2. Kerikil-kerikil kecil


Dia, lelaki separuh baya itu, sebenarnya beliau lelah, terlihat guratan – guratan wajah lelah Nampak menghiasi wajahnya. Tetapi hal itu

Kerikil tajam

Kerikil tajam

tak menghalangi niat dan kemauan kerasnya untuk mendakwahi kaumnya, untuk memberikan cahaya kepada kaumnya di Thaif. Namun ternyata hanya batu – batuan yang dilemparkan kepadanya, sampai kakinya berdarah. Kadang juga kotoran yang dilemparkan kepadanya. Tak jarang pula cacian, hujatan, makian yang diterimanya. Sampai Sang Malaikat pun merasa iba melihat nasibnya, dan mencoba menawarkan bantuan untuk meratakan kota itu dengan tanah. Tetapi ia menolak dengan halus, dan sembari berdoa, kalaulah hari ini mereka belum beriman kepadaku ya Allah, jadikan anak keturunannya menjadi pengikut setiaku, menjadi penyeru yang paling agung. Begitu pintanya kepada Allah Azza Wa Jalla.

Sekali lagi inilah jalan dakwah. Begitulah tabiat jalan dakwah ini. Jalannya panjang, penuh cobaan dan rintangan. Tetapi itu tetap tidak menghalangi kekokohan mentalitas Rasulullah SAW, seorang pria yang diutus untuk menyeru kepada kaumnya. Tak menghalangi kekuatan kesungguhannya dalam menapaki jalan terjal dan kerikil – kerikil tajam itu, bahkan sambil tersenyum, dan merasakan nikmatnya dakwah. Lalu, akupun ingin demikian. Merasakan nikmatnya berdakwah. Menyeru kepada kebaikan.

Kurebahkan tubuhku dikasur untuk sejenak merilekskan otot – otot dan pikiran dan juga memberikan hak pada tubuh ini untuk beristirahat agar kembali fresh sehingga dapat membantuku kembali untuk beraktifitas. Lebih kurang 30 menit kulepaskan segala kepenatanku dikasur tercinta, sayup – sayup kudengar suara adzan Ashar dari mushola didekat kos, bergegas kuambil air wudhu, sekilas kulihat si Abi masih tertidur dengan pulas di dipan  teras. Setelah kuambil air wudhu, kubangunkan seluruh anak – anak kos yang hari ini kos keliatan sepi, karena para penghuninya pada tidur, tak terkecuali Abi, yang memang paling bandel diantara teman – temannya yang lain. Tetapi walaupun begitu aku terus berusaha untuk terus mengkondisikan kos untuk tetap menjaga amalan yaumiyah (amalan harian), lalu selanjutnya untuk masalah hidayah, itu urusan Allah dengan makhluknya. Setelah shalat ashar selesai, akupun segera beranjak kekamar dan mengambil mushaf untuk membaca qur’an, tiba – tiba hanphone berdering, segera kulihat dan ternyata yang menelepon adalah ibuku dirumah, tiba – tiba wajahku kulihat dicermin cerah, ya ada kebahagaiaan tersendiri ketika yang menelepon itu adalah ibu tercinta, sudah lama rindu ini terpendam, apalagi aku sudah lama tak pulang, minimal dengan mendengar suara ibu, rasa rindu ini agak sedikit berkurang, apalagi biasanya ketika ibu menelepon pada tanggal – tanggal muda sepert saat ini, pasti ada hubungannya dengan uang. Jadi ada dua kebahagiaan sore itu, berbicara dengan ibu sekaligus dapat kiriman uang, begitu pikirku.

“ Halo, assalamu’alaikum bu’e, pripun bu, wonten nopo?”

“ Wa’alaikumsalam, piye kabarmu nang?”

“Alhamdulillah sae bu’e, panjenengan pripun?”

“Alhamdulillah baik nak, nak ibu mau bicara kalau bulan ini ibu tidak dapat transfer uang untuk kamu, karena ada masalah dirumah..”

“ masalah apa bu’e?”

“ begini, adikmu si Fany kemarin sekitar 6 hari yang lalu baru saja terkena demam berdarah, dan sekarang dia masih tergeletak di rumah sakit ”

“ Innalillahi wa inna illaihi roji’un…. Berarti kalu begitu saya pulang ke rumah aja bu..”

