Mutasi oh mutasi


Teringat suatu malam, ketika saya berdiskusi dengan salah satu al akh, dan beliau menyampaikan bahwa agak sedikit kecewa dengan

Mutasi
Mutasi

beberapa ikhwah yang militan, yang mempunyai progress yang bagus dari aspek kaderisasi, eh tiba – tiba setelah lulus langsung pada mutasi, padahal fakultasnya belum beres kaderisasinya. “ya minimal beliau mampu mengkader orang yang sekapabel beliau dalam hal mengkader,”kata al-akh, yang ‘mendahului’ saya dalam hal menyempurnakan agama ini.

Memang tidak bisa menafikan, bahwa jalan ini butuh orang – orang yang kemudian banyak, saudara – saudara yang kemudian tetap militan, bersemangat, dan senantiasa memperbarui niat, serta mempunyai komitmen yang tinggi untuk mencetak kader – kader tangguh masa depan. Dan ketika kita kehilangan saudara kita yang sedemikian tangguh, untuk mutasi kekampung halaman, atau ke tempat lain, maka ada rasa haru tersendiri jika kita mendengar kabar bahwa sahabat dakwah kita yang sudah begitu akrab, begitu militan, dan mempunyai progress yang bagus,  hendak pulang kampung ataupun hijrah ke kota lain yang jauh dari kita. Di satu sisi ada harap akan kebaikan yang lebih baik dari ketika dia bersama-sama dengan kita namun di sisi lain ada khawatir bahwa semua akan berubah tidak seperti yang diharapkan semula, dakwahnya semakin hambar, tidka bersemangat, dan perasaan – perasaan khawatir lainnya. Antara bahagia dan sedih, kita bahagia karena sahabat kita memperoleh sebuah kebaikan dari Allah dan kita sedih karena sahabat dakwah tak akan lagi di sisi kita.

Dan ternyata hidup adalah sebuah pilihan. Mau tidak mau kita harus memilih, bukan berarti mereka yang pergi itu berpaling pada dunia dan meninggalkan dakwah. Justru, khusnudzannya, mereka pergi untuk kembali dengan dakwah yang lebih powerfull, lebih fresh,  memiliki ide – ide brilian. Bukan berarti juga yang bertahan di tempat ini lantas akan terus-menerus istiqamah berada di jalan dakwah. Karena mutasi bukan jaminan akan membuat dakwah ini semakin kokoh ataupun sebaliknya. Maka akhi, disinilah pentingnya mengokohkan niat, niat sungguh menentukan makna kehadiran kita di suatu tempat. Seperti yang diungkapkan oleh ulama Abu Zubaidin Al-Yaami, “Niatkanlah untuk kebaikan, semua perkara yang engkau lakukan sampai-sampai pergimu ke tempat sampah.”
Akhi, nasihat saya, bagi yang mau segera berhijrah diladang amal yang baru, berhati-hatilah dengan niat hijrah kita tersebut. Mari kita resapi betul hadits Arba’in urutan pertama. Niat bisa membatasi antara dunia dengan akhirat. Jika kita mengharap akhirat, kita akan mendapatkan akhirat, bahkan Insyaallah kita juga akan mendapatkan dunia. Jika kita mengaharap dunia, alih-alih akhirat, dunia pun mungkin bisa jadi justru tak akan didapat. Yang lebih baru ungkapannya adalah seperti ungkapan Ust. Anis Matta, bahwa selama hubungan kita dengan langi terjaga, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan dari bumi. Mari kita menjaga hubungan kita dengan langit, termasuk memperbarui niatan kita diladang dakwah manapun, baik yang gersang maupun yang subur, diwaktu kapanpun, untuk senantiasa tetap teguh seperti pohon yang menjulang tinggi dengan batang yang kuat, namun tetap tumbuh, dan buahnya memberikan kebermanfaatan bagi semua.

Saya jadi teringat ketika saya awal bergabung dengan tarbiyah ini, bertemu dengan sosok senior yang saya lihat begitu haroki. Amanah berjalan dengan baik, binaannya banyak dan produktif, pun demikian dengan kapasitas beliau sebagai aktifis dakwah yang sudah tidak diragukan lagi. Namun demikian, setelah beliau bermutasi, berada diladang amal yang baru, ternyata beliau lebih sibuk memikirkan pekerjaannya, dan wallahu’alam beliau sekarang masih berada dalam lingkaran dakwah ini atau tidak. Khusnudzannya sih beliau tetap istiqamah, berjalan seperti dulu.

Akhi, mari kita luruskan niat kita. Jangan pernah hijrah hanya karena dunia yang kita inginkan, apalagi berpaling dari dakwah karena dunia yang hina. Tidak pas sama sekali jika kita hijrah lalu kehilangan keringat peluh lelahnya berdakwah. Dulunya aktifis dakwah yang millitan, powerfull, semangat, tapi ketika mutasi, menjadi loyo, tak lagi semangat, dan kehilangan nikmatnya menyeru. Akhi, tentunya kita tak mau kehilangan nikmat itu, nikmat iman, nikmat hidayah, nikmat dakwah, berlelah-lelah dalam dakwah itu indah. Seperti apa yang pernah disampaikan oleh Syaikhuttarbiyah kita, begitulah dakwah, dia akan menguras tenagamu, menyedot saripati energimu, berdirimu, dudukmu, bahkan kan saat tidurmu, isi mimpimu tentang dakwah, tentang ummat yang kau cintai.

Sekali lagi, niatkanlah untuk Allah. Boleh jadi substansinya sama namun nilainya berbeda, dan yang membedakannya hanyalah niat.

Teruntuk ikhwah sekalian, baik yang ngebet pengen segera mutasi, berniat mutasi, sudah mutasi, atau belum mutasi, atau tidak berniat mutasi, atau enggan mutasi sama sekali, semoga Allah senantiasa membersamai kita bersama jalan yang mulia ini, meridhoi dan memberikan barokah pada kita semua di manapun kita berada. Yah, kalaupun hijrah sih harusnya seperti hijrahnya Rasulullah dalam kisah Fathu Makkah. Seusai hijrah, pulanglah dan jadikan kampung halaman kita futuh.

Semoga barokah, semoga istiqamah, semoga khusnul khatimah.

 

*Ditulis pada hari ahad, 10 April 2011 pukul 01.33 WIB, capek habis futsal tapi ga’ bisa tidur

Di pojok kamar 4 Rumah Prestasi Basmala Indonesia Ammar Bin Yasir

Nasihat untuk diri sendiri, sahabat, dan para penyeru kebaikan di bumi sekaran tercinta.

https://terpaksabikinwebsite.wordpress.com

Iklan

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s