Bila hati rindu menikah, dan jiwa rindu Arafah


Kamis, 6 Oktober, pagi, lautan manusia dipagi yang hangat itu memenuhi alun – alun Kota Demak. Suara shalawat dan talbiyah saling

Calon Haji

Calon Haji

bersahut – sahutan memecah suasana pagi, mengalahkan suara burung – burung, jangkrik, dan kodok sawah yang biasanya saling bersahut – sahutan juga. Memang hari itu satu hari yang membahagiakan bagi ratusan warga Demak yang mendapatkan kesempatan menyempurnakan rukun islamnya yang kelima, yakni melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Memang sih, hari itu bukan saya yang berangkat ke tanah suci, saya hanya bertugas menjadi driver bagi calon mertuanya temen saya kuliah dulu untuk mengantarkannya ke embarkasi haji Donohudan, Solo. Kebetulan temen saya ini belum bisa nyetir, jadi akhirnya saya yang menjadi drivernya hari itu. Deru kendaraan yang pada pagi itu padat merayap, lalu bercampur dengan lantunan indah kalimat talbiyah dan shalawat ibarat suasana arafah, dan menebar di seluruh penjuru Kota Demak, juga merasuk kedalam hati ini, hingga jujur saja ada kerinduan mendalam untuk segera menyempurnakan rukun Islam yang kelima ini. Sungguh, hati ini rindu mekkah, beribadah haji. (Lha wong menyempurnakan dien saja belum kok mau menyempurnakan rukun islam, huff.. ckckckck.. dwi… dwi ^_^).

Setelah prosesi upacara haji selesai, akhirnya rombongan haji pun berangkat dengan 9 bus yang hari itu diberangkatkan dari kabupaten Demak. Kami berempat, dengan teman saya juga segera masuk ke Jeep Dauhatsu Ferozza untuk mengantarkan rombongan haji ke Solo. Bersama dengan laju kendaraan Jeep Ferroza yang saya driver-i diatas jalan Tol Muktiharjo-Tembalang dengan kecepatan full 100km/jam (hmm, mobilnya masih tangguh juga ni) bersama itu pula romantika – romantika peristiwa, yang kata ustadz Sholihun adalah wasilah tarbiyah untuk saya, terjadi, ya kurang lebih 3 hari terakhir dipekan ini, menjadi satu hal yang mengesankan, hari yang menegesankan (begitu kata akh Dony, kalau menulis status :D).

Ya, saya selalu terngiang – ngiang apa yang pernah disampaiakn oleh ustadz Sholihun, bahwa setiap peristiwa adalah tarbiyah, yang ketika kita memaknai bahwa setiap peristiwa dalam hidup kita adalah satu bentuk tarbiyah, tentu akan ada makna yang dalam disana. Karena pada hakikatnya tarbiyah itu sendiri adalah pendidikan, maka setiap rangkain peristiwa yang membersamai kita adalah sarana tarbiyah atau pendidikan bagi diri kita. Peristiwa apapun dalam hidup ini dalam waktu kapanpun, ketika kita maknai lebih dalam, akan selalu menjadi tarbiyah bagi diri kita, untuk menjadi lebih kokoh, lebih baik lagi. Hal itu juga yang saya dapat maknai, rangkaian – rangkaian peristiwa ini akan menjadi sarana bithanah (pengokohan) diri ini dalam lingkaran tarbiyah. Begitulah dengan 3 hari terakhir dipekan pertama oktober ini, menjadi sesuatu yang mengesankan bagi saya.

Teringat 2 hari yang lalu, ketika saya harus mengantarkan sesuatu ke Wonogiri, saya bertemu dengan the special, namanya Alif. Rafi

Im with Rafi

Im with Rafi

Alif Musthofa. Dia bukan tokoh sih, tetapi dia adalah calon tokoh masa depan. Dia adalah anak dari mbaknya istrinya mas saya. Usianya baru kurang lebih 5 bulan. Jadi masih imut – imutnya. Dan pagi itu, saya berkesempatan untuk menggendongnya, mengajaknya jalan – jalan, menikmati sejuknya udara pagi Wonogiri, saya ciumi habis – habisan, saya pencet hidungnya. Saya raba pipinya, mulutnya. Dia hanya tersenyum kecil. Kayaknya senang dengan saya. Ah, hati ini kembali berdesir, ingin rasanya segera memiliki semacam Alif. Ah, kapan ya, Allah, mudahkan. Dan, sebelum mentari pagi mulai menampakkan dirinya dan memerah, saya sudah harus berpisah dengan Alif. Rindu sekali dengannya. Tetapi inilah hakikat hidup. Kata Ustadz Salim, ada perjumpaan, ada saatnya perpisahan. Tetapi, ada inspirasi pagi itu, yang saya dapat dari seorang Alif. Dan sungguh, tiga hari itu, hari yang mengesankan, dan membuat hati dan jiwa ini kembali berdesir halus, kapan momentum itu tiba. Kapan ya. Kapan ya. Dan saya kembali teringat pernah membaca artikelnya mbak Nisa, berkhusnuzan sama Allah. Yap, jawabannya, berkhusnudzan sama Allah.

Bila hati ini rindu menikah, dan jiwa ini rindu arafah. Dua hal, yang sebenarnya ingin segera saya wujdukan. Entah kapan. Hanya waktu yang mampu menjawab. Dan, khusnudzan saja sama Allah, sang penggenggam jiwa, sang Maha pembolak balik hati. Ya, khusnudzan saja sama Allah.

Ya Allah, mudahkan. Semoga seekor kambing ini menjadi pengganti mimpi – mimpi ini. Amin.

3 thoughts on “Bila hati rindu menikah, dan jiwa rindu Arafah

  1. kadang kita lupa bahwa Allah memiliki rencana atas manusia… sehingga kita terllau sering bertanya bertanta dan bertanya sehingga seolah manusia itu terjebak pada kekufuran atas nikmat Rabbnya. Ya itulah manusia… kadang ingat dan kadang lupa. namun bagaimana kita harus segera sadar dari kealfaan dan senantiasa menguatkan tauhid kita pada Allah bahwa semua itu adalah kehendak dan rahasia Allah yang kita tidak tahu kapan akan datang. Salam ukhuwah. Yetik Herlina NTB

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s