Mari, singsingkan baju, tuliskan kembali tinta emas dalam sejarah peradaban dunia


bentuklah Zaman menjadi sebuah perapian untuk menempa besi menjadi pedang”.

Ada yang menarik suatu ketika, salah satu wartawan senior Semarang, yang beberapa waktu lalu

Aksi KAMMI
Aksi KAMMI

menerbitkan buku perdananya, Mas Edhie Prayitno, dalam sebuah aksi demonstrasi menjelang pilwalkot Semarang lalu, nyeletuk “ kalau masih seperti ini ya masih kelihatan siapa kalian, mbok sekali – kali agak kiri sedikit, biar ada improvisasi, kata mas Edhie diiringi dengan senyum khasnya sambil tetap meliput aksi tersebut. Memang, ketika itu, KAMMI ‘menyamar’ dengan tidak aksi seperti biasanya , tepatnya menggunakan baju serba putih, tentunya agar tidak kelihatan bahwa yang aksi tersebut adalah orang – orang KAMMI. Namun pada akhirnya ketahuan juga, dengan cirri khas KAMMI yang agak beda dengan pergerakan mahasiswa lainnya, diawali dengan tilawah dan diakhiri dengan do’a. selalu demikian. Lalu, pernyataan menariknya, dari paragraf pertama ini, akankah KAMMI akan merubah bentuk, menjadi lebih kiri?

Romantika sejarah KAMMI

Dalam perjalanannya, kita ketahui bahwa KAMMI telah memasuki usia ke 13 tepat pada 29 Maret yang lalu. Artinya KAMMI sudah memasuki usia yang masih terbilang muda , masih ABG, masih terlihat imut – imut. Tetapi walaupun begitu, KAMMI adalah sebuah fenomena menyejarah di negeri ini. Dari sisi manapun, Organisasi Harokatut tajnid ini adalah fenomena. Kader – kadernya begitu militan, keberadaanya pun cepat menjamur ke seluruh Indonesia, organisasinya solid, dan tentunya KAMMI masih saja menjadi organisasi yang dominan dikampus ketimbang organisasi sejenis. Hal ini patut mendapatkan apresiasi. Dan menengok kembali perjalanan munculnya KAMMI, kita melihat bahwa KAMMI lahir disaat bumi dilanda kekeringan. Gerakan ini lahir saat kondisi negeri ini mengalami krisis multidimensi. Dan terlahir sebagai bungsu dalam rangkaian panjang kafilah gerakan mahasiswa di Indonesia, ternyata KAMMI memiliki perilaku yang berbeda dengan lainnya. Wajah polos yang ditunjukkan oleh gerakan ini justru menjadi magnet untuk menarik mahasiswa tergabung didalamnya. Sehingga tak butuh waktu lama, KAMMI menjamur dimana – mana. Panji – panjinya tersebar luas dari Meranggas hingga Pulau Rote, dari Sabang sampai Merauke. Gerakan ini ternyata mampu membangun budaya baru dalam dunia kampus dan pergerakan mahasiswa pada umumnya. Semangat untuk menghadirkan Islam sebagai tawaran perjuangan tergambar jelas dalam setiap wajah para kadernya. Aktivitas kampus didominasi para jilbabers dan jangguters. Sehingga dapat menjadi sebuah kesimpulan bahwa keberadaan KAMMI dalam sejarah perjalanan bangsa ini adalah bagian utuh dari strategi ummat Islam dalam memperjuangkan masa depan Islam.

Mengatur nafas, membangun tradisi, dan memfirasati masa depan

Keberadaan KAMMI selalu akan menjadi inspirasi bagi kader – kader yang berada didalamnya, karena KAMMI menurut mereka, termasuk saya adalah sebuah fenomena besar, sebuah jiwa, jiwa yang senantiasa hidup dan menjiwai setiap kadernya. Tetapi walaupun KAMMI adalah sebuah organisasi besar dengan segala kebesarannya, tetaplah KAMMI harus mampu senantiasa memfirasati masa depannya. KAMMI karus mampu mengatur nafas gerakannya agar mampu bertahan sampai kapanpun. KAMMI harus mempersiapkan dirinya, dengan membangun tradisi besar dalam sejarah.

