Bus Ekonomi dan Pengamen jalanan


Selasa (20/12), hari ini satu hari yang melelahkan, menjenuhkan, sekaligus penuh dengan fenomena menarik yang sayang kalau tidak

Ngamen
Ngamen

saya share dengan temen – temen di dunia maya. Hari ini, seperti diketahui, adalah menjadi kedua diawal pekan, sekaligus menjadi dua pekan terakhir di penghujung tahun 2011, yang ternyata tak kerasa sudah kembali diujung tahun 2011, yang tentu banyak catatan – catatan baik dan buruk, penuh dengan kenangan indah maupun pahit.  Jadwal saya hari ini adalah pulang untuk menjemput kembali si hitam manis dirumah, dan sejak awal sudah saya niatkan untuk kembali ke Pacitan dengan naik Bus kelas ekonomi, di jurusan Semarang – Solo, dan Solo – Pacitan. Dan alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga naik bus kelas ekonomi, yang kalau saya bilang, bus kelas ini adalah kelas paling rendah, dimana kita akan benar – benar merasakan kebersamaan dengan wong cilik. Dan kalau anda ingin merasakan berbaur dengan pengamen, pedagang pasar, rokok, dan orang mabuk darat jadi satu, maka naiklah kendaraan kelas ekonomi, boleh kereta, boleh bus, yang penting ada embel – embel kelas ekonomi dengan fasilitas AC alami.

Lanjut.

Dan benar adanya, hari ini saya kembali bersua dengan mereka, pengamen yang tak henti – hentinya melantunkan lagu – lagu andalannya, walaupun dengan suara yang sedikit dipaksakan, mereka tetap pede untuk bernyanyi, berdendang, dan berdendang. Mulai dari lagu Ebiet G Ade, lagu dangdut mataraman, sampai dangdut antah berantah, semuanya dinyanyikan, dan selalu bergiliran. Entah berapa kali secara bergiliran, semenjak dari terminal Tirtonadi, disepanjang jalan ke terminal Sukoharjo, di kawasan Agraria Wonogiri, sampai di terminal transit Baturetno. Pun demikian dengan penjual aneka jualan yang bisa dijual diatas bis, mulai dari arem – arem, koran seribuan, minuman, tisu, sampai kacamata yang tertulis disitu barang impor (impor dari Jerman/jejer kauman) pun bergantian memenuhi bis Aneka Jaya Solo – Pacitan. Belum lagi saya duduk dengan orang yang kayaknya sejak tadi diam terus, ee, tiba – tiba muntah deh, adududuh, makin runyam aja kondisinya, kalau orang Jawa bilang, ‘wes pokoke pepek lah’. Tetapi hikmahnya, saya hari itu kembali merasakan bersama mereka, yang selalu bersemangat mencari rezeki, para wong cilik dengan segala atribut dan jenis pekerjaan yang mereka kerjakan. Kadang mereka saling berebut penumpang, saling mengeraskan suara demi mendapatkan calon pembeli, dan seperti itulah kondisinya. Seakan menjadi pengingatan bahwa, dibawah langit itu masih ada bumi, jangan lihat langit terus, masih ada kolong langit alias bumi, bumi juga perlu dilihat, tetapi kadang orang yang berada dilangit lebih memilih nyaman berada dilangit, saling berebut awan – awan putih, saling berebut hujan, tanpa mempedulikan bumi yang sebenarnya juga perlu diberikan hujan.

Terkhusus untuk para pengamen, saya ingin sedikit bercerita tentang keberadaan mereka. Keberadaan para pengamen itu, kalau saya bilang adalah sebuah fenomena sosial yang juga perlu mendapatkan perhatian sosial kepada mereka. Untuk kepulangan saya kali ini, saya memang sudah meniatkan untuk mempersiapkan uang recehan 200 dan 500 perak, khusus saya persiapkan untuk para pengamen itu.  Dan sebenarnya kalau dilihat secara cermat, bagi saya sendiri keberadaan pengamen – pengamen tersebut justru merupakan satu berkah sendiri bagi saya, terutama bagi mereka yang bener – bener ngamen. Saya kira mereka juga ingin mencari nafkah, bekerja, dan kerja mereka ya menghibur para penumpang dengan menyanyika lagu – lagu yang menarik. Meskipun juga keberadaan mereka kadang membuat beberapa orang resah, terutama kadang dengan melihat penampilannya yang sangar. Namun disisi lain kalau kita mau arif dalam bersikap, keberadaan mereka adalah satu hal yang justru, bisa kita ambil hikmahnya. Dan saya tertarik mengkorelasikan para pengamen itu dengan konsep al athoo dan al yusro. Konsepnya adalah ekuivalensi antara memberi dan memudahkan, bahasa tarbiyahnya adalah al – athoo dan al – yusro. Perbandingannya lurus antara memberi dan dimudahkan. Kalau pengamen tersebut memberikan lagu kepada para penumpang, ya konsekuensinya penumpang juga harus memudahkan pengamen itu dengan memberikan uang. Bisa jadi dengan uang yang kita berikan itu sangat bermanfaat bagi para pengamen itu, entah untuk makan atau menafkahi keluarganya.

Dan keberadaan mereka juga perlu kita jadikan ibrah, bagi kita para aktifis muslim. Prinsip al – athoo dan al – yusro ini menjadi penting untuk kita jadikan pegangan dalam aktifitas kita. Kalau kita memberikan (al – athoo) dengans egenap penuh potensi yang kita miliki, maka kemudahan (al – yusro) itu akan kita dapat, baik yang efeknya kepada kita sebagai individu maupun kita sebagai jamaah. Tinggal bagaimana sekarang yang terpenting adalah niatan – niatan kita dalam beramal itu untuk apa dulu. Semoga tulisan yang sedikit ini bisa kita makna bersama, satu konsep yang kemudian disebut al – athoo ad’da’wy. Setidaknya QS. Muhammad ayat 7 maknaya sama dengan makna al – athoo ad’da’wy, barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya. Semoga hari ini kita masih konsisten dalam amal – amal kita, dan hari ini kita masih selalu berprinsip menjadikan setiap peristiwa yang kita lalui adalah sebagai tarbiyah.

Iklan

4 thoughts on “Bus Ekonomi dan Pengamen jalanan

  1. hmmmf jadi ingat kisah waktu sering naik bus JGJ-PCT,,,pz masih maba pernah salah naik bus JGJ-SOLO yang pengamennya gak pernah stop…waduh2,,,tp asyik jg naik bus,,,jd bs membaca kondisi masyarakat…

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s