Syaikh Ahmad Yasin dan Naluri kepahlawanan itu…


Kala fajar, hendak berpendar

Syaikh Ahmad Yasin

Syaikh Ahmad Yasin

Mentari pun belum bersinar

Sebongkah dendam membara

Memburu sang hamba nan bersahaja

Fajar, selalu menyisakan cerita, cerita tentang awal hari yang penuh dengan kesemangatan pagi, cerita tentang kesejukan embun pagi yang penuh dengan kesegaran dan kesejukan awal pagi, tentang sang mentari yang hangatnya membuat jiwa ini mekar kembali, juga cerita tentang semangat dan jiwa kepahlawanan mereka – mereka yang menorehkan karya menyejarah dalam sejarah umat manusia. Fajar, selalu menjadi inspirasi, inspirasi tentang ruh baru yang hidup kembali, ruh baru tentang ghirah, tentang jiwa kepahlawanan yang dimiliki oleh mereka yang mewakafkan dirinya untuk dakwah islam ini. Dan pada kesempatan ini saya akan bercerita, tentang semangat kepahlawanan yang dimiliki oleh salah satu mujahid Islam dalam aktivitasnya yang mulia, menyeru kepada kebaikan.

Adalah saat fajar, saat dimana semua sedang bersama ruh baru, mempersiapkan agenda – agenda besar nan mulia, mempersiapkan untuk mencipta karya besar yang menyejarah, bersiap untuk menikmati sejuknya embun pagi dan hangatnya sinaran mentari, saat fajar bagi dia adalah saat terbaik untuk bertemu dengan Rabbul Izzati. Saat dendam sudah memuncak sampai ke ubun – ubun, yang ada hanya kedengkian, kebencian, dan pada akhirnya sebuah dentuman mengoyak tubuh tak berdaya dengan semangat berdaya itu. Dan akhirnya, saat fajar itu, darah segar nan mewangi membuncah, menyirami bumi, tubuh tak berdayanya terhempas tercabik. Namun jangan anggap dia telah mati, karena dia hidup di sisi Ilahi, dalam nikmat abadi mewangi surga abadi. Dia, sang dai itu telah wafat, sang motivator ulung yang menggelorakan semakan perlawanan kepada ribuan relawan palestin terhadap kekejian Yahudi Laknatullah alaihi itu telah pergi, tapi dia tidak pernah pergi, hanya fisiknya yang pergi. Tetapi semangatnya, inspirasinya, dan ruh jihad dan perlawanannya tetap membara dibumi yang dicintainya itu, dan bahkan ruh kepahlawanan itu menyebar ke segala penjuru dunia, mengetuk lembut hati – hati mereka yang beriman.

Syaikh Ahmad Yasin, begitu dia disebut namanya. Sekilas dia tak terlihat istimewa, hanya kakek tua yang selalu duduk dikursi roda. Tetapi ternyata keberaniannya untuk mengatakan perang terhadap yahudi laknatullah inilah yang membuat para zionis itu takut kepadanya, takut terhadap setiap perkataan yang dilontarkannya ketika menyemangati barisan intifadha.

Syaikh Ahmad Yasin, dialah sang pahlawan kursi roda, yang setiap perkataan yang dilontarkan ketika menyemangati pasukannya untuk terus istiqomah melawan Israel dan segala bentuk kekejiannya, adalah ibarat bulir – bulir bom atom yang siap dijatuhkan dan menghujani para yahudi Laknatullah sehingga lari tunggang langgang.

Syaikh Ahmad Yasin, boleh kedua kakinya mati, tak bisa bergerak, namun semangatnya, ruh jihadnya, dan kekuatan kata – kata yang terlontar dari mulutnya tak pernah padam, tak pernah mati, rasa optimisnya untuk senantiasa melawan Yahudi tak pernah berhenti. Keberaniannya bersikap semakin membuat barisan kuffar ciut, takut, dan kalang kabut. Lalau akhirnya bangsa pengecut itu hanya berlindung dibalik bom – bomnya yang ternyata itu hanya semakin menggelorakan semangat jihad Syaikh dan barisan intifadha-nya.

Berani, optimis, dan vitalitas, sikap inilah yang diajarkan Syaikh kepada kita. Naluri kepahlawanan itulah yang dimiliki oleh Syaikh dan ingin ditularkan kepada kita. Karena pekerjaan – pekerjaan besar dalam sejarah ini hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang memiliki naluri kepahlawanan. Tantangan – tantangan  besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang memiliki jiwa kepahlawanan. Dan Syaikh telah mencontohkan akan hal itu. Tentang naluri kepahlawanan yang tetap menggelora meski keterbatasan melanda dirinya.