Salah satu kesalahan fatal dalam berbagai gerakan mahasiswa di Indonesia adalah tradisi kaderisasinya. Banyak gerakan, terutama gerakan mahasiswa hanya mengandalkan status jenjang keanggotaan dan ketokohan ketimbang kapasitas yang dimilikinya. Hal ini tercermin dari bangunan kaderisasi yang hanya berpijak pada training. Padahal tidak semua tradisi besar terbangun dari sekedar training. Butuh suatu cara yang secara kontinyu membangun kapasitas generasi. Hal ini gagal ditangkap oleh sebagian besar gerakan mahasiswa, baik yang berpengalaman maupun yang baru.

Training memang dibutuhkan untuk melakukan quantum kapasitas kader. Hanya saja, lompatan ini akan terjaga manakala ada cara berikutnya untuk menjaga ritme, dan memungkinkan menaikkan level atau minimal mempertahankan level itu. Cara yang berikutnya itulah yang sering disebut dengan sistem sel. sistem sel akan mampu membangun nilai – nilai yang bis diserap dengan sempurna oleh kader melalui interaksi yang bersifat kontinyu. Kunci training terletak pada kemampuannya untuk mengquantumkan kapasitas generasi, sedangkan system sel member ruang pada internalisasi nilai dan pembentukan karakter generasi. Dua model yang bersinergi inilah yang memungkinkan gerakan tetap mampu menunjukkan watak dan asholahnya tanpa meninggalkan sisi akselerasi potensi kader. Dan sekali bahwa dua system tersebut telah ada di KAMMI, tinggal bagaimana kedepan membuat format baru konsep dua sistem tersebut agar mampu menjadi sarana mempersiapkan generasi terbaik selanjutnya. Dan saya kira, dalam konteks KAMMI Daerah Semarang, format baru ideologisasi kader ini menjadi tugas berat yang harus segera dikerjakan di tim kaderisasi KAMDA. Kebetulan di Tim kaderisasi saat ini mempunyai punggawa yang capable dibidang tersebut. Sehingga saya pun, dan segenap kader KAMMI Daerah Semarang, tsiqoh kepada Akh Heri Irawan dkk untuk membuat formulasi sistem kaderisasi yang integratif.

KAMMI harus mampu merebut ruang

Keberadaan KAMMI dalam kancah perpolitikan, terutama perpolitikan mahasiswa di kampus telah terbukti mapan. KAMMI mampu menempatkan kader – kadernya dalam posisi strategis di lembaga kemahasiswaan di berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Fenomena ini menjadi suatu hal yang baik ketika digunakan sebagai kontribusi dalam pembangunan tatanan di Indonesia. Tetapi, lain halnya ketika posisi tersebut membuat KAMMI terjebak dalam poros yang hanya berambisi mempertahankan kekuasaan tanpa mampu mengolahnya.

KAMMI harus tetap mempertahankan cirri khas sebagai gerakan yang menggunakan konsep siyasah dalam setiap aktivitasnya. Pada konsep siayasah ini, yang menjadi titik tekan adalah pengelolaan amanah. Siyasah tidak menekankan pada perebutan kekuasaan melainkan kepampuan seseorang yang memiliki kedudukan strategis memanfaaatkan kedudukan bagi kemashlahatan sesuai posisi.

Jadikanlah aku bendaharawan negeri; karena sesunggunya aku adalah orang – orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf :55)

Kader KAMMI harus tetap mempertahankan karakteristik siyasah syar’iah, menjalankan amanah dengan kesungguhan dan terus melakukan inovasi. Itulah seharusnya yang membedakan KAMMI dengan konsep “sang Pangeran” gaya Machiavelli.

