Melihat realita, menyegarkan komitmen dakwah kita


Berlayar mengarungi samudera, jangan berharap kau kan tiba di pulau tujuan tanpa cobaan mendera. Sebelum layar

jalan-dakwah

jalan-dakwah

dibentangkan, inilah yang harus terpatri dalam diri menjadi kesadaran. Bahwa berbagai keindahan dari sebuah pelayaran panjang dan kenikmatan di pulau tujuan, berbanding lurus dengan besarnya tantangan yang menghadang. Tak kan pernah kau dapatkan indahnya pemandangan angkasa menjulang di tengah samudera luas membentang, selagi kau masih takut menembus hempasan gelombang. Ini bukan sekedar resiko perjalanan, tapi telah menjadi aksioma tak terbantahkan.

Selasa pagi (19/04/11), ba’da shubuh, hari ini harus ada pekerjaan yang harus segera saya selesaikan. Tugas yang seharusnya bisa selesai beberapa waktu lalu, namun ternyata belum kelar sampai saat ini. Dan harus segera di selesaikan, hari ini. Pagi ini. Diwaktu ini. Sekarang juga.

Sebuah tulisan. Tentang mimpi. Tentang harapan. Tentang cita – cita besar nan mulia. Mimpi indah para aktivis dakwah kampus. Dan itu sah – sah saja. Karena kita percaya, bahwa semua selalu berawal dari mimpi besar, yang dibangun dengan tekad yang kuat. Begitulah Rasulullah mengajarkan. Tentang kekuatan mimpi, hingga akhirnya beliau melihat kekuatan mimpi dan optimisme. Dan akhirnya beliau bisa melihat dalam peristiwa penggalian Parit saat perang Khandaq. Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi negeri Romawi akan di Taklukkan. Sebentar lagi pintu – pintu Syam akan terbuka. Begitu beliau meyakinkan para sahabatnya ketika itu. Dan akhirnya, Romawi ditaklukkan. Syam dikuasai. Dan itu berawal dari hal ghaib, tentang mimpi. Memang semuanya berawal dari mimpi besar kita. Dan mimpi kita hari ini adalah tentang kampus madani. Ya, kampus madani. Inilah mimpi yang harus menjadi kenyataan dua tahun lagi.

Saya tidak akan menguraikan lagi penjabaran tentang kampus madani, karena Akh Arif dan teman – teman yang lain pasti sudah menjabarkannya dengan begitu cerdas dan brilian, dan mungkin saya hanya perlu untuk menambahkan sedikit garam ditengah lautan. Sepatah kata diantara rangkaian paragraph – paragraph yang panjang. Tentang madani, yang akan menjadi sebuah romantika panjang dan menyejarah. Tentang dakwah. Tentang ummat yang kita cintai.

Ikhwah, mari kita lihat realita hari ini. Kembali melihat seberapa jauh kita melangkah. Seberapa banyak yang kita lakukan untuk bersama – sama membangun cinta dalam dakwah ini. Dan kembali teringat taujih Ustadz Nurul Hamdi beberapa waktu lalu, bahwa hari ini kita melihat didepan mata kita, sekelompok manusia, berjalan, berbondong – bondong, dengan begitu congkaknya untuk masuk neraka. Mereka tidak sendirian masuk ke neraka, tetapi berkelompok, dan terus mengajak orang lain untuk masuk neraka. Lalu pertanyaannya, dimana kita? Para aktivis dakwah yang bertugas memperingatkan mereka? Apa kontribusi kita untuk menyadarkan mereka, dan kembali ke naungan Islam?

Ikhwah, kalau hari ini kita mengeluh, kita sudah berupaya optimal dalam dakwah ini, hari ini kita begitu capek dengan agenda – agenda dakwah ini, hari ini, kita (termasuk saya) mengeluh dengan kondisi dakwah ini. Kita mengeluh karena terlalu lelah, karena seringnya agenda syuro yang padat merayap. Akhi, sudah lelah kah engkau atas perjuangan dakwah ini? mungkin jadwal syuro yang padat itu membuat kita lemah?? Atau tak pernah punya waktu istirahat di akhir pekan yang kau gusarkan?? atau sulitnya mencari orang yang ingin kau ajak ke jalan ini yang kau risaukan??  Semua pertanyaan – pertanyaan yang tentu menjadi indicator seberapa jauh langkah kita dalam amal ini. Dan kalau kita masih saja mengeluh, meka perlu kita segarkan kembali komitmen kita dalam dakwah ini.

