perbaikan dan pembangunan dengan berbagai pihak, dan meletakkan ukhuwah secara proporsional. Ukhuwah dalam pandangan KAMMI mengikuti ukhuwah dalam pandangan Islam yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman), ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia), ukhuwah wathoniyah (ikatan sebangsa dan setanah air), ukhuwah nabatiyah (sensitivitas pada ‘kejiwaan’ alam), dan ukhuwah hayawaniyah (kepekaan kasih sayang pada hewan).

Setelah memahami tafsir muslim negarawan, maka ada 6 kompetensi yang harus dimiliki untuk mendukung terciptanya lapis intelegensia baru Indonesia. Yang pertama adalah Pengetahuan Ke-Islam-an, Kader harus memiliki ilmu pengetahuan dasar keislaman, ilmu alat Islam, dan wawasan sejarah dan wacana keislaman. Pengetahuan ini harus dimiliki agar kader memiliki sistem berpikir Islami dan mampu mengkritisi serta memberikan solusi dalam cara pandang Islam.

Yang kedua adalah kredibilitas Moral, Kader memiliki basis pengetahuan ideologis, kekokohan akhlak, dan konsistensi dakwah Islam. Kredibilitas moral ini merupakan hasil dari interaksi yang intensif dengan manhaj tarbiyah Islamiyah serta implementasinya dalam gerakan (tarbiyah Islamiyah harakiyah).

Yang ketiga adalah, wawasan ke-Indonesia-an, Kader memiliki pengetahuan yang berkorelasi kuat dengan solusi atas problematika umat dan bangsa, sehingga kader yang dihasilkan dalam proses kaderisasi KAMMI selain memiliki daya kritis, ilmiah dan obyektif juga mampu memberikan tawaran solusi dengan cara pandang makro kebangsaan agar kemudian dapat memberikan solusi praktis dan komprehensif. Wawasan ke-Indonesia-an yang dimaksud adalah penguasaan cakrawala ke-Indonesia-an, realitas kebijakan publik, yang terintegrasi oleh pengetahuan interdisipliner.

Yang keempat, kepakaran dan profesionalisme, Kader wajib menguasai studi yang dibidanginya agar memiliki keahlian spesialis dalam upaya pemecahan problematika umat dan bangsa. Profesionalisme dan kepakaran adalah syarat mutlak yang kelak menjadikan kader dan gerakan menjadi referensi yang ikut diperhitungkan publik.

Yang kelima, kepemimpinan, Kompetensi kepemimpinan yang dibangun kader KAMMI adalah kemampuan gerakan dan perubahan yang lebih luas. Hal mendasar dari kompetensi ini adalah kemampuan kader beroganisasi dan beramal jama’i. Sosok kader KAMMI tidak sekedar ahli di wilayah spesialisasinya, lebih dari itu ia adalah seorang intelektual yang mampu memimpin perubahan. Di samping mampu memimpin gerakan dan gagasan, kader pun memiliki pergaulan luas dan jaringan kerja efektif yang memungkinkan terjadi akselerasi perubahan.

Yang keenam Diplomasi dan Jaringan, bahwa kader KAMMI adalah mereka yang terlibat dalam upaya perbaikan nyata di tengah masyarakat. Oleh karena itu ia harus memiliki kemampuan jaringan, menawarkan dan mengkomunikasikan fikrah atau gagasannya sesuai bahasa dan logika yang digunakan berbagai lapis masyarakat. Penguasaan skill diplomasi, komunikasi massa, dan jaringan ini adalah syarat sebagai pemimpin perubahan.

Muslim Negarawan

Muslim Negarawan

Format kepemimpinan ideal Indonesia

Setelah mempelajari dengan seutuhnya konsepsi model manusia muslim, tahap selanjutnya adalah memformat konsep ideal kepemimpinan Indonesia masa depan. Seperti yang dibahas di paragraf awal tulisan ini, dua proyek besar bagi gerakan ini adalah proyek sistemik dan diabolik, tetapi pada proyek diabolik, dimana konsentrasinya adalah pembentukan lapis intelegensia baru, para intelegensia baru tersebut harus terintegrasi dengan wilayah amalnya, berpartisipasi dalam menanamkan nilai – nilai kebaikan ditengah masyarakat sambil terus memperkokoh kapasitas dan peluang kontribusinya. Para intelegensia baru tersebut juga harus memiliki semangat kepahlawanan dalam setiap aktivitasnya, memiliki kekuatan cinta sebagai energi untuk memperjelas identitasnya, serta selalu menjadi generasi pembelajar sejati.

