1. Bersama embun Tarbiyah


Siang itu, di simpang empat Universitas Negeri Semarang (Unnes) udara khas daerah sekaran muncul lagi. Sang mentari bersinar sangat

Setitik embun tarbiyah
Setitik embun tarbiyah

terik sehingga udara disekitar pun menjadi panas. Jalanan penuh dengan motor dan mobil yang lalu lalang sehingga semakin menambah suasana yang sesak. Belum lagi suara – suara knalpot dari kuda – kuda besi itu yang membuat suasana semakin runyam, panas, gaduh, dan sangat membosankan. Walaupun terletak di desa, yaitu di sekaran, gunungpati, akhir – akhir ini (Unnes) tak ubahnya seperti kampus metro. Belum lagi ini waktunya “mahasiswa kampungan”. Maksudnya waktunya libur semester dan para mahasiswa pun ramai – ramai mudik ke kampung, dan akibatnya jalanan pun menjadi ramai karena banyak mahasiswa yang pulang kampung.

Udara siang terasa panas sekali sehingga berkali – kali aku harus menyeka keringat di pipi dan punggungku. Padahal seharusnya  secara hitungan diatas kertas, bulan ini sudah masuk musim hujan, tapi entah mengapa sang hujan belum juga menampakkan kesejukannya, mungkin karena makhluk yang menghuni bumi ini kurang mensyukuri nikmat hujan yang diberikan Allah, dan malah menjadikan hujan sebagai sarana untuk melakukan hal – hal yang menjauhkan kita dari rasa syukur itu, malas misalnya. “wah, hujan nih, jamaah sholatnya dikos aja ya..”. Atau ada sms masuk ke HP seorang mas’ul syuro yang berbunyi“ Af1(Afwan¹) akhi, ana gak berangkat syuro, cz dikos ana hujan n g’da payung”. Inilah kita, makhluk Allah yang bernama manusia, yang kadang atau bahkan lupa untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada kita.

Segera kupercepat langkah kakiku untuk segera sampai di Mushola, karena aku harus segera memimpin Syuro². Jam ditanganku menunjukkan pukul 12.43 WIB, masih ada 10 menit lagi untuk sampai ditempat syuro’ dan 7 menit sisanya untuk memikirkan rencana – rencana yang harus kusampaikan dalam syuro nanti. “ Agar syuronya efektif, antum³ harus pikirkan dari rumah, kalau perlu dicatat poin – poin penting yang nanti disampaikan dalam syuro ”, begitu nasehat akh Moko, ketua rohis di Fakultas kami ketika itu, dan terus kuingat hingga kini. Sebagai seorang mas’ul⁴ akupun harus mencontohkan hal – hal paling mendasar namun sangat penting dalam islam, yaitu menghargai waktu. Dalam islam, waktu sangat – sangat penting, bahkan Allah pun sampai bersumpah atas  makhluknya yang satu ini.

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. (Al –  Ashr’ 1- 3)

¹ Bahasa arab yang berarti ma’af

² Bahasa Arab yang berarti bermusyawarah/ rapat, yang selalu diawali denga tilwah, dan tausiyah

³ Bahasa Arab yang berarti kamu (jamak), lebih sopan pengucapannya dari kata anta/anti

⁴ Bahasa Arab yang berarti penanggung jawab/ketua

 

Matahari siang ini seperti diganduli malaikat, waktu serasa berhenti, ditambah dengan suara deru mesin – mesin semakin memekakkan telinga. Namun, semangatku justru sama dengan keadaan itu. Panas, menggelora. Memang, jarak dari kosku ke mushola tempat syuro lumayan jauh untuk seorang pejalan kaki seperti aku. Kosku yang berada digang semangka dengan mushola dikampus sekitar 400 meter, itu juga aku harus memutar mengelilingi gerbang utama kampus dan masuk kegang melati untuk sampai ketempat, karena jalan utama yang biasa kulalui sedang diperbaiki, sehingga jarak yang kutempuh sekitar 700 meteran. Sekitar 10 menit kemudian, akhirnya sampai juga aku di Mushola tercinta. Mushola yang keadaannya sungguh memprihatinkan. Cat – cat didindingnya sudah mulai mengelupas dan atapnya pun sudah harus segera diganti karena banyak atap yang mulai pecah. Sangat memprihatinkan. Pernah suatu ketika teman – teman rohis mengajukan permohonan perbaikan mushola kepada pihak fakultas. Ditanggapi memang, tetapi tidak ditindaklanjuti. Entah sampai kapan  mushola ini akan terus begini. Lagi – lagi sang waktu yang mampu menjawab. Walaupun begitu, banyak kenangan yang ditorehkan dari para aktivis – aktivis dakwah dikampus ini. Mushola ini menjadi saksi bisu tentang cita – cita suci para aktivis dakwah, menjadi saksi tentang perjuangan, menjadi saksi tentang komitmen, tentang ukhuwah. Dimushola kecil ini menjadi saksi, betapa hati mereka telah terkumpul menjadi satu, menjadi saksi ketika saff – saffnya sangat lurus, dan tumit- tumitnya saling menyentuh sehingga tak ada cela sedikitpun bagi sang terlaknat untuk masuk dan mengganggu mereka. Mirip. Mirip sekali dengan kondisi kaum Muhajirin dan Anshar di zaman Rasulullah. Namun tidak sampai tuker – tukeran istri. Karena memang belum menikah.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati – hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada – Mu, bertemu untuk taat kepada – Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dakwah dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadi-kanlah kasih sayangnya, tunjukkan jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup , lapangkanlah dadanya dengan limpahan dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid dijalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik – baik pelindung dan sebaik – baik penolong. Amin.

