Cerita tentang dia


Sabtu (30/07) atau di akhir bulan Sya’ban dan menjelang Ramadhan ini, ada

My Lovely Mom

My Lovely Mom

satu kisah yang membuat hati ini terasa terenyuh, terasa berdesir bagai dibelai oleh sepoi angin kerinduan yang mendalam. Dan satu kisah itu kembali tentang dirinya, yang semakin membuat diri ini yakin bahwa dirinya adalah orang terbaik, atau bahkan malaikat yang diturunkan untuk menjaga bayi kecil, menyuapi, melindunginya dari berbagai marabahaya, lalu melatih berjalan, kemudian menyekolahkan, dan hingga besar tetap membuat diri ini tetap tersenyum, dan merasa sangat sedih ketika diri ini tergolek tak berdaya saat sakit, saat menangis, dan merasa sangat sedih ketika bibir ini berteriak dan air mata meleleh karena tangis.

Sekali lagi ini cerita tentang dirinya, tentang kelembutan kasih sayangnya, yang bahkan melebihi lembutnya kain sutera sekalipun, keikhlasan jiwanya untuk mendidik anak – anaknya tak tergantikan oleh yang lain. Dirinya yang walau dalam keadaan lelah setelah seharian mengajar, tetap mempersiapkan baju dan disetrika dengan rapi agar bisa dipakai anaknya untuk pergi ke sekolah. Kadang dia mungkin marah, tetapi marahnya adalah bumbu – bumbu kecil dalam lingkaran cinta berpadu rindu yang mendalam, ingin agar anaknya menjadi orang yang berguna, bermanfaat bagi banyak orang. Dan rupanya lingkaran cinta dan rindu itu sudah menyatu dalam jiwanya, menyatu dalam dirinya, sehingga nampak sesekali kulihat mata sayu tersebut menatap lembut penuh cinta.

Ah, dia memang bukan seorang pilot yang handal menerbangkan pesawat terbang, dia memang bukan seorang dokter yang pandai menyembuhkan pasiennya. Dia hanya seorang kepala SD di desa nan pelosok. Tetapi itu sudah cukup untuk membuatku mengatakan, engkaulah pilot terbaik, yang mampu  menerbangkan pesawat – pesawat cinta dengan lihainya, yang mampu membuat hati ini melayang – laying diudara. Engakulah dokter spesialis pengobat rasa rindu yang mendalam dalam dada ini, yang mengobati dengan sepenuh hati, dengan segenap kasih sayang.

Sekali lagi, ini tentang dirinya, teringat saat – saat diri ini bergegas berangkat ke perantauan, engkaupun menyiapkan satu bakul nasi, dibungkus dengan daun pisang dengan lauk kesukaanku, ayam lodeh, lalu memasukkan kekantong plastic hitam. Lalu sesampai dikos, ternyata nasi tersebut nikmat sekali, bukan karena ada ayam didalamnya, tetapi karena bercampur bumbu-bumbu cinta, berpadu dengan sayur kasih sayang, dan dengan lauk kerinduan yang mendalam.

Ah, banyak sekali sebenarnya yang ingin kuceritakan tentang dirinya, tentang keluasan keikhlasannya, tentang kasih sayangnya yang tulus, yang bahkan luasnya melebihi samudera hindia. Tetapi biar, biarlah, hanya aku dan dia yang tahu, betapa aku sangat merindukannya, betapa aku sangat mengharap dirinya selalu didekatku, lalu membelai lembut rambutku, seperti diwaktu itu, waktu dimana kau hiasi diriku dengan cerita – cerita sebelum tidur, dan akhirnya akupun tertidur. Pulas.

Satu lagi, ini tentang engkau, Tuhan. Izinkan aku berdoa. Berkahilah hidupnya, panjangkanlah usianya, dan semoga hidupnya senantiasa dalam naungan hidayahMu Tuhan. Akhirnya, sebelum mata ini terpejam, ingin aku ucapkan satu kalimat untuknya, Terimakasih, Ibu.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s