Membangun mentalitas Negarawan


Hari Rabu (08/05/11), Training Kepemimpinan Nasional KAMMI Jogja sudah memasuki hari empat, dan untuk pagi ini para peserta

Foto dengan Ust. Cahyadi

Foto dengan Ust. Cahyadi

mendapat taujih spesial dari seorang ustadz yang juga penulis buku, berikut beberapa ringkasan materi yang disampaikan beliau, tentang membangun mentalitas negarawan. Mari kita simak baik – baik. Semoga bermanfaat dan barakah.

Yang paling awal, ketika memperbicangkan dakwah kita saat ini, perlu kemudian kita melihat sejarah – sejarah masa lampau agar kita tidak terjebak kepada pikiran – pikran sempit kita tentang dakwah ini. Agar kita kemudian tidak terjebak kepada paradigma yang kolot tentang dakwah ini. Agar kita semakin matang dan dewasa untuk terus bersama dakwah ini. Dan yang lebih penting lagi adalah agar kita menjadi lebih siap menyongsong mihwar selanjutnya di era dakwah kita saat ini. Perlu kemudian kita melihat pelajaran – pelajaran yang tertulis indah dalam buku – buku  referensi tentang dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat untuk mendakwahkan islam ketika itu.

Yang pertama perlu kemudian kita memahami tentang konsep dakwah rasulullah yang dibagi menjadi beberapa fase, yang pertama adalah fase Siriyatud dakwah wa siriyatud tandhim, terjadi pada tiga tahun pertama sampai tahun ke enam kenabian. Ada beberapa makna yang dapat kita ambil dari fase ini, yakni peristiwa masuknya dua sahabat rasulullah menjadi pengikut Islam ketika itu. Hamzah dan Umar. Hamzah dan Umar, seperti kita ketahui adalah sosok penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah pada fase awal ini, dimana dakwah dilakukan secara sembunyi dengan struktur yang tersembunyi pula. Masuknya Hamzah dan Umar yang merupakan tokoh masyarakat Mekkah ketika itu, memiliki makna – makna tentang kemanusiaan. Masuknya Umar dan Hamzah  dalam barisan dakwah Rasulullah telah memberikan semangat dan spirit para sahabat Rasulullah lainnya untuk berdakwah secara jahriyah. Kemudian, imbas lainnya dari masuknya dua tokoh Islam ini adalah keberanian para pengusung dakwah Rasulullah ketika itu untuk berdakwah secara terang – terangan. Yang semula begitu bersembunyi, setelah Umar dan Hamzah masuk, lalu berani menyatakan keislamannya secara terang – terangan. Ada makna sisi – sisi nilai kemanusiaan dalam peristiwa masuknya dua sahabat ini kedalam Islam.

Setelah kita memahami era ini, kemudian kita juga harus mengetahui makna dakwah Rasul di era Madinah, atau ketika dakwah sudah menuju fase jahriyatud dakwah wa jahriyatud tandhim. Ada tiga hal yang menjadi ciri khas di era ini, yakni transparani, adanya kekuasaan, dan praktis. Fase Madinah berbeda dengan metode dakwah rasulullah saat di Mekkah. Di fase Madinah, kekuasaan menjadi pilar pendukung utama dakwah, fase adanya trasnprasnsi artinya semuanya serba transparan, kemudian bersifat praktis, artinya bahwa metode dakwahnya langsung menyeru, menyentuh obyek dakwah, dan kalau tidak mau didakwahi kemudian diperangi. Begitulah konsepnya. Kekuasaan diambil dan wajib direbut untuk memuluskan tujuan – tujuan mulia dalam dakwah tersebut.

