Happy ending Solutif


Disini kita pernah bertemu

Mencari warna seindah pelangi

Ketika kau hulurkan tanganmu

Membawaku ke daerah yang baru

Dan hidupku kini ceria

(Brothers : Untukmu teman)

Selalu begitu. Berpasangan. Begitulah rukun. Rukun yang selalu dipenuhi. Ada laki – laki, ada pula perempuan. Ada yang bebas, maka ada yang diikat. Ada yang dibenci, ada pula yang dicintai.  Ada perjumpaan, maka ada pula perpisahan. Kebersaman dalam apapun, selalu diakhiri dengan perpisahan. Sebuah keniscayaan. Namun ada yang membedakan perpisahannya orang – orang yang beriman. Seperti halnya para sahabat dan tabiin.

Karena keimanan telah mengikat hati para hamba Allah yang mulia itu. Ini bukan lagi ikatan – ikatan semu: kabilah, ras, suku, ikatan nasionalisme sempit, warna kulit. Tetapi sebuah ikatan sejati. Islam memproklamasikan sebuah majelis mulia yang disana duduk sejajar dengan Mesra Abu Bakar sang bangsawan, Shuhaib yang imigran dari  Romawi, Salman yang seorang pengembara, dan tentu juga Bilal, mantan budak Negro Habasyah. Tak ada jarak diantara mereka. Semuanya berjejer. Mesra.

Begitulah para generasi awal, mereka begitu menghayati makna janji setia sebagai sebuah ikrar kebersamaan dalam persaudaraan. Tiada yang terindah tentang makna kebersamaan, selain persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar. Mereka tidak ingin meniru Bani Israil, yang lancang menyuruh Musaberperang bersama Rabbnya, sementara mereka hanya duduk – duduk dan menunggu. Muhajirin dan Anshar telah mencontohkan kebersamaan paling indah dalam sejarah peradaban manusia.

Di ruang dan waktu yang berbeda, ada sebuah cerita tentang kebersamaan dalam bingkai iman. Adalah sekelompok mahasiswa yang bergabung dalam sebuah wadah perjuangan dalam rangka  menancapkan nilai – nilai islam dihati ummat yang mencoba mendefinisikan makna ukhuwah menurut mereka.

KAMMI Solutif Unnes 1431 H. Kami menyebutnya demikian. Sebuah organisasi pergerakan yang mencoba memberikan tawaran perjuangan dan solusi bagi ummat, namun bukan KAMMI yang akan dibahas di artikel ini, tetapi cerita yang dituliskan indah oleh para pengurusnya selama satu tahun kepengurusan di KAMMI Solutif. Cerita yang mungkin tak sedahsyat kebersamaan Anshor dan Muhajirin, tetapi cukup memberikan makna tentang hakikat indahnya kebersamaan dalam berjuang bersama ikhwahfillah, saudara muslim tercinta. Mari kita lihat cerita indah itu.

Bermula dari Muskom ke XII (harusnya ke X) KAMMI Komisariat Unnes yang menetapkan Akhina Muhammad Luqmanul Hakim sebagai Ketua KAMMI Komisariat Unnes tahun 2010, maka dimulailah segala cerita tentang kebersamaan itu. Awal Februari, Tim Formatur merancang struktur PH Plus (KAMMI Unnes memakai nama PH Plus, bukan BPH), dan akhirnya terbentuklah struktur awal PH Plus KAMMI Unnes.

