Jenuh


Jenuh. Adalah kata yang barangkali sering kita ucap ketika kita berada dalam kondisi puncak dari aktifitas – aktfitas yang membuat

Jenuh

Jenuh

kita merasa capek, lelah, berada di titik puncak dari aktifitas yang kering makna. Jenuh, seringkali melanda kita saat kita justru berada dalam kondisi puncak aktifitas kita. Hal itu akbat dari kebiasaan yang terus menerus kita lakukan dalam aktifitas kita, tanpa adanya kreativitas dan improvisasi sehingga aktifitas – aktifitas yang kita lakukan berakibat kepada titik kejenuhan. Jenuh, sesuatu yang sering kita temui yang bisa datang kapan saja. Jenuh, adalah sebuah kata untuk menggambarkan tentang rasa ketidak tertarikan kepada rutinitas – rutinitas yang kita jalani dan itu menjadi kebiasaan kita. Dan ternyata akibat dari kejenuhan ini, orang sering melakukan sesuatu yang justru kadang terlihat aneh, dan bahkan ekstremnya, kita melakukan tindakan yang bertentangan dengan kebiasaan awal kita, atau bisa disebut irasional. Begitulah penyakit kejenuhan, yang barangkali pernah melanda kita, dalam setiap aktifitas yang kita lakukan. Begitu pula dengan aktifitas kita saat ini. Aktifitas dakwah. Aktifitas mulia, yang mengajak orang untuk berislam. Kadang kejenuhan juga pernah atau bahkan sering menghinggapi para pengusungnya.

Begitulah realita tentang jenuh dijalan dakwah. Suatu ketika, beberapa orang adik angkatan mengeluh dan merasa bosan, jenuh dalam melakukan segala aktifitas dakwahnya ketika itu, setiap dating ke acara – acara dakwah, ataupun merasa jenuh dan bosan mengadakan kegiatan sebuah LDK, karena merasa tidak adanya ruh dakwah yang menghinggapi aktifisnya. Nuansa kering inilah yang ternyata membuaat kita cepat bosan dan jenuh dalam aktifitas dakwah kita. Dan salah satu potret seorang aktifis dakwah yang lagi jenuh dalam aktifitasnya adalah seperti curhatan seorang al – akh kepada saya suatu ketika.

Begini ceritanya, al – akh tersebut yang merupakan tokoh kampus dan orang penting dikampus, mendadak menghilang entah dimana rimbanya. Dikontak ga masuk. Disms gak dibales, dan ditanyain ke beberaa teman dekatnya pada ga lihat. Padahal saat itu beliau lagi dibutuhkan, baik mengisi kajian maupun ikut agenda syuro penting yang butuh keterlibatan al – akh tersebut dalam syuro. Dan ketika selang beberapa hari kemudian beliau akhirnya muncul, dengan sebuah jawaban yang cukup simple ketika ditanya mengapa menghilang. Beliau menjawab “ ane jenuh akh, dengan rutinitas – rutinitas saat ini, sehingga akhirnya saya pun menghilang, pergi kebawah, nyari sambilan”. Begitulah jawabanya. Beliau merasa jenuh dengan aktifitas syuro, ngisi kajian, dan seterusnya. Hmm. Itulah beberapa fenomena tentang jenuh. Yang sepertinya butuh solusi untuk menghilangkan kejenuhan itu.

Jenuh, adalah akumulasi dari kebiasaan – kebiasaan dalam aktifitas yang kita lakukan yang terjadi secara berulang. Terjadi secara terus – menerus, tanpa ada inovasi baru, tanpa ada penyegaran energi, tanpa ada kreatifitas dari aktifitas kita sehingga akan menjadi monoton. Terlebih lagi ternyata ruh maknawi dari individu – individu para aktifis dakwah tersebut mengalami kekeringan. Maka akibat dari beberapa sebab tersebut akan mengakibatkan kejenuhan. Dan sangat berbahaya jika rasa jenuh kita dalam aktifitas ini kita pelihara terus menerus. Karena kejenuhan yang kita pelihara tanpa kita carikan solusinya, akan menyebabkan kita selanjutnya berada dalam fase genting dalam dakwah, yakni futur. Dan setelah futur, hal paling ekstrim yang akan terjadi adalah mundur, dan menghilang dari aktiftas dakwah.

Maka perlu ada penangkalan dari virus – virus jenuh ini, perlu terapi untuk mengambalikan kepada kondisi hamasah fi dakwah. Semangat dalam dakwah. Barangkali sedikit ide ini akan menjadi sedikit penyemangat kita untuk menghindarkan diri dari kejenuhan kita.

  1. Masalah orientasi dan persepsi. Orientasi akan mengajak kita untuk menyatukan segala tujuan hanya untuk titik tertentu yang menjadi pilihan kita. Sedangkan persepsi membingkai cara pandang kita agar tidak melanggar ketentuan yang telah kita gariskan. Ketika orientasi dan persepsi kita kita satukan, hanya niat untuk menggapai keridhaan Allah semata, maka segala aktifitas kita yang dilakukan, akan senantiasa terasa nikmat, dan menyenangkan. Sehingga tak ada kejenuhan dalam dakwah.
  2. Menumbuhkan semangat kreatifitas dan inovasi. Hal inilah yang kemudian dianjurkan dan bahkan dituntut bagi aktifis dakwah dalam aktifitas dakwahnya. Kreatifitas dan inovasi baru dalam dakwah kemudian kita sebut dengan hal yang mutaghoyirat, dan dengan inovasi – inovasi kita, dakwah ini akan terasa lebih segar, sehingga kemungkinan terjadi kejenuhan dalam dakwah bisa diantisipasi.
  3. Senantiasa menjaga kualitas maknawiyah. Analoginya, orang dengan kualitas keimanan yang tinggi, ketika menjalankan amal – amal dakwahnya, akan terasa lebih mempunyai ruh. Dan ketika kita berada pada kondisi maknawiyah yang stabil, maka penyakit kejenuhan ini dapat diminimalisir.

Itulah tiga hal yang saya kira bisa menjadi alternative solusi bagi kejenuhan aktifitas kita. Agar dakwah kita menjadi lebih bermakna. Agar aktifitas dakwah kita menjadi lebih hidup. Dan agar kita tetap terjaga dengan keistiqomahan dalam bingkai dakwah illallah. Wallahu’alam bis showab.

Iklan

2 thoughts on “Jenuh

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s