Belajar dari PP Ibnu Abbas


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Senin sore (24/10), hari itu sungguh hari yang menyibukkan bagi saya. Setelah memastikan diri pulang dan turut mengantarkan paklik

DI Ibnu Abbas bersama adik
DI Ibnu Abbas bersama adik

saya berangkat haji, akhirny a saya berkemas – kemas dengan segala persiapan yang ada. Dan tak lupa saya/ setelah wira – wiri, akhirnya berada diatas jok APV merah hati. Dengan kecepatan penuh 100 km/jam, sore itu saya habiskan di seputaran Salatiga-Boyolali-Klaten. Ya, saya harus mampir Klaten untuk menjemput adik keponakan saya yang juga anaknya paklik saya yang mondok di PPTQ Ibnu Abbas. Dan barangkali suasana luar biasa yang saya temukan di PPTQ Ibnu Abbas inilah yang memotivasi saya menulis artikel ini. Ya, namanya adalah PPTQ Ibnu Abbas atau kependekan dari Pondok Pesantren Tanfidzul Qur’an Ibnu Abbas, yang terletak di wilayah Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten. Pondok ini merupakan salah satu bagian dari JSIT (jaringan Sekolah islam Terpadu), yang dikelola secara profesional dalam rangka membentuk generasi Qur’ani, dengan cabang sekolah dalah SD dan SMPIT Ibnu Abbas.

Lalu, sebenarnya bukan bangunan fisiknya ataupun kurikulumnya yang membuat saya mengatakan .. subhanallah yaa.. ^_^ , tetapi adalah kebiasaan santri – santrinya yang saya kira ini dikemas dalam satu metodologi pengajaran yang utuh di PP Ibnu Abbas ini yang membuat saya semakin yakin, bahwa generasi – generasi sepuluh duapuluh tahun kedepan akan dihiasi dengan generasi qur’ani.

Sore, itu, seperti biasa, santri PP Ibnu Abbas putra yang terpisah dengan putri melaksanakan sholat Ashar berjamaah di masjid, dan

PPTQ Ibnu Abbas
PPTQ Ibnu Abbas

seusai shalat, mereka tidak langsung melakukan aktivitas pribadi, tetapi mengikuti kajian sore yang diisi oleh Ustaadz mereka. Setelah diisi kajian yang  durasinya kurang lebih 15 menit, mereka (para santri : red) segera mengambil mushaf mereka dan coba tebak apa yang mereka lakukan? Ya, mereka melakukan murajaah hafalan masing – masing, dan setelah saya tanya ke adik saya ini, aktivitas murajaah hafalan itu berlangsung setiap habis shalat, dan selanjutnya steiap ba’da maghrib dan ba’da shubuh mereka wajib menyetor ke ustadz minimal satu halaman hafalan qur’an. Lalu ketika saya tanya ke adik saya ini, ternyata rata – rata santri PP Ibnu Abbas hafalannya mencapai 3– 6 juz pada semester satu sampai tiga.

Subhanallah ya…

Luar biasa, dan ternyata suasana Qur’ani itu memang sengaja dihidupkan untuk memotivasi anak agar lebih dekat dengan Qur’an, dan jiwa, aktivitas, dan perilakunya adalah jiwa, aktivitas, dan perilaku qur’ani.

Subhanallah. Dan ternyata saya jadi malu dengan diri sendiri. Dengan aktivitas saya disini. Ternyata hafalan – hafalan qur’an ini masih jauh dari apa yang kita dengungkan. Masih jauh dari harapan. Berbanding terbalik dengan apa yang  kadang, dengan  heroiknya kita

Santri Hafalan
Santri Hafalan

ketika menyampaikan seruan – seruan islam, mengajak kepada Islam, ternyata hal itu kadang tidak diimbangi dengan kapasitas – kapasitas Qur’ani. Kapasitas – kapasitas yang justru memegang peranan pening dalam aktivitas dakwah kita ternyata tergantikan oleh hal – hal lain. Hal ini jugalah yang menjadi kegelisahan saudara satu halaqoh saya ketika menyampaikan permasalahan, beberapa kader yang akhirnya tidak lagi tarbiyah karena merasa kurang nyaman dengan kondisi tarbiyah, karena yang diomongin adalah parpol melulu, bukan mengecek hafalan qur’an, bukan meningkatkan kapasitas keislaman kita.

Subhanallah..

Ternyata, memang masih banyak yang harus kita upgrade dalam diri kita kemampuan – kemampuan qur’ani kita, agar ini menjadi satu kekuatan yang dimiliki oleh para aktivis dakwah, mengembalikan aktivitas kita kepada barak, yakni masjid, yakni qur’an.

Dan bersamaan dengan tenggelamnya matahari di sudut desa Nguntoronadi Wonogiri, diiringi dengan lantunan Al-Mulk nya Mustafa rasyid, renungan tentang malu, dan sekaligus bersemangat kembali menghafal Qur’an yang semangatnya sempat redup. Ayo semangat ngapalin qur’an, jangan mau kalah dengan mereka…

Iklan

2 thoughts on “Belajar dari PP Ibnu Abbas

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s