Segera aku berwudhu untuk mensucikan kembali diri ini, sekaligus untuk menyejukkan otot – otot yang tadi menegang. Segera kubuka mushaf tercinta untuk sejenak mengarungi keindahan kalam Illahi sambil menunggu yang lain datang. Kubuka surat Al-Ankabut.

Waman’jahada fa inama yujahidu linafsihi. Innallaha laghaniyun ‘anil ‘alamin. Waladzina aamanu wa’amilushalihati lanukafirana ‘anhum sayyiaatihim walanajziyannahum ahsanalladiikanu yakmauluun. (Dan barangsiapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah mahakaya dari seluruh alam. Dan Orang –orang ang beriman dan menerjakan kebajikan , pasti akan Kami hapus kesalahan – kesalahannya dan mereka pasti akan Kami beri balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan).

Baru dua ayat kubaca Surat yang didalamnya berisi indahnya pahala jihad bagi orang – orang yang berjihad, sejurus kemudian seorang pengendara motor semakin mendekat ke mushola. “Akh Hadi.”pikirku. kemudian seorang laki – laki berperawakan kurus  berambut sedikit keriting dan berjanggut tipis turun dari sepeda motor yang tampak tidak terawat dengan baik.

“Assalalamu ‘alaikum ya akhi ”

“Wa’alaikumsalam, oh akh Hadi to, antum darimana, kok bawa helm segala “, tanyaku, sambil menghentikan dan membatasi mushafku.

“ tadi habis dari Johar, beli sepatu olahraga, untuk jogging akhi, biar badan bugar dan dakwah pun lancar. Akh Faris, ana ke belakang dulu ya “ jelas Hadi. Setelah meletakkan tas dan jaketnya, Hadi pun pergi ke kamar kecil dibelakang mushola, sementara menunggu yang lain datang, kulanjutkan kembali membaca Al-Ankabut.

Setelah membaca mushaf, kubuka kembali catatan semalam untuk pembahasan syuro hari ini. Hari ini agendanya adalah agenda terdekat dibulan Ramadhan, dan lebih difokuskan ke tarhib ramadhan, dan nanti tinggal menunggu laporan per PJ terkait konsep per – kegiatan. Teman – teman panitia menginginkan kalau kegiatan Ramadhan dikampus tahun ini harus lebih semarak dari tahun lalu, sehingga membutuhkan konsep – konsep yang brilian agar kemasan kegiatan bisa lebih menarik. Tak lupa yang paling penting bagi kami adalah dana. Karena tanpa dana, kegiatan akan tersendat dan tidak berjalan dengan sukses. Walaupun dari Fakultas menganggarkan estimasi dana untuk kegiatan Rohis, namun setelah dihitung – hitung ternyata masih jauh dari cukup, sehingga kondisi tersebut menuntut kami untuk lebih kreatif mencari dana, bisa melalui jaur sponsorship, donatur, atau mepet – mepetnya ngutang dulu sama senior yang sudah punya maisyah. Dan memang, selain cakap dalam urursan Agama, setidaknya seorang aktivis dakwah harus berpenghasilan alias mandiri dalam hal ekonomi, seperti yang telah dicontohkan oleh qudwah terbaik kita Rasulullah, selain berdakwah, beliau juga menjadi pedagang. Dan kita, sebagai ummat Muhammad, harusnya meniru keutamaan – keutamaan dari panutannya. Akupun berusaha untuk menjadi mahasiswa mandiri dalam hal ekonomi, karena selain mampu sedikit meringankan beban orang tua, juga melatih dan mengasah jiwa wirausaha. Ya, saat ini aku menjadi didtributor buku – buku terbitan salah satu penerbit terkenal dari Jogja, walaupun kecil hasil yang diperoleh dari agen buku tersebut, tetapi setidaknya ada dua manfaat yang ku peroleh. Pertama aku bisa mempunyai maisyah, yang kedua aku berkesempatan untuk mendapatkan referansi buku baru yang bagus.

Setelah Hadi datang, kemudian berturut – turut akh Aza, akh Sulaiman, akh Andi, dan beberapa akhwat pun datang ke mushola. Setelah semua anggota syuro’ hadir dan waktu telah menunjukkan pukul 13.03 WIB segera kumulai agenda syuro’ hari itu, dengan harapan syuro’ kali ini berjalan efektif. Bagi kami, kesuksesan sebuah agenda dakwah  adalah berawal dari sebuah efektfitas dalam melaksanakan syuro’. Sehingga ada ungkapan yang harus selalu kuingat, syuro’ efektif, dakwah pun massif.

Beginilah. Beginilah dakwah mengajarkan kami. Tentang indibath, tentang ukhuwah, tentang segalanya. Kami bahagia berhimpun dalam barisan ini, bersama mereka, merasakan sentuhan embun tarbiyah. Embun tarbiyah yang menyegarkan hari, memberikan kedamaian dihati. Kami bahagia, bersama embun tarbiyah.

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s