Who’s the next heroes?


Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk mnyelesaikan persolan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka tidak perlu dicatat dalam buku sejarah. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. mereka berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Pahlawan bukan untuk dikagumi tapi untuk diteladani. (Anis Matta –> mencari pahlawan Indonesia)

Tanggal 10 November, seperti biasa, setiap tahunnya selalu ada seremonial peringatan Hari Pahlawan. Hari pahlawan tanggal 10 November pada sejarahnya, dilatarbelakangi oleh perjuangan arek – arek Suroboyo pada bulan November 1945, ketika itu, dengan segenap kemampuan yang mereka miliki, dan ditambah semangat heroik untuk mempertahankan Surabaya dari serangan penjajah. Lalu para arek suroboyo yang gugur pun dinobatkan sebagai pahlawan Indonesia. Sejak itu, setiap tanggal 10 November, Negara kita Indonesia memperingati sebagai hari pahlawan. Editorial kali ini tidak akan membuka sejarah 10 November 1945, tetapi mencoba menafsirkan, siapa yang dimaksud pahlawan.

Kita awali artikel ini dengan melihat negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Kita ketahui bahwa Bangsa Amerika pernah mengalami depresi ekonomi terbesar dalam sejarah dari tahun 1929 hingga 1937. Selang lima tahun setelah itu, tepatnya tahun 1942, mereka memasuki Perang Dunia Kedua; dan mereka menang. Tapi krisis itu telah membesarkan Bangsa Amerika; selama masa depresi mereka menemukan teori-teori makroekonomi yang sekarang kita pelajari di bangku kuliah dan menjadi pegangan perekonomian jagat raya. Mereka juga memenangkan PD II dan berkuasa penuh di muka bumi hingga saat ini. Dan dibalik itu semua ada seorang pahlawan yang mengubah tantangan menjadi peluang, dialah Franklin Delano Roosevelt, Presiden Amerika kala itu. Lorong kecil yang menyalurkan udara pada ruang kehidupan sebuah bangsa yang tertutup oleh krisis adalah harapan. Inilah inti kehidupan ketika tak ada lagi kehidupan. Inilah benteng pertahanan terakhir bangsa itu. Tapi benteng itu dibangun dan diciptakan para pahlawan. Mungkin mereka tidak membawa janji pasti tentang jalan keluar yang instan dan menyelesaikan masalah. Tapi mereka membangun inti kehidupan; mereka membangunkan dara hidup dan kekuatan yang tertidur di sana, di atas alas ketakutan dan ketidakberdayaan. Itulah yang dilakukan Roosevelt. Bangsa yang sedang mengalami krisis, kata Roosevelt, hanya membutuhkan satu hal: motivasi. Sebab, bangsa itu sendiri, pada dasarnya, mengetahui jalan keluar yang mereka cari.

Yang kedua, yang lebih mencengangkan lagi, kit akan berkunjung ke Timur Tengah, Arab Saudi, tepatnya dikota Mekkah. Sebelumnya, kota ini penuh dengan nuansa kegelapan jahiliyah, lalu datanglah sosok Muhammad, sang Nabi, pembawa pesan Tuhan, dan akhirnya jayalah Mekkah, jayalah Madinah, jayalah bangsa Arab, jayalah islam ketika itu yang menguasai hampir seluruh wilayah bumi. Dan itu berawal dari kerja keras satu orang. Muhammad Shallallhu Alaihi Wassalam.

Dua orang tersebut, meskipun dengan zaman berbeda, dengan latar belakang yang berbeda sama sekali, tetapi mereka telah menjadi pahlwan. Lalu yang menjadi pertanyaan bersama dan selanjutnya menjadi kajian bersama, siapakah pahlawan? Apakah harus menjadi tokoh dulu, baru kemudian bisa dikatakan pahlawan? Mari kita lihat jawabannya.

Makna pahlawan, menurut Kamus besar bahasa Indonesia adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Kata “pahlawan” berasal dari bahasa Sansekerta phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama. Lalu menurut Anis Matta, seperti tertulis dalam pembukaan tulisan ini, Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk mnyelesaikan persolan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka tidak perlu dicatat dalam buku sejarah. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Pahlawan bukan untuk dikagumi tapi untuk diteladani. Ya, pahlawan adalah manusia biasa, yang kadang juga mempunyai salah dan khilaf, tetapi yang menjadi beda disini adalah keberhasilannya , Mereka muncul di saat-saat sulit. Mereka datang untuk memikul beban yang tidak dipikul manusia di zamannya. Mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat dengan menciptakan peluang untuk kebaikan.Dan sebenarnya, menjadi pahlawan itu, tidak harus kemudian kita mengangkat senjata ke medan perang untuk berperang, tetapi banyak hal yang bias dilakukan untuk menjadi pahlawan. Yang jelas, kepahlawanan yang dimiliki seseorang, mempunyai tujuan kebaikan yang dibawa. Kebaikan adalah medan kompetisi bagi para pahlawan yang akan mengeksploitasi potensi potensi mereka. Dengarkan apa yang ada dalam pikiran para pahlawan, Setiap kali mereka menyelesaikan satu unit amal, dalam tempo yang ringkas dan cepat, dengan kualitas maksimum, dan dengan manfaat sosial sebesar-besarnya, barulah mereka dapat menikmati rentang waktu itu. Kebahagian mereka terletak pada selesainya unit-unit amal kebaikan yang mereka kerjakan dengan cara yang sempurna.

