Pelan, tapi pasti


Jalan pelan tapi pasti

Jalan pelan tapi pasti

Di alam batin para pahlawan, pencinta dan pembelajar sejati, hidup selalu dimaknai dengan pendakian sejarah. Kita akan sampai ke puncak kalau kita selamanya mempunyai energi dan rute pendakian yang jelas. Pendakian kita akan terhenti begitu kita kehabisan nafas dan kehilangan arah. Energi dan rute, nafas dan arah, adalah kekuatan fundamental yang selamanya membuat kita terus mendaki, selamanya membuat hidup terus bertumbuh. (Ustadz Anis Matta)

Alhamdulillah, sampai hari ini, sampai detik ini, Allah Ta’ala masih memberikan kita nikmat, berupa iman yang menancap kuat dalam jiwa, berupa azzam yang kuat untuk terus belajar menjadi kokoh, dan juga kebersamaan yang tak lekang oleh goncangan, untuk tetap bersama dakwah, membersamai dakwah, berada dalam naungan sentuhan lembut embun tarbiyah.

Mungkin kalau kita cermati bersama, perjalanan dakwah kita yang sudah semakin meluas, sudah sedemikian besar dengan segala cakupannya, akan semakin membuat banyak peluang yang dapat diambil, tetapi disisi lain, tantangan dan masalah itu tidak menjadi sedikit. Justru tantangan dan masalah yang menghadang itu akan semakin membesar, berbanding lurus dengan tahapan dakwah yang semakin luas. Ibarat orang mendaki gunung, semakin tinggi kita naik, akan semakin banyak tantangan yang emnghadang, entah angin yang semakin berhembus kencang, entahh itu adalah oksigen yang semakin sedikit, entah bebatuan dan juga lahar gunung yang mengintai, atau apapun lah itu. Oleh karena itu Semakin tinggi gunung yang kita daki, semakin panjang nafas yang kita butuhkan. Begitu kita kehabisan oksigen, kita mati. Semakin kita berada di ketinggian semakin kita kekurangan oksigen. Itu sebabnya kita harus merawat dan mempertahankan semangat kita. Karena dari sanalah kita mendapatkan nafas untuk terus mendaki.

 Begitulah, dakwah ini ibarat pendakian sejarah yang semakin meninggi. Dibutuhkan penyiapan – penyiapan yang jelas dan terarah. Dibutuhkan energi – energi besar untuk menopang ketidakberdayaan fisik kita. Dibutuhkan nafas panjang dan arah yang jelas untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Satu hal yang perlu kita ketahui, bahwa mendaki gunung yang tinggi memerlukan langkah yang pelan, tapi pasti, jelas dan terarah. Karena bisa jadi, ketika kita memaksakan segenap potensi kita, lalu berjalan cepat, kita akan cepat mati pula sebelum sampai ke gunung. Pelan tapi pasti, kita akan sampai ke langit puncak pendakian sejarah.

Pelan, tapi pasti, begitulah rumusnya ketika kita ingin menjadi bagian dari solusi tersebut. Ketika ada satu permasalahan, tidak usah kita balas dengan menambah masalah lagi, pelan tapi pasti, kita perbaiki dulu hal – hal yang kurang dalam diri kita, dalam jiwa kita, sehingga pelan tapi pasti, kita akan menyelesaikan permasalahan itu tanpa harus membuang banyak energi. Tidak usahlah kita berada dalam hal – hal yang tidak substansi dalam dakwah ini, karena hal itu hanya akan menguras banyak energi kita, karena hal itu hanya akan menguras waktu kita, sehingga kita akan terlambat untuk sampai ke langit sejarah.

Salah satu kunci adalah berbicara masalah kesadaran. Kesadaran dalam jiwa kita untuk bergerak, pelan dan pasti. Kata Muhammad iqbal, kita akan menjadi peserta kehidupan yang sadar, karena dalam kesadaran ini fokus kita tertuju pada semua upaya untuk menjadi efisien, efektif dan maksimal. Dalam jiwa yang sadar, dia melahirkan kekusyukan, dan dari kekusyukan dia akan menemukan ritme tujuan jelas dalam dakwah ini, pelan tapi pasti. Ibarat air, dia tenang tapi menghanyutkan. Pelan tapi pasti.

Kata Ustadz Anis Matta, kesadaran ada korelasi dengan keterarahan, yang berawal dari rute.  Rute yang jelas dan akurat akan membuat kita jadi terarah. Keterarahan, atau perasaan terarah, sense of direction, memberi kita kepastian dan kemantapan hati untuk melangkah. Pandangan mata kita jauh menjangkau masa depan, menembus tabir ketidaktahuan, keraguan dan ketidakpastian. Kita tahu ke mana kita melangkah, berapa jauh jarak yang harus kita tempuh, berapa lama waktu yang kita perlukan. Ketika kita menengok ke belakang, atau melihat ke bawah, ke kaki gunung yang telah kita lalui, ke lembah ngarai yang terhampar di sana, kita juga tahu jarak yang telah kita lalui. Ilham dari masa lalu dan mimpi masa depan terajut indah dan cerah dalam realitas kekinian.

Begitulah, tidak usahlah kita terlalu muluk – muluk ingin menyelesaikan semua persoalan, tidak usahlah kita bermimpi menjadi pahlawan yang bisa menyelesaikan apa saja yang menjadi masalah. Bermimpilah menjadi pahlwan yang menyelesaikan satu masalah dengan tuntas, lalu selanjutnya siap untuk menyelesaikan unit amal yang lain. Kalau belum bisa menjernihkan hati sendiri, jangan coba menjernihkan hati orang lain. Kalau belum bisa menerangi jiwa sendiri, jangan coba menerangi jiwa orang lain. Pelan, tapi pasti. Jernihkan hati kita, terangi jiwa kita, lalu secara langsung efek terang dan jernih itu akan memancar kepada yang lainnya. Lalu bersiaplah kita akan menuju pendakian sejarah yang menyenangkan.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s