Istiqomah


Jumat, 29 April 2011, pukul 08.10 WIB pagi, tubuh ini terasa lunglai habis futsal dengan wisma Anas Bin Malik, tetapi walaupun

istiqomah

istiqomah

begitu, alhamdulillah menang 9-6, cetak empat gol lagi. Jadi rasa capek terbayarkan dengan sumbangan 4 gol. Tetapi walaupun badan terasa segar, tidak dengan hati ini. Hati ini masih belum merasa lega, ada hal yang membuat hati ini ingin berkoalisi dengan kedua tangan untuk membuat sebuah curahan hati, membuat sebuah rangkaian – rangkaian coretan penuh makna. Lalu fikiran ini kembali terbayangkan ketika tadi malam baru saja mengikuti halaqoh pekanan special dengan suguhan kacang rebus dan pisang, dan sungguh temanya sangat menyentuh. Sesuai dengan kondisi hati ini saat ini, dan ingin rasanya jemari ini kembali menari diatas keyboard dan menggabungkan huruf demi huruf, menjadi perpaduan kata yang indah, lalu selanjutnya membentuk harmoni. Ya harmoni. Inilah yang belum kita rasakan saat ini. Di jalan ini.

Ikhwah, ada satu kata yang barangkali kita sering mengucapkan, kita sering menasehatkan dalam forum kajian – kajian, sering kita ucapkan kepada adik – adik kita, sering kita berkoar tentang kata ini dengan bagitu semangatnya ketika mengisi kajian atau dauroh, atau bahkan foruml liqoat, tetapi ternyata kata tersebut tidak seringan ketika kita mengucapkannya. Tidak semudah kita mengatakannya dengan lisan kita. Ternyata implementasi dari kata tersebut tidak semudah yang kita bayangkan. Sperti halnya Rasulullah yang sangat berat mengimplementasikan kata itu, namun beliau tetap tersenyum dan tegar untuk terus berada dan menjalankan setiap aktivitas dakwahnya. Istiqomah. Ya, istiqomah. Ternyata kata tersebut tak semudah ketika kita mengatakan didepan para mad’u kita. Bahkan sampai Bilal pun harus ditindih datas batu besar di panasnya gurun, ketika harus beristiqomah untuk tetap berada dalam naungan Allah. Bahkan untuk menjaga keistiqomahan dalam jalan ini, rasul kita yang mulia sampai harus dilempari dnegan kotoran ketika menyampaikan seruannya di Thaif, bukan hanya itu, bahkan beliau diteriaki tukang sihir dan bahkan orang gila. Tetapi lihatlah pula sosok mulia itu, beliau tetap tersenyum, tetap pada pendiriannya, teta tegar, tetap istiqomah untuk menyeru. Bahkan beliau mendoakan kepada kaumnya di Thaif, ketika ditawari bantuan oleh Jibril untuk membinasakan kaum Thaif, kalapun hari ini mereka tidak beriman, maka aku berdoa agar anak cucu mereka menjadi penyeru kepada kebajikan yang paling militant, begitu doa nabi kita terhadap bangsa Thaif, dan doa itu kelak kemudian terkabulkan. Inilah istiqomah. Sulit. Tidak semudah ketika kita menerangkan sampai mulut kita berbusa dalam sebuah kajian training kader dakwah.

Akhi, kata itu adalah istiqomah. Istiqomah untuk senantiasa menyeru. Istiqomah untuk senantiasa berpegang teguh pada tali Allah. Istiqomah untuk senantiasa berada dalam jalan ini. Sulit memang. Bahkan para ustadz – ustadz kita pun banyak yang berguguran dijalan ini. Dan artinya kemungkinan kita untuk berguguran pun  sangat mudah. Peluangnya antara istiqomah dengan future fifty – fifty. Sama besar. Tergantung dari kesungguhan kita dalam amal – amal dakwah ini. Dan karena kita sangat memahami, bahwa istiqomah ini adalah urusan kita dengan Allah. Karena kita tahu bahwa memang Allah maha membolak balikan hati, kita tidak akan pernah tahu apakah kita mati dalam kondidi taqwa atau fujuur. Karena kita tidak pernah tahu kita termasuk golongan beruntung atau rugi.  Karena semua urusan istiqomah itu adalah hanya kita dengan Allah.

Akhi, istiqomah memang berat, namun sangat mungkin ketika kita serius untuk senantiasa memperbarui amal – amal kita. Memang istiqomah adalah urusan kita dengan sang Khalik, namun ternyata istiqomah butuh persiapan, butuh latihan, dan butuh kemauan yang keras untuk melaksanakannya. Dan berikut beberapa tips untuk menjaga keistiqomahan dalam amal kita, baik dalam amal dakwah kita, maupun dalam amalan yaumiyah kita sebagai penunjang aktivitas dakwah kita.

  1. Memaksa diri untuk menjaga amalan yaumiyah
  2. Memulai dari amalan yang paling sulit dilakukan
  3. Menjaga stabilitas tarbawi kita (sehat liqo, tatsqif, dan perangkat tarbiyah lainnya)
  4. Sering bersilaturahmi dan minta taujih dari ustadz – ustadz
  5. Senantiasa berada dalam lingkaran jamaah
  6. Aktif dan progrseif dalam setiap amanah yang diberikan,
  7. Menjaga amanah
  8. Tetap berada dengan saudara – saudara, sering berdiskusi dengan mereka

Akhi, ada delapan tips agar kita tetap berada dalam koridor jamaah ini, istiqomah dan tetap istiqomah. Semoga istiqomah, semoga barakah, semoga khusnul khatimah.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s