Kata ustadz Anis Matta, Semangat kepahlawanan dan kekuatan cinta adalah sumber energi yang menggerakkan segenap raga kita untuk menciptakan taman kehidupan yang indah bagi diri kita dan orang lain[5]. Tapi pembelajaran menuntun kita untuk berjalan dengan cara yang benar pada peta jalan yang tepat menuju ke sana. Semangat kepahlawanan dan kekuatan cinta adalah sumber energi yang mendorong kita untuk terus-menerus memberi, untuk berkontribusi tanpa henti dalam menciptakan taman kehidupan yang indah itu. Tapi pembelajaran menuntun kita untuk mengembangkan kapasitas diri kita, juga tanpa henti, agar semangat memberi berbanding lurus dengan kemampuan kita untuk memberi.  Dan semangat kepahlawan, kekuatan cinta yang menjadi energi menyejarah, diintegrasikan kedalam konsepsi para pembelajar sejati, yang selanjutnya kemudian saya sebut dengan generasi pembelajar. Jadi para pemimpin Indonesia masa depan adalah mereka para pembelajar sejati.

Kalau kita tarik satu kesimpulan, format kepemimpinan seperti apa yang menjadikan Indonesia kembali menyejarah dan menuju ke puncak kejayaannya, maka kita akan menemukan bahwa ketiga poin yang saya bahas itulah yang saya kira menjadi solusi krisis kepemimpinan Nasional dan internasional kita. Menemukan dan mencipta model manusia muslim dalam taraf personal, kemudian mengkonsep para muslim negarawan sebagai sebuah pemimpin gerakan, dan tetap menjaga konsistensi amal kepemimpinan dengan menjadi generasi pembelajar sejati. Kalau dibuat bagan, format pemimpin ideal sesuai penjelasan di tulisan ini adalah sebagai berikut.

format pemimpin ideal

format pemimpin ideal

Mengutip kata – kata ustadz Anis Matta dalam serial pembelajaran, begitulah pada mulanya pahlawan sejati menapaki tilas sejarah mereka. Mereka mendengar panggilan sejarah yang diteriakkan oleh pekik nurani mereka. Maka mereka terbangun, tersadar, lalu bergerak. Lalu datanglah cinta memberi tenaga pada gerak mereka. Maka langkah kaki mereka menancap kokoh di tapak sejarah, melaju secepat angin, kuat bertenaga bagai badai. Tapi mereka menyadari makna waktu dalam aksi mereka; bahwa ada keterbatasan waktu yang tidak bisa mereka kendalikan padahal cita mereka teramat tingggi; bahwa memberi adalah proses yang tak boleh berhenti seperti kompetisi maraton yang mensyaratkan nafas panjang. Mereka memiliki sumber energi yang dahsyat, tapi mereka juga tahu bagaimana mengelola energi itu untuk bisa menciptakan karya kehidupan yang maksimal. Mereka menyadari bahwa mereka memiliki keterbatasan yang rapuh, tetapi mereka juga tahu bagaimana mensiasati keterbatasan itu untuk bisa tetap bertumbuh sampai ke puncak. Semoga hari ini, kita secara personal maupun secara gerakan masih memelihara api optimisme untuk mencetak para lapis intelegensia yang siap untuk menyejarah, menjadi pahlawan baru, para pemipin masa depan Indonesia. Semoga hari ini kita masih menjaga konsistensi untuk mewujudkan visi komprehensif gerakan ini. Wallahu ‘alam bis showwab.


[1] Tulisan pertama dari hasil diskusi perdana Komunitas Pena Merah dengan tema Cinta KAMMI Cinta Indonesia, pada Tgl 25 Februari 2012, ditulis oleh Dwi Purnawan, Kadep Humas KAMMI Semarang dan Pegiat Komunitas Pena Merah

[2] Mahfudz Shidiq (2003), KAMMI dan Pergulatan Reformasi. Solo. Penerbit Era Intermedia

[3] Anis Matta (2009), Delapan mata Air Kecemerlangan. Jakarta. The Tarbawi Press

[4] Amin Sudarsono (2010), Ijtihad Membangun basis gerakan. Jakarta. Penerbit Muda Cendekia

[5] Anis Matta, Serial Pembelajaran Anis Matta. Jakarta. The Tarbawi Press

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s