Nah, berangkat dari model dakwah di dua fase tersebut, kemudian kita komparasikan dengan mihwar – mihwar dakwah saat ini, dimana kit amengetahui bersama sudah masuk ke mihwar muasassi. Sedikit kembali ke belakang, kita mengetahui bersama kita telah melalui mihwar tandhimi, yang karakternya serba sembunyi, kemudian berlanjut ke tahapan sya’bi, dimana kita sudah memiliki basis – basis pendukung, di bidang pendidikan, LSM – LSM, lalu kemudian berlanjut ke mihwar muasassi, dimana kita sudah mulai masuk ke sektor – sektor policy, kebijakan publik, baik itu Eksekutif, yudikatif, maupun legislative. Dari semua mihwar yang sedang dan akan kita lalui tersebut, setidaknya kita belajar dari perjalanan dakwah Rasulullah diatas. Ketika mihwar ini baru sampai ke tataran tandhim, kita merasa nyaman, semuanya serba idealis, penuh dengan nuansa ruh yang luar biasa. Lalu berlanjut ke mihwar syabi, kita pun mendapatkan pujian bahwa kita adalah orang baik, sekolah – sekolah yang bagus, LSM yang bagus pula. Dan ketika mencapai mihwar muasassi, disinilah pergolakan, intrik itu mulai muncul. Kita mulai muncul ke ranah public, banyak berbenturan dengan kekuasaan, dan mau tidak mau, untuk menyampaikan nilai – nilai mulia tersebut kita masuk kedalam kekuasaan tersebut. Dan disinilah dimulainya masalah itu, masalah yang justru seringkali timbul dari internal diri kita. Mau tidak mau, siap tidak siap, suka tidak suka, kita akan berhadapan dengan banyak elemen yang kemudian tidak suka dengan keberadaan kita, sehingga mereka, dengan segala usaha dan upaya, mencoba membuat propaganda – propaganda, membuat isu yang memojokkan gerakan ini. Perang melalui media sudah dilancarkan untuk munydutkan kita, dan ternyata beberapa dari kita, kadang belum siap untuk menuju ke mihwar selanjutnya, kiat gampang terpengaruh dengan propaganda – propaganda tersebut, mudah terserang oleh isu – isu ringan itu.

Fakta mudahnya kita terprovokasi, itu hanya membuktikan bahwa mentalitas kita belum siap untuk menjadi negarawan. Ketika kita mendengar kabar ada salah satu ustadz dari gerakan ini bersalaman dengan Ibu Negara, kita langsung pusing, lalu menyalahkan dakwah ini, bahwa dakwah ini sudah kehilangan karakternya, bahwa dakwah ini sudah tidak berada pada tracnya semula. Atau isu – isu lainnya yang terjadi belakangan ini. Bahwa kita menginginkan mihwar daulah segera hadir, tetapi kita tidak memiliki karakter – karakter itu, karakter seorang negarawan. Inilah faktanya, bahwa kita lebih mempercayai propaganda – propaganda media daripada para qiyadhah kita. Padahal sebenarnya, titik kemanusiaan kita akan diuji ketika kita mendapatkan cobaan – cobaan dakwah yang demikian, titik kemanusiaan kit aakan diuji dengan hal – hal riil semacam ini.

Ada satu hal yang harus kita pahami bersama ketika kita berada dalam mihwar ketiga ini, bahwa kita akan selalu bersama dengan kekuasaan, dan sebuah sunatullah bahwa kekuasaan itu selalu diperebutkan. Tidak mungkin kekuasaan itu diberikan cuma – cuma. Dan kita harus isap dengan segala konsekuensi itu. Dan ketika berbicara mihwar muasassi, cobaan – cobaan terhadap gerakan dakwah ini, adalah bukan lagi  cobaan – cobaan yang diterima pada mihwar tandhim dan syabi. Mihwarnya sudah beda, cobaannya ya sesuai mihwar tersebut, begitu analoginya.

Kita sadar, bahwa dalam setiap tahapan dakwah selalu ada konsekuensi yang membersamainya, dan hal itulah yang akan membuat kita tegar di jalan dakwah, semakin kita berada dalam kondisi transparan, tantangan yang menghadang akan sesuai dengan era tersebut. Yang perlu kita lakukan, ketika kita segera menyongsong mihwar daulah, adalah membangun karakter negarawan itu dalam pikiran kita. Ketika kita menginginkan mihwar daulah itu segera hadir, paradigma, pikiran, kerja – kerja kita haruslah berkarakter paradigm negarawan, pikiran seorang negarawan, kerja – kerja seorang negarawan. Inilah yang harus kita bangun dari diri kita. Ketika hal ini sudah clear, maka tidak akan ada lagi kecemasan, tidak ada lagi ketidakpercayaan terhadap para qiyadha kita, dan kitapun siap menyongsong mihwar itu, membangun kembali kejayaan Indonesia. Walahu’alam bishowhab.

Taujih ustadz Cahyadi Takariawan dalam Training Kepemimpinan Nasioanal 3/Dauroh Marhalah 3 KAMMI Wilayah DIY (Rabu, 18/05/2011, pukul 08.30 – 11.00)

2 thoughts on “Membangun mentalitas Negarawan

  1. Ping-balik: Aku bahagia bersama mereka (Jazakallahu Ustadz) « Mengintip celah surga

  2. Ping-balik: Aku bahagia bersama mereka (Jazakallahu Ustadz) | Catatan Harian Sang Petualang

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s