Kembali kepada Taghyir wa Ishlah


“Dakwah ini tidak menerima persekutuan. Sebab, tabiatnya adalah keterpaduan. Maka, siapa yang siap, ia harus hidup bersama dakwah. Dan, dakwah pun hidup bersamanya. Sebaliknya, siapa yang tidak sanggup memikul beban ini, ia terhalang dari pahala mujahidin, tertinggal bersama orang-orang yang tertinggal, duduk bersama orang-orang yang hanya duduk-duduk. Dan, Allah swt. akan mengganti dengan generasi lain yang sanggup memikul beban dakwah ini.”  (Imam Syahid Hasan Al-Bana)

Alhamdulillah, ikhwah, sampai pada saat ini kita masih diberikan kenikmatan oleh Allah Azza Wa Jalla, berupa keimanan, Islam, dan keistiqomahan untuk tetap berjalan, bukan hanya berjalan, tetapi memikirkan, bukan hanya memikirkan, tetapi bergerak, bergerak atas dasar pemahaman yang syumul di jalan yang mulia ini, dan semoga kita selamanya akan tetap diberikan kenikmatan istiqomah ini. Mengapa harus berdoa agar istiqomah dijalan ini, ya karena kita tidak akan pernah tahu, nasib diri ini kelak di akhir zaman, masih tetap istiqomah dengan jalan ini, dalam pelukan dien yang mulia ini dan tetap teguh untuk memperjuangkan Islam, atau bahkan diri ini penuh dengan lumuran dosa yang diakibatkan kondisi diri kita yang fujuur. Banyak sekali contoh kasus tentang keistiqomahan ini, sringkali banyak kader dakwah yang semula sangat progresif, bersemangat, dan militan dalam mengemban amanah dakwah, tetapi pada waktu tertentu, ketika dihadapkan pada sebuah kondisi, dia menjadi begitu pragmatis, begitu minimalis, begitu loyo, dan yang paling parah adalah pada kondisi insilah, berpaling dari jalan dakwah ini. Naudzubillah. Semoga kita tetap dalam kondisi istiqomah itu, karena istiqomah itu ternyata mahal harganya.

Shalawat dan salam senantiasa tersanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang mengajari kita bagaimana sesungguhnya hakikat dakwah, tentang keistiqomahan beliau, tentang bagaimana seharusnya seorang pendakwah harus berdakwah, sesungguhnya dakwah, yaitu dengan hati.  Ya, berdakwah dengan hati. Barangkali inilah yang perlu kita contoh dari Rasul kita yang mulia itu. Shalawat dan salam juga terlimpah kepada para sahabat, para keluarga beliau, dan para tabiin.

Hari ini saya tidak akan membicarakan masalah istiqomah, juga bukan tentang berdakwah dengan hati, melainkan hal yang urgen, yang sepertinya hari ini agak hilang dari diri kita sebagai aktivis dakwah.  Ya, berbicara tentang misi awal kita berada ditempat ini. Misi awal yang membawa kita berjalan di jalan ini. Atau jangan – jangan kita sudah lupa akan misi kita tersebut? Sebaiknya kita bahas kembali.

Sepemahaman saya (tafadhol kalau mau dikoreksi), misi dakwah kita adalah untuk menuju ke  arah perubahan dan perbaikan (Taghyir wa ishlah). Ini sudah jelas dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau berdakwah. Mari kita tengok kembali perjalanan dakwah Rasululullah, yang didalamnya banyak sekali dapat kita ambil perjalanan yang berharga, tentang keberanian, ketaatan, pengorbanan, konsistensi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun, ada satu hal menarik untuk kita simak. Yaitu, di hampir setiap penaklukan kota dan negeri, cara kekerasan selalu pada pilihan terakhir. Tidak ada politik bumi hangus, balas dendam, asal hukum, dan sebagainya. Setidaknya, hal itu terlihat pada penaklukan terbesar pada sejarah dakwah Rasulullah SAW, yaitu Fathul Mekkah.

Siapa yang masuk ke Masjidil Haram, ia selamat. Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, ia juga selamat.”

Begitulah kira-kira hawa perdamaian dan keselamatan yang ditebarkan Rasul pada penduduk Mekah. Sebuah komunitas yang pernah begitu besar melakukan permusuhan terhadap diri dan misi Rasulullah SAW. Inilah pola baru yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah dalam penaklukan yang dikenal masyarakat dunia waktu itu. Karena umumnya, penaklukkan selalu berujung pada penghancuran, balas dendam, dan sejenisnya.