Untuk menjadi sosok pahlawan, diperlukan beberapa langkah yang akan menjadikan pahlawan – pahlawan tangguh yang siap membela tanah air dan Negara Indonesia dalam konteks kekinian.

Pertama adalah optimisme,

Optimisme mengajarkan bahwa kita harus idealis dalam menjalani kehidupan ini, namun kita juga harus sadar bahwa kita hidup di dalam dunia yang nyata yang terkadang jauh dari nilai-nilai ideal.

Kedua, Mampu mengambil momentum.

Seseorang tidak menjadi pahlawan karena melakukan pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya, kepahlawanan memiliki momentumnya. Yang perlu kita lakukan adalah mempercepat saat-saat kematangan. Yaitu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin potensi dalam diri kita, mengolahnya dan kemudian mengkristalisasikannya. Dengan ini kita memperluas peluang sejarah atau mengantar kita ke pintu sejarah.

Ketiga, Menjaga kegembiraan jiwa, untuk terus mampu berjalan jiwa ini perlu dijaga agar tetap dalam kondisi gembira. Kegembiraan adalah sumber energi bagi jiwa.

Keempat, Terus Menggali Keunikan Diri,

Sejarah hanya mencatat karya-karya yang berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya. Sejarah tidak mencatat pengulangan-pengulangan. Kecuali untuk karya di bidang sama dan memiliki kualitas yang tidak berbeda. Menjadi unik adalah beban psikologis yang tidak semua orang mampu menanggungnya. Ancamannya adalah isolasi, keterasingan dan akhirnya adalah kesepian. Jika engkau bersedia menerima takdir kesepian sebagai pajak bagi keunikan, maka niscaya masyarakat juga akan membayar harga yang sama : kelak mereka akan merasa kehilangan.

Kelima, terus bergerak Menuju Kesempurnaan,

kesempurnaan adalah obsesi seorang pahlawan. Bergerak menuju sempurna adalah bergerak menuju batas maksimum, atau memaksimalkan segenap potensi diri.

Keenam, Siap Dengan Kegagalan,

pertanyaannya Bagaimana mereka mampu melampaui kegagalan-kegagalannya dan merengkuh takdirnya sebagai pahlawan? Jawabnya adalah, Mereka memiliki mimpi yang tidak pernah selesai, mereka memiliki semangat pembelajaran yang konstan, dan kepercayaan terhadap waktu, mereka menyadari bahwa segala sesuatu memiliki waktunya.
Ketujuh, Kekuatan Imajinasi

Seperti halnya sosok Muhammad ketika perang Khandaq, beliau mengatakan saat sedang menghancurkan batu besar, bahwa sebentar lagi Romawi akan ditaklukkan, lalu setelah itu Persia akan diaklukkan, dan akhirnya setelah itu kaum Muslimin benar – benar menaklukkan wilayah tersebut. Artinya kekuatan imajinasi, yang berasal dari pikiran kita, akan menjadi kekuatan besar. Sosok pahlawan senantiasa mempunyai daya imajinasi yang tinggi, dengan mimpi – mimpi besar mereka telah mampu menghadirkan perubahan.

Dari ketujuh langkah – langkah strategis tersebut, sepertinya kitapun juga akan mampu menjadi pahlawan. Apalagi ketika dibenturkan dengan kondisi bangsa kita saat ini, bangsa yang sedang mengalami krisis pahlawan. Dan mau tidak mau, optimism tentang kejayaan Indonesia itu harus kita munculkan kembali. Sebuah kehidupan yang terhormat dan berwibawa yang dilandasi keadilan dan dipenuhi kemakmuran masih mungkin dibangun di negeri ini. Untaian Zamrud Katulistiwa ini masih mungkin dirajut menjadi kalung sejarah yang indah. Tidak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat ini. Tidak peduli seberapa banyak kekuatan asing yang menginginkan kehancuran bangsa ini.

Masih mungkin. Dengan satu kata: para pahlawan. Tapi jangan menanti kedatangannya atau menggodanya untuk hadir ke sini. Sekali lagi, jangan pernah menunggu kedatangannya, seperti orang-orang lugu yang tertindas itu; mereka menunggu datangnya Ratu Adil yang tidak pernah datang.

Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Karena ketik kita bertanya siapakah pahlawan, maka jawabanya, pahlawan itu adalah aku, kamu, dan kita semua. Pahlawan bukan orang lain.

Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah. Selamat hari pahlawan, selamat menjadi sosok pahlawan baru untuk Indonesia.

Sumber : Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia, 2004, Kamus Besar Bahasa Indonesia

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s