Kata Anis Matta, saudara yang paling dekat dengan naluri kepahlawanan adalah keberanian. Pahlawan sejati selalu merupakan pemberani sejati. Pekerjaan – pekerjaan besar dalam sejarah atau tantangan yang ada selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan dan tantangan – tantangan itu. Sebab, pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan resiko, dan tak ada keberanian tanpa resiko. Naluri kepahlawanan adalah akar dari pohon kepahalwanan, tetapi keberanian adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan atau perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau mencegah keburukan dan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan resiko yang akan diterimanya. Dan lagi – lagi Syaikh Ahmad Yasin telah mencontohkan kepada kita tentang keberanian yang berbuah surga.

Yang kedua adalah optimisme. Adalah titik tengah antara idealisme yang tidak realistis dengan realisme yang terlalu pragmatis, dia adalah optimisme. Karena para pahlawan mukmin seperti Syaikh Ahmad Yasin selalu menyadari bahwa mereka lahir untuk sebuah misi besar dan tentu harus dengan segenap kepercayaan yang meliputinya. Para pahlwan mukmin memandang bahwa misinya sebagai seesuatu yang sakral darimana mereka menemukan perasaan terhormat karena lahir untuk memperjuangkan misi itu. Namun mereka merasa tenang karena berjuang dibawah bendera Allah. Mereka percaya bhwa dibawah bendera itu mereka pasti mendapatkan kemenangan, walaupun mereka tidak selalu menyaksikan kemenangan itu sendiri. Para barisan intifadha dan Syaikh Ahmad begitu yakin bahwa dengan menggelorakan optimisme dalam jiwa, maka percikan api kemenangan itu sudah didapat. Beliau dan semua pahlawan mukmin sejati begitu percaya, bahwa berjuang saja sudah merupakan satu kemenangan, yaitu kemennagan atas rasa takut, kemenangan atas sifat pengecut, kemenangan atas cinta dunia dan kemenangan atas mereka sendiri. Dan dari keyakinan – keyakinan seperti inilah mereka/ para pahlawan mukmin itu mereka menemukan kejujuran iman, dan dari kejujuran iman itulah mereka menemukan mata air kekuatan jiwa yang memberi mereka harapan dan optimisme.

“Diantara orang – orang beriman itu ada orang – orang yang menepat apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu – nunggu (sampai saat kemenangan), dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.” (Al-Ahzab: 23)

Yang ketiga adalah vitalitas. Mereka selalu unggul dalam kekuatan spiritual dan semangat hidup. Walaupun sebagian anggota tubuh tak lagi berfungsi, tetapi letupan api semangat itu tak pernah padam. Senantiasa ada gelombang gairah kehidupan yang bertalu – talu dalam jiwa mereka. Itulah yang membuat sorot mata mereka, para pahlawan itu selalu tajam, dibalik kelembutan sikap mereka. Itulah yang membuat mereka selalu penuh harapan, disaat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain. Itulah vitalitas. Seperti yang dicontohkan, lagi – lagi oleh Syaikh Ahmad Yasin.

Ah, betapa kita harus belajar banyak dari pahlawan mukmin itu, betapa kita harus mengevaluasi setiap aktivitas kita, sudahkah dipenuhi dengan naluri kepahlawanan, tentang sikap optimis, berani dan penuh dengan vitalitas, ataukah sebaliknya, hari ini naluri kita adalah naluri seorang pengecut, yang setiap aktivitasnya dipenuhi dengan rasa takut melangkah, keraguan, keputus asaan, dan daya juang yang lembek. Dan semoga kita mau belajar kepada para pahlwan itu, tentang mentalitas kepahlawanannya, tentang keberanian, vitalitas yang tinggi, dan rassa optimisnya menghadapi tantangan yang membadai bertubi – tubi dijalan ini. Mari kita merenung. Wallahu ‘alam bis showab.

 Semarang, 12 Januari 2012

Tulisan dipagi hari, untuk menyemangati diri ini agar mempunyai ruh kepahlawanan yang membadai

Referensi :

Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia

One thought on “Syaikh Ahmad Yasin dan Naluri kepahlawanan itu…

  1. Ping-balik: PALESTINE : THE LAND OF SYUHADA | ishlah

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s