Bukan berprasangka, tapi membeningkan prasangka


Kembali berkutat dengan tuts – tuts keyboard Laptop, dan siang ini ingin saya berbagi hal positif tentang perenungan saya kemarin.

Prasangka

Prasangka

Sebenarnya perenungan ini akan saya sampaikan dalam kultum halaqoh saya yang sedianya dilaksanakan tadi malam, tetapi  karena tidak jadi ada kultum ya, akhirnya saya sampaikan saja di blog. Semoga bisa bermanfaat bagi yang membacanya. Semoga.

Kali ini saya akan berbicara tentang prasangka. Dzhon. Tetapi sebelumnya saya ingin berbicara tentang visi ketauhidan Rasulullah SAW. Sepertinya sudah menjadi sunatullah bahwa siapapun yang menegakkan tauhid, akan dibenci oleh yang bertentangan visinya. Ketika kita lihat Rasulullah, luar biasa akhlak dan tak ada cat. Bicaranya benar, janjinya selalu ditepati, gelarnya Al-Amin. Ketika mulai menyuarakan Laa ilaaha illallah, semuanya berbalik 180 derajat. Yang suka menjadi murka, kawan menjadi lawan, yang dekat menjadi jauh.

Ini persisi seperti hukum Newton 1 yang pernah saya pelajari di SMA, aksi sama dengan reaksi, ketika ada aksi maka akan timbul reaksi. Begitulah adanya, ketika aksi tauhid ditegakkan, maka akan timbul reaksi. Dan siapa yang reaksinya paling kuat? Yaitu orang yang tidak bertauhid. Yang menuhankan dunia, harta, jabatan, dan kedudukan. Lalu bagaimana sikap Rasulullah? Cuma satu hal, yaitu istiqomah. Konsisten dengan apa yang disampaikannya. Tidak gentar, tidak terpengaruh oleh apapun. Karena Rasulullah menyampaikan risalah tauhid bukan supaya ditaati orang, tapi membuat orang taat pada Allah. Tapi karena prasangka dan kecintaan pada dunia, semua kesempurnaan yang ada pada diri Rasulullah seolah menghilang dari orang – orang yang menentangnya.

Maka, tentang prasangka, kita harus hati – hati padanya. Karena dalam diri orang yang berprasangka, Allah hujamkan kegelisahan dihatinya. Orang yang berprasangka menjadi buta dan tuli terhadap kenyataan. Yang dia cari bukan kebenaran, tetapi pembenaran atas prasangkanya. Makanya setelah berprasangka, orang menjadi tajassus. Mencari – cari yang bukan hak dan kewajibannya. Mengorek – ngorek hal yang bukan tanggung jawabnya di dunia dan akhirat. Setelah tajassus, berlanjut menjadi sesuatu hal yang paling dibenci Allah, paling hina dan menjijikkan, yaitu ghibah. Sesuatu yang dalam Al-Qur’an diumpamakan seperti manusia kanibal. Astaghirullah tsuma Naudzubillah.

Berprasangka buruk akan selalu melahirkan banyak hal buruk. Gara – gara suudzhan terhadap seseorang, tertutup pintu untuk kita  mengambil ilmu dan hikmah dari orang tersebut. Gara – gara suudzhan, jadi buruk hati, tajassus, ghibah, dan terhina. Makanya, suudzhan disebut sebagai seburuk-buruk perkataan. Padahal yang Allah senangi bukan suudzhan, tetapi kebenaran berdasar fakta yang ada.

Semoga kita bisa melihat dan meraba hati kita, untuk senantiasa menjaga agar tidak ada prasangka – prasangka buruk terhadap saudara kita, sehingga insyaallah, makna dari ukhuwah itu benar – benar mengakar dalam hati. Mengedepankan prasangka baik, atau khusnudzan, ini sepertinya yang harus kita latih, agar diri ini bebas dari penyakit hati, bernama suudzhan.  Seperti kata ustadz Salim dalam bukunya DKU, seperti itulah hakikat saudara, sebening prasangka dan sepeka nurani. Wallahu ‘alam bi showwab.

Iklan

2 thoughts on “Bukan berprasangka, tapi membeningkan prasangka

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s