Akhi, ternyata perjuangan kita hari ini, belum ada hanya setitik pasir dalam gurun yang luas. Hanya setetes air di samudera. Belum ada apa – apanya dibanding mereka. Kita lihat dakwah Rasulallah, yang begitu berat. Harus bertentangan dengan banyak keluarga yang menentangnya. Mushab bin umair harus rela meninggalkan ibunya. Suhaib ar rumi harus rela meninggalkan seluruh yang dia kumpulkan di mekkah untuk hijrah. Asma binti Abu Bakar rela menaiki tebing yang terjal dalam kondisi hamil untuk mengantarkan makanan kepada ayahnya dan Rasulallah.  Hanzholah, yang tengah menikmati malam pengantin bersama isterinya, harus berangkat menyambut panggilan jihad saat itu juga, Abu Dzar habis di pukuli karena meneriakkan kalimat tauhid di pasar, Ali mampu berlari 400 KM guna berhijrah di gurun hanya sendirian, Usman rela menginfakkan 1000 unta penuh makanan untuk perang tabuk. Thalhah siap menjadi pagar hidup Rasul di uhud, hingga 70 tombak mengenai tubuhnya.

Atau mari kita bicara tentang Musa Alaihissalam. Walaupun bicara saja sulit, gagap, tapi dakwahnya tak pernah pudar, ummatnya seburuk buruknya ummat, tapi proses menyeru tak pernah berhenti, atau Ibrahim yang dibakar namrud, Syu’aib yang menderita sakit berkepanjangan tapi tetap menyeru, atau Ismail yang rela di sembelih ayahnya demi melaksanakan perintah Allah.

Akhi, masihkah kita merasa lelah dalam dakwah? Masihkah kita merasa sudah cukup kita bercapek – capek dalam dakwah ini? Padahal hari ini perjuangan kita belum ada apa – apanya disbanding mereka. Apakah hari ini kita lelah berdakwah? saat baru kita rasakan ternyata selain indah, dakwah itu banyak konsekuensinya.

Ikhwah,  memang seperti itulah tabiat dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Akan menyedot saripati energimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan mimpi – mimpimu pun tentang dakwah. Tentang ummat yang kau cintai. Begitu kata syaikh tarbiyah kita, (Alm) Ust Rahmat Abdullah.

Mari kita cermati lagi kata – kata yang ada dalam tawajjuh dakwah kampus ini, kampus madani. Dia tidak aka nada tanpa ada para pengusungnya yang bekerja tanpa henti untuk merealisasikan tujuan mulia itu. Kampus madani tidak akan pernah ada, ketika kader – kader pengusungnya melah terbelenggu dengan masalah internalnya. Mari kita berkaca dari para pendahulu kita tersebut. Mereka juga aktivis dakwah, juga manusia, tetapi mereka begitu menikmati dakwah. Sehingga nyaris tak ada keluhan, hamper tak ada perasaan lelah dalam dakwah. Lalu bagaimana dengan kita hari ini? Sudahkah kita menyegarkan kembali komitmen kita dalam amal – amal dakwah ini?

Akhi, disana ladang amal basah sedang menunggu. Banyak tanaman – tanaman yang perlu kita rawat, kita jaga, kita suburkan. Disana banyak benih – benih yang belum sempat tertanamkan. Mari, keberadaan kita disini jangan hanya sebagai pelengkap. Jangan hanya kita berkicau tentang kelemahan dan keluhan – keluhan diri kita, yang justru akan banyak menguras energi besar. Mari kita segarkan kembali koimtmen dakwah kita, melihat realitas yang ada, dan mari berkontribusi.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s