Struktur PH Plus KAMMI Unnes waktu itu berturut – turut adalah Akh Luqman (Kakom), Akh Bayu (Wakakom), Suryati (Sekum), Esti (Bendum), Saya (Ka. Biro Humas), Ukh Aliq (Sek. Biro Humas), Akh Yanosa (Kadpt HRD), Ukh Syari (Sekdept HRD), Akh Wahyu (Kadept Kastrat), Ukh Anggun (Sekdept Kastrat), Akh Dika (Kadept Soskemas), Ukh Dian (Sekdept Soskemas), Ukh Wiwid (Kadept Ekonomi), dan Akh Mario (Sekdept Ekonomi). Setelah terbentuk struktur kepengurusan PH Plus, agenda pertama yang dilakukan adalah diskusi dengan masing – masing sekretaris, dan dilanjutkan dengan Konsolidasi pertama PH Plus dan sekaligus rihlah ke Wonosobo, tepatnya di Wadaslintang, tempat kediaman Ukh Dian Ardha (Sekdept Soskemas). Agenda dari konsolidasi internal tersebut adalah pembahasan visi dan misi komisariat, serta jargon yang akan diusung selama satu tahun. Dan pada akhirnya jargon KAMMI Solutif-lah yang siusung menemani perjuangan kepengurusan KAMMI Komisarit Unnes 2010.

Perjalanan Komsat yang selama satu tahun diwarnai dengan berbagai liku – liku dinamika organisasi. Mulai dari sepinya agenda komsat, ketertarikan kader dengan KAMMI yang kurang, resufle pengurus, ketidakaktifan pengurus, dan seabrek permasalahan lainnya. Tetapi hal tersebut tidak mengurangi komitmen dan konsistensi para pengurus yang sudah merasa nyaman dengan KAMMI untuk tetap berkarya sesuai dengan bidang mereka masing – masing. Tidak peduli orang berkata apa, yang penting terus bekerja, begitulah kira – kira motivasi mereka untuk tetap berkarya.

Dan pada akhirnya, setelah setahun melaksanakan amanahnya di kepengurusan Komisariat, tibalah saat dimana segala pekerjaan harus dipertanggungjawabkan didepan forum. Tepatnya tanggal 16 Januari yang lalu, LPJ Komsat pun dilakukan. Hasilnya tidak begitu mengecewakan. 10 menolak, 5 menerima, dan 1 absatain. Yang menolak LPJ beranggapan bahwa proses ideologisasi kader KAMMI belum terlaksana dengan baik sehingga hal tersebut menurunkan kualitas kader di angkatan bawah, dan KAMMI harus bertanggung jawab akan hal itu. Hmmm.. betulkah?

Walaupun banyak yang menolak, kami tetap merasa senang dengan karya yang kami lakukan untuk KAMMI Unnes, walaupun belum bisa maksimal, namun setidaknya kami sudah mencoba berkontribusi semaksimal dan seoptimal energi yang kami miliki. Dan harapannya, semoga apa yang kami capai dan warisan yang kami tinggalkan akan bermanfaat untuk para pelanjut.

Kepengurusan KAMMI Solutif 2010 ditutup dengan rihlah bersama pengurus ke Pekalongan pada hari selasa, 18 januari. Dengan menggunakan dua mobil, Daihatsu Luxio yang di driver-i oleh akh Yanosa dan Daihatsu Xenia dengan sopirnya saya sendiri, kami serombongan berangkat dari Semarang ke Pekalongan dengan segenggam harap dapat menikmati kebersamaan akhir dengan para pengurus ini dengan menyenangkan. Happy ending.

Sebelum agenda LPJ dan agenda rihlah ke Pekalongan, khusus biro humas yang kebetulan pengurusnya lumayan aktif – aktif (narsis mode-on … wkwkwk), telah mengadakan perpisahan sekaligus rihlah di Morosari Demak pada hari Jum’at 13 Januari lalu. Agendanya adalah pembahasan rekomendasi humas kedepan. Selain itu, yang terpenting adalah makan duren dan makan ikan kakap yang sangat lezat.

Agenda di pekalongan yang pertama adalah makan siang dirumah Ukh Syari yang kebetulan memiliki Rumah makan. Dan seperti biasa, dalam waktu yang sesingkat – singkatnya, tidak ada 5 menit, sego megono, garang asem , nasi putih dan kerupuk pun dilahap habis oleh terutama para ikhwan keren. Maklum, masih dalam masa pertumbuhan (wkwkk-red).