KAMMI, sebagai gerakan mahasiswa Islam yang terbangun dari fase embriologi dakwah, seharusnya tetap konsisten menjalankan fungsinya. Karena visi KAMMI bukan hanya dalam ranah perebutan kekuasaan semata. KAMMI harus berbicara mengenai proses pembangunan peradaban yang lebih baik, sehingga apabila gerakan ini mengalami disorientasi, akan ada kekecewaan besar dan mendalam ketika KAMMI hanya memilih fokus pada Pemilu saja, itu penting, tetapi ada hal yang lebih penting lagi. Ya, ada yang lebih penting lagi, yaitu memenuhi keempat landasan gerakan yang sudah dikonsep dengan sedemikian brilian. Bina Al-qa’idah al – ijtima’iyah, bina al-qa’idah al harakiyah, bina al-qa’idah al fikriyah, dan bina al-qa’idah as-Siyasiyah. Bila keempat hal tersebut mampu diwujudkan, maka KAMMI akan menjalankan fungsinya sebagai gerakan ekstraparlementer yang efektif. Kuncinya adalah integritas dan landasan dan konsistensi yang tinggi, yang merupakan hal fundamen untuk mewujudkannya.

Menjawab masa depan dengan menuliskannya dengan tinta emas

Kita, kaum muslimin tentu masih ingat peristiwa menyejarah yang terjadi pada saat perang Khandaq. Saat itu, pasukan msulimin berada dalam kondisi terjepit berada dalam kepungan pasukan kafir Quraisy. Dan salah satu strategi brilian yang terlontar dari mulut sosok gagah dan mempesona, Salman Al Faritsi adalah dengan menggali parit di tempat itu sebagai sebuah strategi pertahanan. Singkat cerita, ditemukan batu besar yang sulit untuk dihancurkan. Dan pada akhirnya Rasulullah sendirilah yang turun tangan. Menghancurkan batu besar tersebut. Cerita ini menjadi menarik karena ada berita ghaib yang disampaikan Rasulullah SAW perihal terbukanya benteng Romawi dan Persia. Dan para sahabat pun merasa sangat yakin akan berita tersebut, padahal sat itu mereka tengah terdesak oleh Quraisy dan yahudi.

Diakhir tulisan, sepertinya pertanyaan pada paragraf pertama tersebut, tentang apakah KAMMI akan berubah bentuk, menjadi lebih kiri? Tentu sudah ada jawabanya. KAMMI akan semakin kanan, tetapi tidak menutup mata dan telinga. KAMMI akan tetap membumi, bersama rakyat, berkarya untuk Indonesia. Dan cerita Perang Khandaq tersebut patut dijadikan inspirasi bagi gerakan ini. Berita ghaib bahwa ka nada masa depan yang akan menjadi milik umat Islam, harus menjadi spirit yang ada dalam jiwa gerakan. Agar ia tak berhenti meski jalan berliku. Agar ia tak payah meski badai pasir dan topan menghadang. Agar ia tak lelah walau perbekalan tak melimpah dan dunia tak berkiblat kepada kita. Jadi, sudah mestinya kita mulai lagi, untuk menyingsingkan lengan baju kita, membuka lembaran – lembaran kertas sejarah, lalu menuliskan kembali dengan tinta emas. Tersenyum, menyongsong masa depan Islam.

Dimuat di rubrik Kajian, Buletin KAMMI Daerah Semarang

Iklan

One thought on “Mari, singsingkan baju, tuliskan kembali tinta emas dalam sejarah peradaban dunia

  1. Assalamu’alakum Wr.Wb. luar biasa.. tapi kalau bisa dobrakan-dobrakan yang bemanfaat lah yang di lihat, serta keja yang riel buat masyarakat .. yang di butuhkan.jangan aksi aja tapi dampak dari aksi itu gak ada,..

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s