Spirit baru dari Puncak Muria


Malam itu, hujan deras disertai angin badai terus saja mengguncang dan menerpa tubuh yang sudah lelah ini. Malam itu, dipuncak

Kelompok Laron MKPM1 Muria

Kelompok Laron MKPM1 Muria

gunung Muria. Mencekam. Kilat dan halilintar silih berganti meramaikan suasana malam itu, kadang badai yang menerpa rerumpunan tanaman liar membuat suasana kian mengerikan. Langkah kaki ini pun sudah tidak terasa lelah lagi karena saking lelahnya. Lelah itu telah lelah mengikuti kaki ini. Kondisi jalanan yang licin, becek, dan dengan sudut kemiringan sangat miring, kurang lebih hampir 90 derajat, membuat kami harus ektra hati – hati untuk melewatinya, tangan kanan memegang tongkat, tangan kiri memegang baterai untuk menerangi jalanan yang sangat gelap sekali. Bahkan saking gelapnya, semut pun tak kelihatan. ^_^

Ya, itulah suasana pada malam ahad itu, saat para muda – mudi yang lainnya saling bercengkerama dengan malam mingguannya, kami

Makan dulu

Makan dulu

harus bermalam minggu dan bercengkerama dengan hujan, dengan rumput – rumput liar, dengan badai, dan dengan hewan – hewan liar dipuncak Muria, yang saya pun juga bingung, mana sebenarnya yang dimaksud puncak itu. Ya, saya heran mana ini puncaknya, kok semuanya puncak, hehehe. Sayapun juga sudah sangat capek sekali karena sudah berjalan sekitar 10 jam, dan malam itu memang yang kita rindukan adalah bersua dengan semangkuk mie rebus dan teh hangat, karena memang sangat dingin sekali. Walaupun kami sudah memakai ponco, namun ternyata itu tak cukup menolong pakaian kami terbebas dari guyuran hujan dan lumpur lereng muria. Yang kami rindukan saat adalah bertemu dengan perkampungan penduduk, dan melepas lelah disana. Namun masalahnya, sudah berjalan sekian kilometer, dengan durasi hampir 10 jam, kami belum menemukan perkampungan lagi, apalagi perut sudah mulai keroncongan karena sejak tadi sore belum makan, dan hanya dibekali satu buah jeruk. Hmmm, tambah semakin merindukan perkampungan, sambil terbayang makan mie rebus dan teh hangat. Dann akhirnya, jreeeeeeng…. setelah berjalan lagi, eh, bukan berjalan ding, lebih tepatnya meluncur dari atas ke bawah, karena saking curamnya medan, akhirnya kami pun menemukan perkampungan. Alhamdulillah.

Habis Latihan PBB sama Kopral Koplak

Habis Latihan PBB sama Kopral Koplak

Itulah suasana agenda malam itu, yang mencekam. Adalah mukhoyam, salah satu wasail tarbiyah yang menjadi agenda wajib bagi para kader, terkhusus bagi kader ikhwan ini kembali dilaksanakan pada akhir tahun ini, dan bertempat di Kompleks Bumi Berkemahan kajar, Gunung Muria, Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Walaupun awalnya agak berat hati untuk berangkat, akhirnya diri ini berangkat juga, dengan segala persiapan yang serba ndadak,  saya pun, dengan beberapa teman yang tidak ‘galau’ berangkat dengan semangat yang tinggi. Setelah saya pastikan, tas ransel, ponco, baterai, perlengkapan mandi, kaos kepanduan, sleeping bag, dan segala perlengkapan lainnya siap, sayapun segera berangkat ke MPKM1 ini, sembari menjemput harap dapat menemukan kesegaran baru di mukhoyam ini. Walaupun selama tiga hari kami harus rela tidak mandi, harus berpayah – payah dan belepotan lumpur, nuansa haroki penuh dengan energi baru ini kembali muncul. Ya, terutama ketika bertemu dan mendengarkan taujih dari Ustadz – ustadz sekaligus para asatidz dakwah ini, suasana penuh energi pun kembali muncul dan memenuhi ruang – ruang yang ada pada seonggok tubuh ini, sehingga walaupun suasana hujan, kami tetap antusias mengikuti taujih dari para masayikh dakwah tersebut.

Bahwa mukhoyam ini berat, memang iya. Bahwa mukhoyam ini melelahkan, iya. Tetapi ini adalah bagian dari komitmen kita terhadap

Ma'rifatul Medan

Ma'rifatul Medan

dakwah ini, bahwa mukhoyam ini adalah bagian dari representasi loyalitas kader terhadap jamaah. Bahwa mukhoyam ini adalah simbol kekuatan kita, simbol dari kekokohan tarbiyah ini. Bahwa mukhoyam ini adalah simbol dari keokohan persaudaraan kita.  Maka dari itu, satu hal yang mestinya dapat diambil ibrah dari mukhoyam ini, adalah harusnya kita memahami bahwa ini adalah hal tsawabit dalam jamaah kita, yang pada intinya adalah representasi jiddiyah kita kepada jamaah. Inilah mukhoyam. Wasail tarbiyah itu.

Sembari memakai slayer orange pandu keadilan bergaris biru tua, siang itu, dilapangan Ndawe Kudus, kami, yang jumlahnya sekitar 300 orang kembali ke daerah masing – masing, membawa semangat baru, membawa ruh baru, membawa energi baru, energi dari puncak muria, setelah tiga hari mencari spirit baru di kompleks Gunung Muria Kudus. Dan akhirnya, bersama dengan dikmeduikannya minibus arah semarang, disertai lagu Jejak dari Izzatul Islam, kami pun berpisah dengan bumi Kudus, bumi Muria, dengan sejuta kenangan pernah bermukhoyam disini.

…. kami adalah tentara Allah

Siap melangkah menuju ke medan juang

Walau tertatih kaki ini melangkah

Jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan….

(Jejak à Izzatul Islam)

Iklan

2 thoughts on “Spirit baru dari Puncak Muria

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s