Tentang lingkaran itu


DwiKamis pagi (21/04), entah kenapa ingin sekali jari – jemari ini kembali menari diatas keyboard layar ajaib untuk

Halaqoh
Halaqoh

merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat, mengajak huruf – hurf tersebut untuk berkicau dengan merdu, menikmati simfoni pagi yang indah. Dan sepertinya kicauan merdu huruf – huruf pada kamis optimis ini bertemakan sebuah nama, yang hari ini sebenarnya kita tak lagi asing dengannya, namun entah mengapa, kadang nama tersebut justru kadang membuat, sebagian dari kita, merasa sangat berat untuk melakukannya. Tarbiyah. Halaqoh. Forum lingkar iman, yang oleh teman – teman UGM, diabadikan menjadi sebuah Partai, Partai Bunderan. Hehehe.

Tepat setelah sholat shubuh pagi itu, dikos saya, yang kebetulan adik – adik dikos saya adalah aktivis kampus yang lumayan bersemangat untuk aktif di organisasi, lalu saya iseng menanyakan ke adik saya, “dik, bagaimana liqo’ nya masih jalan kan?”, dan adik kos saya tersebut menjawab “sudah dua pekan ini ngga’ jalan mas, katane mas’e mau datang kekos tapi ditunggu – tunggu ngga’ datang”. Atau ada kasus lain dari beberapa orang al – akh ketika di taklimat oleh murabbi untuk ikut mukhayam. Sudah ikut pra mukhayam, sudah ikut pembagian kelompok, sudah minjem kaos mukhayam, e giliran pas waktu mukhayam tiba, malah tidak berangkat dengan alasan malas. Atau ada kasus lagi, kali ini datang dari beberapa al-akh yang kebetulan adalah para tokoh kampus, dan sebelumnya progress dakwahnya sangat baik, tetapi sekarang menurun, padahal beliau – beliau ini adalah tokoh kampus yang menjadi kader penggerak untuk menggerakkan adik – adiknya. Ada kasus lagi, kali ini tentang kenyamanan liqoan bagi sang mutarobbi terhadap murabbi. Sang mutarobbi merasakan perbedaan dengan liqoan sebelumnya, dan di liqoan sekarang merasa agak kurang nyaman. Hmm. Beberapa contoh kasus tersebut semakin membuat tangan ini semakin tergelitik untuk menuliskan dan merangkainya menjadi sebuah frasa dan kalimat – kalimat solutif.

Sebenarnya ada apa gerangan, sampai muncul kasus – kasus tersebut. Mengapa sampai sebuah kelompok halaqoh sampai dua kali tidak ada kegiatan forum halaqoh? Atau mengapa liqo – liqo yang dilakukan terasa hambar dan tidak nyaman? Atau mengapa sampai ada taklimat murabbi kepada mutarabbi begitu kehilangan kekuatannya? Atau mengapa sampai ada kasus bagi satu kelompok halaqoh yang isinya para tokoh kampus sampai mengalami penurunan progress report dakwah? Sudah terlalu sibukkah para murabbi – murabbi tersebut, sehingga mereka melupakan kewajibannya untuk mempersiapkan generasi pewaris dakwah ini selanjutnya? Atau kekuatan maknawiyah dan ketrampilan murabbi dalam membina kita, para murabbi perlu mendapatkan penyegaran?

Saya teringat suatu ketika murabbi ke dua saya selama merasakan nikmatnya merajut cinta dalam jalan ini, mengatakan bahwa liqo, adalah dapurnya dakwah, yang digunakan sebagai tempat mengisi energi yang akan menguatkan kita dalam melaksanakan setiap aktivitas dakwah ini. Kalau didalam dapurnya saja sudah ada masalah, maka itu akan berimbas terhadap aktivitas dakwah kita dilapangan. Kalau ditempat mengisi energy saja kita kurang, maka energy kita tidak akan cukup untuk menghadapi tantangan dan hambatan dalam dakwah ini, yang bahakan tiap detik senantiasa mengintai dan menyerang kita, baik dari internal maupun eksternal. Artinya bahwa dapurnya dakwah, dalam hal ini adalah aktifitas tarbawi disini sangat penting dalam rangka membentuk kesiapan aktivis dakwah melaksanakan aktifitas dakwahnya dengan baik.

Tetapi sangat tidak elegan juga ketika saya hanya menunjuk para murobbi tersebut sebagai pihak yang dipersalahkan dalam proses keberlangsungan agenda tarbawi. Dari sisi motarabbi sebaiknya juga harus kemudian merenungi, sejauh mana keberadaannya sebagai mad’u tersebut dapat meningkatkan kapasitas keilmuan dan fikrah jamaahnya. Kita memahami bahwa aktifitas tarbawi ini adalah sebagai sarana pembentukan para rijalud dakwah. Analogi sederhananya, bahwa  para mad’u harus memahami tarbiyah adalah pendidikan untuk memperbaiki diri secara terus menerus sepanjang hayat, atau bahasa kerennya adalah tarbiyah madal hayah. Kenapa harus terus menerus? Ini persoalannya: hidup kita akan berhenti di satu titik (dunia) untuk kemudian berlanjut ke titik berikutnya (akhirat). Kalau kita tidak mentarbiyah diri secara kontinu, dan dari sekarang, siapa yang akan menjamin kita akan berhenti di titik itu dalam keadaan siap untuk melanjutkan ke titik berikutnya?

