Keangkuhan intelektual


Kamis pagi, pertengahan bulan Februari, di sekretariat KAMMI Semarang, pagi ini hanya ingin berbagi tentang, tentang,, ya tentang

Keangkuhan intelektual
Keangkuhan intelektual

segala sesuatu yang menurut saya bisa dibagi dengan kawan – kawan. Barangkali mencermati beberapa peristiwa aktual yang terjadi, kita akan mendapatkan satu kesimpulan, tentang keberadaan kita, para manusia, yang diamanahkan untuk menjadi khalifatul ard’, ternyata kadang masih saja kemudian tidak amanah dengan amanah yang diembannya. Sifat – sifat yang seharunya itu hanya milik Allah saja, kita mencoba untuk mengambilnya dari Allah. Dan ternyata biasanya itu terjadi dari kaum yang berilmu, memliki pengetahuan yang tinggi dan merasa tinggi. Sebab pengetahuan yang tinggi ternyata justru awal dari masalah itu, pertambahan pengetahuan biasanya memang membuat manusia makin berkuasa. Tapi semakin berkuasa, manusia berpeluang menjadi sombong, angkuh dan melampaui batas. Dan itu ironis. Karena pengetahuannya sebenarnya tak pernah lengkap, tak pernah sempurna, jadi alasan untuk sombong dan angkuh juga tak pernah cukup. Keangkuhan manusia itu selamanya rapuh.

Padahal kalau kita pahami, bahwa kesombongan dan keangkuhan itu adalah sifat Allah. Berbeda dengan sifat Allah yang lain, Allah sama sekali tidak mengizinkan manusia mengambil sifat itu. Maka dosa manusia yang paling cepat dibalas Allah adalah kesombongan. Dan Allah punya ribuan cara untuk memangkas dan bahkan meluluhlantakkan kesombongan manusia itu. misalnya melalui bencana alam. Sebagian maksud dari begitu banyak bencana alam yang terjadi di dunia kita adalah meluluhlantakkan keangkuhan manusia itu. Seakan-akan Allah hendak berkata: coba kalau kamu bisa!

itulah yang terjadi dibalik peringatan Allah kepada kaumnya. Peristiwa yang terjadi dipertemukannya Nabi Khidir dan Musa adalah untuk memperingatkan akan hal itu. Bahkan ketika salah seorang nabi dan Rasul-Nya, Nabi Musa a.s., suatu saat merasa terlalu tahu, Allah pun memangkas perasaan itu dalam dirinya. Itulah latar dari cerita pembelajaran Nabi Musa kepada Khidir. Itu cara Allah mengajarkan beliau akan makna keangkuhan manusia yang rapuh, makna kerendahan hati dan kesadaran yang mendalam bahwa “Dan di atas setiap orang yang memiliki ilmu, ada Yang Maha Mengetahui.”

Makna itulah yang diajarkan juga oleh Imam Ghazali, bahwa “Siapa yang mengatakan dia telah tahu, maka sesungguhnya dia bodoh.” Makna itu pula yang diajarkan Imam Ahmad bin Hanbal ketika beliau mengatakan, bahwa “Siapa yang mengatakan Allaahu a’lam bish Shawab, yang artinya Allah lebih tahu apa yang benar, maka dia telah mendapat setengah pengetahuan. Dan kalau kita pahami juga tentang sikap kita kepada orang – orang bodoh, adalah sesuai dengan salah satu firman Allah, wa a’ridl ‘an al-jahilin, berpalinglah kamu dari orang – orang bodoh.

Salah satu hal yang mungkin beberapa tahun belakangan marak terjadi dikalangan kita, ditengah tingginya pengetahuan yang dimiliki oleh para cendekiawan muslim, adalah masih saja mereka mempertanyakan keabsahan Qur’an. Padahal ketika hal tersebut ditanyakan dan banyak perdebatan mengenainya,  adalah sumber permasalahan yang melahirkan kekufuran dan kemusyrikan. Sementara mempertanyakan kebenaran makna Qur’an adalah akar problem kaum munafiqin. Manusia cenderung mendatangi Qur’an dengan angkuh sembari mengajukan dua pertanyaan. Pertama, benarkah ini wahyu dari Tuhan? Kedua, atas dasar apa seseorang bisa mengklaim diri sebagai pembawa wahyu dari Tuhan? Kedua pertanyaan inilah yang selamanya merintangi sebagian besar manusia untuk melihat cahaya kebenaran. Mereka mengingkari keabsahan wahyu dan keabsahan pembawa wahyu. Ini yang kemudian menjadi kendala kita, para manusia, yang jika kita terlibat didalamnya, ternyata kita masuk golongan orang – orang munafiqin itu. Naudzibillah.

Jika dengan rahmat Allah manusia berhasil melewati rintangan ini, lalu mereka bermigrasi dari kekufuran menuju keimanan, maka keangkuhan intelektual itu masih menyisakan satu rintangan besar bagi mereka. Yaitu kecenderungan untuk mempertanyakan makna wahyu. Ini terkait dengan otoritas intelektual untuk menafsirkan wahyu. Misalnya debat antara Nabi Musa dengan Bani Israel tentang sapi. Keangkuhan intelektual inilah yang kelak menjadi akar dari kemunafikan seseorang setalah ia beriman. Mempertanyakan keabsahan tafsir atas wahyu sebenarnya hanya merupakan tipuan jiwa untuk membenarkan mengapa mereka tidak harus melaksanakan wahyu itu.

Mungkin salah satu contoh adalah tweet yang ditulis oleh salah satu cendekiawan muslim Indonesia saat ini, yang saya lihat, beliau masih saja membela Ahmadiyah sebagai ajaran yang diterima, padahal kalau kita lihat dalam konteks wahyu, ajaran tersebut sudah sangat jelas menyesatkan, dengan dalih toleransi antar keyakinan, tetapi bagi saya, tak ada toleransi aqidah. Islam ya Islam, bukan yang lain. Dan sebenarnya sangat wajar kalau saudara kita dari ormas putih itu kemudian mencoba berdiskusi dan berdebat dengan caranya, tak ada yang perlu dirisaukan. Inilah masalahnya, kita seringkali tertipu dan terpana melihat orang – orang yang terlihat menjadi intelektual muslim, padahal keberadaannya, termasuk pemikirannya, termasuk doktrinasinya sangat berbahaya, ya karena beliau – beliau ini masih saja mempertanyakan, dan bahkan mengingkari wahyu. Keangkuhan intelektual inilah yang menjadi penghambat, rahmat dan berkah Allah sampai ke bumi.

dan sebenarnya juga Allah telah menyindir kita dalam wahyunya,: “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”. [ Al-Kahfi ayat 54]

Kita takkan pernah bisa menjadi pembelajar sejati kecuali ketika kita menyadari ketidaktahuan kita, sekaligus merasakan kebutuhan yang kuat untuk mengetahui. Semoga kita terhindar dari keangkuhan intelektual, yang justru akan membuat kita menjadi sengsara dan menjadi semakin terpinggirkan dari sejarah emas Islam. Semoga kita terhindar dari kesombongan dalam segala aktivitas kita, semoga Allah merahmati segala aktivitas kita. Semoga kerendahan diri dan kemauan untuk belajar selalu menghiasi langkah kita dalam segala aktivitas.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s