Solo, the spirit of Indonesia


Kota Solo. Surakarta. Sebuah kota yang terletak di pertengahan Provinsi Jawa Tengah ini, menghadirkan satu fenomena menarik,

Sudut Kota Solo

Sudut Kota Solo

khususnya bagi saya yang sejak beberapa waktu ini mengamati Kota ini, dan mendapatkan sesuatu hal yang spesial tentang keberadaan Solo. Walaupun saya sendiri tidak pernah berdomisili di Kota ini, namun sejak beberapa kali berkunjung ke Solo, sepertinya ada sesuatu yang spesial dari Kota yang mendapat julukan the spirit of java ini. Yang pertama adalah tentang nuansa ‘Jawa’ nya yang kental sekali. Diujung gang sampai pinggir – pinggir jalan, dihalte bus, ataupun ditempat dan fasilitas umum yang terletak di kota ini memiliki nuansa Javanese yang sangat kental, seakan – akan menyampaikan maksud kepada masyarakat yang berkunjung ke sini bahwa Solo adalah pusatnya Jawa, dan juga seakan membuktikan bahwa Solo dan jawa adalah ibarat sepasang kekasih, yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Mulai dari corak batik yang menghiasi  halte bus, bus trans Solo, mal – mal, gerbang – gerbang disetiap gang, atau berbagai macam tokoh pewayangan yang menghiasi papan reklame di Solo, atau juga nuansa pakian khas Jawa dengan blangkonnya, yang juga sering dipakai pada momen – momen tertentu semakin mengokohkan Solo, sebagai ibukotanya Jawa. Sehingga hal ini yang semakin membuktikan dan akhirnya tertuang dalam jargon Solo, the spirit of Java.

Yang kedua yang membuat saya begitu tertarik untuk menuliskan artikel tentang Solo ini adalah tata kotanya yang sedemikian baik, atau lebih baik dari pengelolaan kota – kota lainnya. Kita bisa melihat hal ini dari konsep penataan ruang yang ideal. Salah satu poin yang membuktikan hal itu adalah, keunggulan kota Solo tersebut adalah keberhasilan memindah pedagang kaki lima dari kawasan hijau dalam relokasi serta penghuni bantaran sungai. Selain itu pembuatan city walk dan penanganan sampah juga sebagai nilai lebih. Selain itu terdapat beberapa ciri khas dan karakter dimasing – masing wilayah di Solo, wilayah Kota Solo dengan pola tata kota yang sama dengan Solo yang lebih dulu dibangun. Sebagai kota yang sudah berusia hampir 250 tahun, Solo memiliki banyak kawasan dengan situs bangunan tua bersejarah. Selain bangunan tua yang terpencar dan berserakan di berbagai lokasi, ada juga yang terkumpul di sekian lokasi sehingga membentuk beberapa kawasan kota tua, dengan latar belakang sosialnya masing-masing. Lalu di wilayah Kauman, misalnya. Perkampungan ini dipenuhi beragam arsitektur rumah gedongan. Awalnya, Kampung Kauman yang berada di sisi barat depan Keraton Kasunanan ini diperuntukkan bagi tempat tinggal (kaum) ulama kerajaan dan kerabatnya. Letaknya berdampingan dengan Masjid Agung keraton, di sisi barat alun-alun utara. Tapi pada perkembangannya Kauman mirip dengan kawasan Laweyan. Banyak tumbuh produsen dan pedagang batik yang sukses, dan mereka berlomba membangun rumah mewah di perkampungan yang padat itu. Akibatnya, Kauman menjadi penuh dengan berbagai rumah gedongan yang berdesakkan, dan menyisakan gang yang sangat sempit bagi pejalan kaki.

Jika Kauman terletak di sisi barat depan alun-alun utara, di sisi timurnya terletak perkampungan Pasar Kliwon, kawasan permukiman warga keturunan Arab. Di Solo, warga keturunan Arab biasa dipanggil Encik. Banyak warga Arab yang sukses berdagang batik, sehingga kawasan ini juga dipenuhi dengan rumah gedongan. Agak ke utara, di sekitar Pasar Gede Harjonagoro (salah satu warisan monumental PB X, dirancang oleh arsitek Thomas Karsten, 1930) terletak kawasan perdagangan Balong. Kawasan ini merupakan konsentrasi permukiman warga Cina yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang. Sebagai pecinan, kawasan ini memiliki banyak bangunan dengan arsitektur Cina. Laweyan, Kauman, Balong, atau Pasar Kliwon bukanlah sekadar kawasan dengan sekumpulan gedung tua, tapi jejak sejarah perkembangan tata kota Solo, dengan warna arsitektur dan latar belakang sosiologisnya. Di situ bisa kita temui berbagai gedung dengan corak arsitektur Jawa, Eropa, Indis, Art Deco, Cina, hingga Timur Tengah.

Masih berbicara tentang tata kota Solo, sebenarnya konsep seperti ini adalah model kincir angin Belanda. Walaupun Solo adalah ibukotanya Jawa, tetapi tidak berarti mengabaikan budaya lain. Hal ini terbukti dengan beberapa kawasan yang tata kotanya meniru tatakoat di negeri Belanda. Banyak arsitektur dan perumahan elit orang Belanda di kota Surakarta abad 19-20 yang ditata oleh seorang arsitek Belanda yang bernama Herman Thomas Karsten. Karsten sangat ahli dalam hal tata kota, termasuk juga Kota Surakarta. Karya Karsten di Kota Solo antara lain Kompleks Pasar Gedhe, Bangunan Pracimayasa Mangkunegaran, Perumahan elit Belanda Villa Park Banjarsari, Bangunan MCK Ngebrusan, Stasiun Kereta Api Balapan, Masjid Al Wustha Mangkunegaran, dan Kompleks Stadion Manahan. Pun juga kalau diperhatikan seksama, ada satu jalur kereta uap yang sengaja didesain untuk alat transportasi mengelilingi kota Solo, dan sampai sekarang masih berfungsi dengan baik.

Kalau berbicara masalah tatakota, tentu kita patut mengucapkan terimakasih kepada pemkot Solo yang dikomandani oleh Pak Joko Widodo sebagai walikota. Satu aspek yang berhasil dijalankan beliau adalah mampu mengcreate tata kota yang baik, dengan sentuhan – sentuhan budaya, perpaduan dari  budaya Jawa dan juga Belanda, semakin membuat Solo menjadi Kota berbudaya dan modern. Jadi, seharusnya ketika saat ini kota – kota di Indonesia masih disibukkan dengan penataan kotanya, layak untuk bercermin kepada Solo, sebagai kiblat percontohan tatakota yang baik. Sehingga bagi saya, ataupun yang sependapat dengan saya, jargon Solo spirit of java harusnya diganti. Diganti menjadi Solo, spirit of Indonesia.

Iklan

One thought on “Solo, the spirit of Indonesia

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s