Masih tentang iman, dan ukhuwah


Dalam dekapan ukhuwah, kita akan mengeja makna-makna itu, menjadikannya bekal untuk menjadi pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran. Dalam dekapan ukhuwah, kita tinggalkan Narcissus yang dongeng menuju Muhammad yang mulia dan nyata. Namanya terpuji di langit dan bumi. (Salim A Fillah  Dalam Dekapan ukhuwah)

Kamis (12/05), kali ini berbicara tentang ukhuwah, yang barangkali kita sudah sangat paham tentang kata itu. Ukhuwah, rukun ke 9 dalam rukun baiat yang pernah disampaikan murabbi kita dalam forum halaqoh. Kata ukhuwah, yang sering kita bicarakan ketika kita mengisi kajian – kajian kampus. Ukhuwah, yang sering kita tulis dalam buku harian ataupun notes di facebook untuk mengingatkan saudara – saudara kita. Tetapi ternyata, aplikasi dari ukhuwah tersebut, perlu kita tanyakan kembali dalam hati kita, sudahkah kita benar – benar tulus menerapkan rukun ke 9 tersebut dalam aktivitas dakwah kita, dalam amal – amal kita, atau ternyata, kita masih belum sepenuhnya menerapkan konsep ukhuwah ini dalam amal – amal kita, sehingga amal dakwah kita terkesan hambar, kering, tanpa ruh, dan bahkan seperti yang pernah disampaikan al – akh suatu ketika, bahwa ukhuwah dikampus konservasi ini masih semu, alias ukhuwah semu.

Akhi, mari kita lihat lagi perjalanan dakwah kita saat ini, sudah berapa banyak kader yang terekrut, lalu terbina, lalu selanjutnya siap untuk menjadi pewaris – pewaris dakwah ini kedepan, atau sudah seberapa jauh, wajihah yang kita kelola, UKKI, TPAI, BEM, DPM, UKM – UKM, dan lain sebagainya mampu memberikan kebermanfaatan bagi ummat? Sudahkah kemudian kita menyadari, bahwa ternyata dakwah yang kita lakukan saat ini masih berjalan ditempat, masih perlu banyak pembenahan, masih perlu banyak evaluasi, salah satunya adalah evaluasi dari para pengusungnya itu sendiri. Dan ternyata, sampai saat ini, energy kita masih saja terkuras, oleh hal – hal yang kecil, oleh hal – hal yang sebenarnya itu tidak penting, oleh hal – hal yang semakin membuat kita tidak akan pernah menjadi besar. Energy kita, yang seharunsya kita banyak gunakan untuk mempelajari materi mentoring dengan baik, sehingga kelak menjadi mentor yang baik pula, ternyata tersibukkan untuk mengurusi hal – hal sepele, para tutor – tutor bandel yang jarang berangkat ketika briefing, tutor bandel yang untuk sekedar mentoring saja sampai harus disms oleh para mentee-nya. Atau energy kita hanya terhabiskan untuk mengurusi pengurus yang tak aktif dalam sebuah LDK fakultas, atau mengurusi permasalahan indibath, yang sepertinya ini tidak akan pernah selesai. Beginilah. Beginilah potret dinamika aktifitas dakwah kita saat ini. Dan ternyata sumber permasalahannya adalah pada diri kita. Kitalah sendiri sebenarnya yang membuat dakwah kita tidak akan pernah berkembang.

Akhi, ketika kita merenungi kembali, ternyata permasalahan – permasalahan yang menghinggapi dakwah kita dewasa ini, ada kaitannya, antara kita dengan saudara kita. Kembali berbicara tentang ukhuwah. Sepertinya kita belum terlalu padu dalam kesatuan ukhuwah, dengan sudara kita, sehingga itu berimbas kepada amal kita dalam lahan dakwah ini. Bahwa ternyata kerapuhan ukhuwah yang melanda kita saat ini, ada korelasinya dengan iman kita. Iman kita lah, yang ternyata membuat ukhuwah diantara kita renggang, atau bahkan hambar. Formalitas. Karena baik iman maupun ukhuwah bukanlah hal yang semula jadi dan bisa muncul sendiri. Hubungan antara keduanya juga bukanlah kaidah sebab-akibat. Keduanya adalah pemahaman sekaligus keterampilan. Keduanya perlu ikhtiar dan kerja-kerja. Keduanya dihadirkan dalam diri dengan upaya. Kita harus mempelajari ilmunya, memahami makna-makna, memperhatikan kaidahnya, melatih dan mengamalkannya di alam pergaulan. Mari kita simak pendapat Sayyid Qutb tentang iman dan ukhuwah.