Selanjutnya agenda berikutnya adalah sharing dan diskusi di Pantai pasir Kencana. Sebelum sharing, para ikhwan menyempatkan untuk bermain bola, antara Tim Mahzab kastrat (Kaptennya Wahyu) vs Mahzab Kadeisasi (Kaptennya Luqman). Hasilnya menang 5-7 untuk Mahzab kaderisasi. Lumayan, saya bisa nyetak 2 gol. Dan saat main bola, ditemani nuansa deburan ombak pantai Pasir Kencana, dipadukan dengan semilirnya angin khas pesisir utara, pada waktu sore itu semakin mempesona dan manjadi kenangan tersendiri yang tidak bisa kami lupakan.

Setelah para ikhwan berkeringat, dan matahari sudah mulai berwarna jingga pertanda sore sudah menyambut, kamipun segera menggelar diskusi dan sharing serta perpisahan para pengurus KAMMI Solutif Unnes 1431 H. Tepatnya di taman dekat pantai, agenda diskusi yang dipimpin oleh Akh Luqman diawali dengan taujih yang dahsyat dari akh Ipung, yang intinya kalo tidak salah adalah tentang visi orang – orang besar yang tetap hidup walaupun fisiknya telah tiada, dan kader KAMMI harus seperti itu, mempunyai visi besar, cita – cita besar, grand desain yang besar, sehingga kelak suatu ketika fisik kita telah tiada, visi itu tetap dapat diwariskan. Amiin.

Agenda diskusi yang merupakan penutup dari perjalanan KAMMI Solutif Unnes 1431 H dilaksanakan dengan agenda pesan dan kesan dari masing – masing personal pengrurus terhadap pengurus lainnya. Ada pesan yang lucu, menyemangati, memotivasi, ucapan terimakasih, atau bahkan sampai ada pesan yang mengharukan segala. Ah, saya pun jadi terharu dengan pesan – pesan itu. Dan barangkali itulah seninya ukhuwah. Romantika kebersamaan yang berbalut keimanan. Selalu berakhir indah, menyejarah. Walaupun tidak sehebat kaum Anshor dan Muhajirin ketika mereka dipersatukan dengan proyek persaudaraan oleh Rasulullah. Walaupun tak sehebat kekuatan ukhuwah para sahabat tersebut, namun setidaknya kami mencoba mendefiniskan makna ukhuwah fillah, dan ternyata indah.

Makan malam di kedungwuni, tepatnya di rumah Ahk Luqman, adalah agenda terakhir rihlah hari itu. Kurang lebih pukul delapan malam, akhirnya kami pun segera bergegas pulang ke Semarang. Dan bersamaan dengan pekatnya jalanan di hutan Batang dan gerimis yang membuat suasana didalam mobil yang dingin, selesailah sudah romantika kebersamaan kami di KAMMI Solutif Unnes 1431 H. Akhir yang membahagiakan. Barakallahu

Untuk mengenang kebersamaan kita di Komisariat Solutif, mari bernyanyi kembali kawan…

Kini dengarkanlah

Dendangan lagu tanda ingatanku

Kepadamu teman

Agar ikatan ukhuwah

Kan bersimpul padu

Kenangan bersamamu

Takkan kulupa

Walau badai datang melanda

Walau bercerai jasad dan nyawa

(Brother : untukmu teman)

Dan pada akhirnya, kebersamaan kita yang penuh dengan nuansa persaudaraan dan getaran cinta ini menjanjikan keagungan karunia berupa mimbar – mimbar cahaya cinta. Persaudaraan yang mencapai puncak dan akan menembus langit – langit peradaban ini, akan menjadi  nilai termahal. Ah, indahnya kebersamaan dalam perjuangan.

Sejenak ku terkenang

Hakikat perjuangan, penuh onak dan cabaran

Bersama teman – teman, arungi kehidupan

Oh indahnya..

(Brothers : Selamat berjuang)

Iklan

One thought on “Happy ending Solutif

  1. ikatan organisasi apaun akan hilang, KAMMI, organisasi Intra, Angka kuliah.., apa yang tidak akan pernah hilang adalah persaudaraan.., mantab mantab kelihatan gagah cah, lebih mantabs.,

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s