“ tidak usah, insyaallah si fany udah mendingan, kamu mending ga usah pulang dulu, wong kamu juga masih sibuk ujian to?”

“ iya bu’e”

“uang kamu di ATM masih to?”

“ma..ma..masih bu’e, semoga Fany lekas sembuh ya bu’e, salam buat Fany, mas Azzam dan Falah ya bu’e”

“ Iya nanti tak sampek’in, maafin bu’e ya le..”

“ ga apa apa bu’e, justru Faris yang harus minta maaf sama bu’e”

“Cukup dulu ya le, ga enak sama yang punya telpun, udah terlalu lama, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam” klik, telepon pun putus.

Helai nafas panjang mengiringiku ketika ibuku meneleponku, ada sedikit kekecewaan dan kesedihan menggelayuti hatiku. Kecewa karena tidak mendapat dana segar, sedih karena lagi – lagi keluarga kami terkena musibah, setelah sekitar 5 bulan yang lalu Ayah kami tercinta harus pergi untuk selamanya karena tertindih kayu pada saat beliau menebang pohon di Kalimantan. Kejadian yang waktu itu membuatku shock berat yang secara tak sadar terlintas kembali dibenakku. Ketika itu, keluarga kami tergolong keluarga yang pas – pasan, bahkan bisa digolongkan keluarga yang kekurangan. Ibu kami hanya seorang pedagang sayur keliling dikampung kami, sementara Ayah kami hanyalah seorang pengrajin mebel kecil – kecilan. Untuk mencukupi kebutuhan hidup yang semakin lama semakin mencekik leher karena selain mencukupi kebutuhan kuliahku, masih juga menanggung beban adikku, si Fany yang masih berusia SMP dan Falah yang masuk sekolah SMA favorit dikotaku. Akhirnya Ayah memutuskan  untuk ikut teman – temannya berimigrasi ke Kalimantan Timur di daerah hutan untuk membantu mengerjakan proyek dari Departemen Kehutanan. Selama kurang lebih 1 tahun ayah senantiasa mengirim uang bulanan ke Jawa dan itu sangat membantu perekonomian keluarga kami, hingga akhirnya tibalah saat yang menyedihkan itu, ketika itu Ayah bertugas untuk menebang pohon dengan mesin chain shaw nya, ternyata kayu Kalimantan yang dipotong Ayah terlalu a lot, sehingga memerlukan kerja keras bagi Ayah. Selang 10 menit kemudian terpotonglah kayu besar tersebut, tetapi masih berdiri karena tersangkut rimbunan bambu, lalu ayah menyuruh kenek kayu untuk membersihkan rimbunan bambu tersebut. Tetapi rupanya sang kenek lupa memberi kode ketika rimbunan bambu telah dibersihkannya, hingga kayu besar terebut menindih Ayah hingga beliau meninggal ditempat seketika.

Tak terasa air mataku membasahi pipi ketika mengingat kejadian itu, guratan kesedihan kembali menggelayuti hatiku. Segera aku beristighfar, dan mengusap air mataku, kuambil peralatan mandi  dan bergegas kulangkahkan kaki ke kamar mandi. Aku sadar, walaupun kondisi keluargaku demikian, saat ini aku sedang menjalankan amanah sebagai ketua lembaga, dan didepan saudara – saudaraku, harus kutampakkan wajah penuh keceriaan agar kesedihanku ini tak terlihat. Seperti halnya wajah Rasulullah yang mulia, walaupun beliau selalu berada dalam kondisi serba kekurangan, itu tak menyurutkan semangat beliau untuk terus menyeru kepada kebaikan, dan selalu menampakkan wajah ceria dihadapan sahabat – sahabatnya. Akupun ingin demikian, setidaknya mencoba untuk mencontoh Sang qudwah. Setelah mandi dan berganti baju, akupun bergegas menuju ke Masjid Daarul Iman di banaran untuk mengikuti kajian pekanan. Hari itu katanya temen idaari halaqoh tadi malam, yang mengisi kajian adalah ustadz Ari, yang memang kafaah beliau di Tazkiyatun Nafs, dan mungkin materinya sangat pas dengan keadaanku saat ini. Lagi membutuhkan tausiyah tentang kesemangatan.

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s