Sehingga dari penganalogian yang sederhana tersebut, para mad’u harus menyadari bahwa tarbiyah begitu penting dan kita sangat butuh akan tarbiyah ini, bukan kemudian tarbiyah ini yang membutuhkan kita. Kita harus faham itu. Kalau kemudian kita memahami bahwa proses tarbiyah yang berlangsung secara terus menerus, berkesinambungan akan membentuk karakter para aktivis dakwah yang tangguh, tentu tidak akan ada polemic – polemic yang terjadi seputar pelaksanaan agenda halaqoh pekanan. Sebagai mad’u yang baik, kita harus faham bahwa murobbi juga manusia, dibalik kelebihannya menyampaikan materi, dia juag manusia yang penuh khilaf dan dosa. Jangan hanya karena semisal kita adalah aktivis yang penuh dengan jiwa yang  meledak – ledak dan pintar berorasi, sementara murobbi kita hanyalah seorang yang lemah lembut, kadang bicara pun belepotan, lalu kita jadi tidak semangat menghadiri agenda halaqoh pekanan dan meremehkan murobbinya. Atau mentang – mentang murobbi kita adalah seorang tokoh, sering ngisi dauroh sana- sini, mukhoyam sana – sini, seminar sana – sini, lalu kita menjadi murobbi-sentris, kemana – mana membanggakan murobbinya, ketemu teman beda halaqoh, memamerkan murobbinya yang keren. Hmm, hati – hati akhi kalau sudah begini, antum sudah masuk kategori mengkultuskan. Berbahaya.

Mari kita memahami bersama, bahwa proses tarbiyah, yang salah satu perangkatnya adalah halaqoh pekanan, sebagai sarana penjagaan diri, sebagai media untuk saling mengeratkan persaudaraan, tempat saling mendoakan satu sama lainnya. Antara peserta halaqoh satu dengan yang lainnya. Dan ditempat lingkaran inilah, yang kadang kita disuguhi dengan makanan yang dimasakkan oleh istrinya murobbi kita, kita melihat bahwa mukmin yang satu adalah cermin bagi mukmin yang lainnya. Mereka saling bercermin diri, tentang perkembangan tilawah qur’annya selama satu pekan, saling memantau hafalan masing – masing, memantau puasa shunnah, memantau sholat malamnya. Lalu kalau salah satu diantara peserta halaqoh tersebut memiliki mutabaah yang dibawah rata – rata, dia akan mengatakan dengan sangat lirih kepada idaarinya, “berapa sholat malammu akhi”, lalu jawabnya dengan sangat lirih dibantu isyarat telunjuk, “sattt…u”, begitu jawabnya. Lalu iapun menjadi sangat malu menyadari dirinya belum bisa memanajemen waktu dengan brilian.

Harmonisasi. Saling memahami. Saling mengisi kekuarangan masing – masing. Itulah yang akan membuat proses agenda tarbawi kita akan terasa nikmat. Liqo kita akan terasa sangat nyaman. Apalagi kalau dibumbui dengan makan gado – gado gratis dari murobbi, akan terasa lebih nikmat (http://pengalamanpribadi.hehehe.com.)  kita menyadari bahwa liqa’at adalah bagian terkecil dari terbiyah kita, tetapi dia juga sebagai sel penggerak aktifitas tarbiyah kita, yang akan menentukan kekohohan gerak kita dilapangan. Harus saling belajar, baik dari mutarobbi, agar menjadi sosok mad’u yang siap diisi dengan warna – warni ilmu islami maupun harokah. Begitu juga dari para murabbi, harus sennatiasa meningkatkan kapasitas, harus senantiasa serius menyiapkan generasi – generasi pemenang. Dengan kondisi liqa’at yang semacam ini, maka kita akan melihat ada harmoni yang indah, tarbiyah, yang menyejarah.

Memang, kita sudah sama – sama faham, bahwa ini adalah pertemuan pekanan, ini adalah sebuah lingkaran. Tetapi ini bukan sekedar lingkaran, karena disini adalah majelis ilmu, majelis dzikir, majelis penuh keberkahan. Dan kita juga memahami bahwa lingkaran itu bukan hanya berakhir ketika forum lingkaran itu selesai, tetapi setelah itu, tentu kita akan lebih siap, mendistribusikan keshalihan kepada mereka, menebarkan aroma mewangi bunga – bunga kebajikan kepada sesama. Mari kita nikmati lingkaran itu, lingkaran ukhuwah. Walaupun sang guru kadang terlihat belepotan menyampaikan materi, walaupun sang guru kadang terlihat gugup menyampaikan kalimat – kalimat penuh maknanya, walaupun sang guru kadang terlihat lelah dan capek karena banyaknya agenda dakwah yang membuat waktunya banyak tersita. Mari kita nikmati lingkaran iman itu, walaupun sang guru tak lebih baik dari kita dalam hal ketokohan dikampus. Mari kita nikmati lingkaran dzikir tersebut, maka kita akan semakin cinta dengan jalan ini, kita akan semakin yakin dengan tarbiyah ini, sehingga tak ada lagi keraguan didalamnya. Semoga barokah. Semoga istiqomah. Semoga khusnul khatimah.

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s