Mengokohkan amal dalam dakwah (Amalyatud dakwah)


“Pikiran tak dapat dbatasi, lisan tak dapat dibungkam, anggota tubuh tak dapat diam. Karena itu juika kamu tidak disibukkan dengan hal – hal besar maka kamu akan disibukkan dengan hal – hal kecil”. (Abdul Wahab Azzam)

Alhamdulillah, ikhwah, seiring berjalannya waktu, aktivitas – aktivitas tarbiyah kita akan semakin padat merayap, akan senantiasa

Amal

Amal

banyak hal – hal besar yang mesti kita segera selesaikan. Sedangkan ruang – ruang yang tersedia dalam dakwah ini akan semakin terbuka lebar. Konsekuensi dari ruang – ruang yang semakin terbuka lebar tersebut, adalah cobaan dan hambatan yang membersamainya pun akan semakin kuat dan tak terbendung.  Ibarat bendera yang lebar, kibarannya akan kencang, tiupan angin dan gangguan cuaca, serta suhu pun akan semakin kuat. Hal ini menuntut dan mengharuskan tang pemancangnya harus kokoh menahan goncangan. Begitu juga dengan dakwah ini, semakin kuat hambatan dan rintangannya, akan menuntut kekokohan kapasitas dan mentalitas kader – kader pengusungnya.

Salah satu hal yang tertarik ingin saya bicarakan dalam artikel ini terkait pengokohan dakwah (Bithanah Ad-Da’awiyah) bagi para kader dakwah adalah tentang risalah ta’lim poin ke tiga, al-amal. Tentang amaliyatud Da’wah.

Kita sangat paham bahwa roda perputaran dakwah ini merupakan tuntutan sepanjang zaman dalam rangka mewujudkan misi ajaran Allah SWT. Sehingga sellau bergulir dari satu generasi ke generasi lainnya. Mengajak umat manusia kepada jalan kebajikan dengan menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran agar tidak ada lagi fitnah di muka bumi. Amaliyah ini senantiasa ada selama masih berputarnya roda kehidupan.

Tabiat amal memang selalu muncul dan muncul tanpa pernah bisa dibendung. Waktu yang berjalan mengiringi jalannya amal. Bahkan keduanya saling berlomba berdatangan. Kadang waktu mampu menyelesaikan sebuah amal. Namun tidak jarang pula amal datang tanpa bisa waktu menuntaskannya mmeski telah berlalu beberapa penggalannya. Malah seringkali amal itu lebih banyak dari waktu yang tersedia sehingga ia tidak bisa diselesaikan oleh satu kurun waktu atau satu generasi, tetapi ia diselesaikan oleh kurun waktu yang lain atau generasi berikutnya.

Kedatangan amal yang tak kenal henti suudah menjadi tabiat alam semesta. Selama putaran alam ini tidak pernah berhenti maka selama itu pula putaran amal yang tak akn berhenti.  Meski demikian bagi seorang kader dakwah putaran waktu yang seiring dengan putaran amal bukanlah sesuatu yang harus dihindari melainkan harus diantisipasi agar dapat mengikuti alur perjalanan waktu dan amal. Seorang ulama dakwah telah mengingatkan para a’dho nya dengan menyatakan ‘fajri bihadzihil ‘amal, tajri ma’aka, mengalirlah bersama amal – amal ini niscaya ia akan mengalirkan dirimu’. Karena itu catatan yang perlu kita tulis adalah jangan sampai mengabaikan kesempatan dan peluang yang telah diberikan kepada kita. Namun bila hal ini terabaikan maka nikmat kesempatan itu menjadi sia – sia. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa, ‘ada dua kenikmatan yang sering dilupakan manusia yakni kesempatan dan kesehatan’. ( HR Muslim).

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa hakikat seorang mukmin sejati adalah beramal, beramal, dan beramal.  Sehingga seluruh waktunya selalu diukur dengan produktivitas amalnya. Karena itu diam tanpa amal menjadi aib bagi orang beriman. Mereka harus mencermati peluang – peluang untuk selalu berbuat. Maka perlu diingat bahwa ‘nganggur’ akan dapat menjadi pintu kehancuran. Tidaklah mengherankan bahwa banyak ayat maupun hadits yang memberikan motivasi dan rangsangan agar selalu berbuat dan menghindari diri dari sikap malas dan lemah untuk berbuat. Untuk itu Rasulullah SAW menyegerakan para sahabat melanjutkan agenda lainnya sebab bila tidak, yang terjadi adalah peluang konflik dan friksi antar sesama atau bahkan disibukkan dengan hal – hal sepele.

Irama hidup orang yang beriman hendaknya sellau terus berada siklusnya yang mesti berputar maka sesudah menunaikan satu tugas ia harus menyiapkan diri untuk menunaikan tugas lainnya. Siklus demikian dapat menyehatkan diri dan amalnya karena ia mampu memanfaatkan waktunya untuk mengukir goresan indah.

“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjalankah dengan sungguh – sungguh urusan yang lain”. (QS. Al-Insyirah: 7)

Bila perjalanan amal yang begitu panjang sering terjadi dalam kehidupan ini maka tidak ada pilihan lain kecuali mempersiapkan diri untuk mengarunginya. Salah satu penyiapan yang amat perlu dimiliki adalah sikap tidak pernah lelah dan terus merasa lelah akan memperkecil potensi produktivitas dan menggerogoti energy untuk berbuat. Maka kita perlu mengantisipasi dan emmerangi eklelahan kita. Bisa dengan recovery tarbiyah dengan mendidiplinkan diri dalam menerapkan manhaj, rihlah tarbawiyah, siyasah atau amal – amal tarbawi lainnya. Kata Rasulullah SAW suatu ketika, ‘rehatkanlah hatimu karena hatimu tidak terbuat dari batu’. Oleh karena itu semangat beramal dalam dakwah, amaliyatud dakwah harus selalu menjadi motivasi kita dalam kerja – kerja besar itu, dan tidak boleh redup. Ia perlu dikobarkan kepada segenap sanubari para  aktivis dakwah.  Wallahu ‘alam bi shawab.

Disampaikan dalam taujih mendadak di syuro SC Daurah Marhalah 1 KAMMI Unnes, 29 September 2011, ditulis juga di Tweetland dalam #Kultwit

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s