Ikhwah, pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa dakwah Islam tidak sekadar melakukan perubahan. Tapi juga perbaikan. Hal itulah yang pernah diungkapkan Nabi Syu’aib soal dakwahnya. Firman Allah swt.,

“…Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88)

Logikanya, perubahan dan perbaikan seolah seperti dua muka pada sebuah koin. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Perubahan tanpa perbaikan, adalah seperti orang yang berjalan tanpa arah. Dan perbaikan tanpa perubahan seperti menuang air ke ember yang bocor. Bukanlah perubahan tanpa perbaikan. Dan tak ada perbaikan tanpa diiringi dengan perubahan, dengan kata lain, perubahan yang kita inginkan bukan perubahan formalitas. Bukan sekadar ganti kulit, sementara isinya masih tetap ular. Karena itulah, syumuliyatud dakwah harus terus kita jaga. Baik dari segi objek, bentuk, sarana, dan pengembangannya.

Sebelum kita mengarahkan objek dakwah kepada orang lain disekitar kita, sudah seharusnya kita diri kita dan keluarga yang harus terlebih dahulu menjadi objek utama. Ibaratnya, jangan sampai kita seperti calo bus di sebuah terminal, berteriak-teriak supaya orang lain naik bus. Ketika bus berangkat, ia tetap saja diam di terminal. Pada intinya kita harus memperbaiki diri kita, merubah diri kita dulu, baru kemudian kita mengajak orang lain untuk berubah. Setidaknya tentang hal tersebut, Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak seperti orang Yahudi yang kehilangan konsistensi terhadap diri sendiri.

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri. Padahal kamu membaca Alkitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Ikhwah, Allah SWT memberikan kita begitu banyak pengalaman soal bentuk dakwah yang cocok ditempat kita saat ini, sejak era awal dakwah ini berjalan. Mulai dari romantika gerilya yang memunculkan begitu banyak pengalaman kewaspadaan, era kelembagaan yang mengajarkan kita cara efektif bersosialisasi, dan era politik saat ini yang membuka begitu banyak pintu peluang. Allah swt. begitu memudahkan kita melalui bentuk-bentuk dakwah itu, memberikan kepada kita khazanah pengalaman yang begitu mahal. Bahkan, teramat mahal, yang mungkin tidak dialami negeri-negeri lain yang juga mengusung dakwah ini. Dari situ, kita bisa menimbang dan menakar seperti apa mestinya dakwah yang produktif untuk kita lakukan ditempat kita berada masing – masing.

Semua kita yakin bahwa tak seorang pun dari kita yang ingin mengecilkan peran dakwah ini. Tak seorang pun dari kita yang anti politik seraya ingin tetap dalam bentuk dakwah gerilya. Sebagaimana, tak seorang pun dari kita yang ingin melupakan bentuk dakwah di masa awal dulu dengan berasyik-asyik duduk menikmati kemewahan panggung politik. Namun, parsialisasi dakwah kadang muncul bersamaan dengan dominasi subjektivitas dakwah. Ketika kebersamaan tergilas oleh obsesi individu, ketika amal jama’i terpinggirkan oleh superioritas orang per orang, ketika keputusan atau ijtihad pribadi bisa mengalahkan hasil syuro yang penuh berkah; saat itulah dakwah menjadi begitu kerdil, parsial, dan artifisial. Naudzubillah. Bahkan mungkin, sesama satu gerakan dakwah bisa saling meniadakan antara satu pelaksana dengan pelaksana yang lain. Antara satu program dengan program yang lain.

Ikhwah, saatnya kita berkontemplasi sudah sejauh manakah kita berjalan saat ini, sudahkah kita merubah, sudahkah kita mampu memperbaiki lingkungan. Dan saatnya kita belajar kembali dari peristiwa besar Fathul Mekkah. Fathul Mekkah adalah di antara buah dakwah Rasulullah SAW, yang didahului dengan  keringat, darah, dan air mata. Namun, beratnya perjalanan itu tidak menjadikan dakwah kehilangan kebijaksanaan dan kasih sayang. Beratnya dakwah tidak menjadikan dakwah kehilangan keanggunannya. Malah justru, menjadikan dakwah begitu matang dan dewasa. Maka setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita wariskan, perlu kita lakukan agar dakwah ini tetap pada koridornya, dalam hal apa pun kepemimpinan, keterpaduan, kesolidan, program perubahan dan perbaikan, serta keteladanan sangat penting untuk generasi dakwah yang akan datang. Wallahu’alam Bi Showab.

Iklan

One thought on “Kembali kepada Taghyir wa Ishlah

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s