Kontekstualisasi amandemen filosofi gerakan KAMMI


Berbicara tentang perubahan – perubahan yang ada di KAMMI, kita tentu tidak mungkin akan melupakan peristiwa bersejarah Mei 1998

KAMMI

KAMMI

yang merupakan tonggak awal tercipatanya era baru di Indonesia, dan KAMMi saat itu menjadi elemen penting dalam peristiwa menyejarah tersebut. Keberadaan KAMMI cukup menjadi perhatian yang sangat serius dalam upaya mengembalikan kejayaan Indonesia. KAMMI, yang dilahirkan pada 29 Maret 1998, atau kurang lebih 2 bulan sebelum peristiwa aksi besar – besaran menuntut mundurnya Soeharto berlangsung, pada waktu itu hanya merupakan sebuah komite aksi yang bergerak secara frontal melalui aksi – aksi jalanan. Aksi – aksi yang dilakukan adalah aksi jalanan dengan isu yang masih sangat khas, setelah era 98 berlalu dan memasuki reformasi, KAMMI pun merubah bentuk gerakan yang dalam hal perubahan mendasar bentuk gerakan ini mempunyai dampak signifikan terhadap perkembangan organisasi KAMMI itu sendiri. Perubahan dasar yang berdampak signifikan tersebut adalah perubahan dari bentuk gerakan berupa komite aksi menjadi sebuah ormas. Mengapa perubahan tersebut dikatakan berdampak signifikan terhadap organisasi? Ya, karena dari bentuknya sendiri sudah berubah menjadi ormas. Dari yang semula hanya sekumpulan orang – orang yang melakukan aksi – aksi jalanan, berubah menjadi sebuah ormas, dengan segal disiplin organisasi yang dimilikinya. Hal ini tentu menjadi sebuah lompatan besar bagi KAMMI untuk memasuki sebuah era baru, sebuah Organisasi KAMMI.

Hal kedua yang merupakan hal mendasar yang berubah, yang menunjukkan semakin matangnya KAMMI dalam bergerak, adalah perubahan visi KAMMI, dari yang semula visinya adalah ‘KAMMI merupakan wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia”, menjadi “KAMMI merupakan wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan Bangsa dan negara Islami di Indonesia. Ada perubahan yang mendasar dalam kata – kata yang termuat di visi KAMMI tersebut, yaitu dari yang semula masyarakat islami menjadi bangsa dan Negara Islami. Dari beberapa kata yang tertuang tersebut tentu menjadi sebuah landasan amal ke ranah yang lebih besar. Dari yang semula wilayahnya hanyalah mayarakat, kini berubah menjadi bangsa dan Negara, dan hal tersebut adalah lompatan besar dalam perjuangan KAMMI. Meskipun ini hanyalah berupa kata – kata yang terangkum dalam visi KAMMI, tetapi dalam sebuah visi, itu bukan sekedar kata – kata saja, melainkan lebih besar dari itu. Kata – kata tersebut adalah cakrawala, paradigma, dan perubahan mindset. Artinya ketika KAMMI sudah memposisikan bangsa dan Negara, maka ada hal – hal yang harus segera dirubah dari pola gerakan KAMMI itu sendiri. Dan hal tersebut adalah cakrawala berfikir, paradigma kita, dan mentalitasnya berubah, dari yang semula hanya fokus kepada entitas terkecil masyarakat, berubah kearah yang lebih besar, yakni bangsa dan Negara Indonesia.

Selanjutnya yang ketiga, perubahan – perubahan yang hadir di KAMMI sebagai salah satu bukti kematangan dalam sebuah gerakan adalah perubahan dari bentuk organisasi KAMMI yang semula ada KAMMI teritorial menjadi KAMMI Wilayah. KAMMI territorial pada waktu itu hanya merupakan perpanjangan tangan dari KAMMI pusat dengan penanggung jawab masing – masing daerah. Sedangkan saat ini setelah berbentuk KAMMI Wilayah, ada struktur yang ada di masing – masing wilayah tersebut dan menjadi pennaggung jawab di masing – masing wilayah, dalam hal ini adalah provinsi. KAMMI Wilayah yang tersebar di masing  – masing daerah tingkat 1 di Indonesia, memiliki peran untuk bertanggungjawab mengawal kebijakan ditingkat provinsi, terutama pengawalan anggaran daerah. Keberadaan KAMMI wilayah di masing – masing provinsi ini memiliki keuntungan tersendiri dalam proses menjalankan roda organisasi. Kalau diibaratkan KAMMI Pusat adalah pengawal isu – isu pusat, maka KAMWIL mempunyai andil besar bertanggungjawab terhadap isu – isu wilayah provinsi, sedangkan KAMDA bertanggungjawab sepenuhnya terhadap isu – isu Kota/Kabupaten. Beberapa keuntungan ini akan memudahkan terhadap kinerja serta fokus garapan KAMMI.

Sedangkan perubahan yang selanjutnya yang bisa saya cermati adalah semakin mengakarnya cap intelektualitas yang ada pada gerakan KAMMI itu sendiri. Hal ini tercermin dengan adanya paradigm gerakan Intelektual Profetik, yang menggunakan basis kampus sebagai embrio dari gerakan ini. Kalau dalam paradigma gerakan pertama adalah gerakan dakwah tauhid, yang berarti ranah geraknya adalah manusia, atau lebih mudahnya adalah dimana ada manusia, disitu KAMMI berada. Lanjut, dalam paradigm yang kedua adalah gerakan Intelektual Profetik, yang artinya dimana ada kampus, disitu KAMMI berada. Sedangkan dalam paradigm KAMMI yang ketiga adalah gerakan Sosial independen, sedangkan yang terakhir adalah gerakan ekstraparlementer, yang bermakna bahwa KAMMI akan mengawal kebijakan parlemen, diwilayah manapun, baik pusat maupun daerah.

Beberapa perubahan bentuk yang di KAMMI tersebut tentu bukan hanya perubahan secara kata – kata saja, tetapi adalah perubahan yang bersifat signifikan terhadap cakarawala, paradigma, dan mentalitas kita. Termasuk kata muslim negarawan yang tersemat di jaket – jaket KAMMI, itu bukan sekedar kata – kata, tetapi adalah spirit, spirit untuk membangun mentalitas negarawan, spirit untuk senantiasa menjadi rijalu ad – daulah.

Iklan

One thought on “Kontekstualisasi amandemen filosofi gerakan KAMMI

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s