“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan di akhirat dengan kalimat iman yang mantap di dalam hati, yang kokoh di dalam fitrah, dan yang membuahkan amal shalih nan selalu baru dan abadi dalam kehidupan.” (Sayyid Qutb)

Ikhwah, mari kita pupuk kembali, antara kekuatan iman dan ukhuwah tersebut, untuk memacu kinerja – kinerja dalam amal kita. Karena bisa jadi ikhwah, keberadaan kita dalam jamaah dakwah ini, keistiqomahan kita dalam memperjuangkan amal dakwah ini, adalah bukan karena kapasitas yang kita miliki, bukan karena besarnya kemampuan kita dalam strategi dakwah, tetapi karena doa mereka. Karena merekalah, karena saudaraka kitalah yang membuat sampai hari ini kita bertahan, karena merekalah kita istiqomah. Dan semoga, kitapun demikian. Memaknai ukhuwah dengan sebenar – benarnya. Yang pernah dicontohkan oleh mantan kakom Unnes, saling mencucikan baju.

Masih tentang ukhuwah akhi, semoga hari ini kita masih dan tetap Istiqomah, kita tak mau kalah untuk berkeringat, kita tak mau resah untuk sebuah pekerjaan yang terasa berat. Masih tentang ukhuwah, semoga kekuatan kebersamaan ini dalam sebuah sinergi, kemudian kita mampu saling bertukar semangat. Masih tentang ukhuwah ikhwah, ada segenggam harap yang sederhana, namun berharap ia mampu saling menguati, kalimat sederhana ini hanyalah catatan-catatan bagi cerita perjalanan kita yang tak banyak diketahui orang selain diri kita, Allah dan orang-orang yang ikhlas bersama-Nya..

Masih tentang ukhuwah akhi, semoga keikhlasan senantiasa sebagai pedoman, iman sebagai kekuatan, dan kusuburkan keyakinan sebagai jawaban dari setiap persoalan.. Seperti hamparan kisah Hajar dengan keyakinannya pada Allah, seperti tumpukan rasa yakin Yunus as dalam do’a-do’a penuh penghambaannya.. Semuanya akhina, ikhlas, iman, dan keyakinan yang kokoh mengakar dalam diri kita yang akan membuat kita memahami kenapa Sayyid Qutb tersenyum tenang menjelang syahid, kenapa Yusuf Qardhawi dengan tenang melanjutkan syuro ketika masih dalam keadaan lapar, atau ketika para pendahulu dakwah ini berlelah-lelah untuk sekedar menyampaikan kalimat-kalimat tausyiah bagi para pejuang yang haus akan cinta-Nya..

Masih tentang ukhuwah akhi, mari kita sadari bersama, bahwa setiap perjuangan bukanlah hal yang mudah. Ia meleburkan semua kebahagiaan, menghapus semua sifat pengandaian kita, menghujam dan menusuk semua sifat kemalasan kita, hanya saja, disetiap akhir cerita yang panjang dan menguras tenaga ini, Allah selalu menggantinya dengan kebahagiaan yang merasuk, kenyamanan yang membumi, hingga getar-getar cinta yang agung dan merambat di dalam jiwa-jiwa kita agar selalu tunduk pada-Nya..

Masih tentang ukhuwah yang kita maknai bersama.. bahwa bekerja bukan hanya berarti melakukan apa-apa yang kita cintai. Namun bekerja, juga merupakan terjemahan dari berlelah-lelah bagi apa yang kita tidak sukai, bahkan sekalipun itu menyangkut dengan kenyamanan hidup kita. Maka karena kita telah berani untuk bersumpah dan bekerja bersama-Nya, jadilah hati dan jiwa kita takkan pernah habis di isi kekuatan oleh-Nya untuk bergerak, takkan pernah habis diisi dengan mata air segar yang selalu memancarkan kebaikan dalam episode-episode hari kita. Mari kita maknai ukhuwah akhi, dengan sebenar – benarnya pemaknaan. Sehingga kita kelak akan menemukan sebuah puncak dari indahnya ukhuwah ini. Tersenyum, bergandeng tangan, saling bercerita tentang cinta, harap, dan iman. Ah, indahnya ukhuwah.. saudaraku.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s