Refleksi 82 tahun sumpah pemuda : keniscayaan pemuda, menjadi pemimpin


Oleh : Dwi Purnawan*

82 tahun yang lalu, sejarah besar kebangkitan bangsa Inonesia ini diawali, adalah ketika sekelompok pemuda dengan visi besarnya membangun kesadaran cinta tanah airnya, sehingga pada akhirnya mendeklarasikan sebuah janji, yang kemudian terkenal dengan sebutan sumpah pemuda. Ya, sumpah pemuda yang pada tahun ini sudah 82 diperingati. Namun, pemuda – pemuda visioner dan idealis ketika itu, barangkali saat ini berganti dengan pemuda Indonesia yang berkarakter pragmatis. Sejarah mencatat bahwa generasi muda adalah generasi pahlawan yang memberikan solusi konkret bagi perbaikan masyarakat, bangsa dan Negara. Kalau kita lihat lagi kebelakang, banyak pemuda – pemuda yang memberikan inspirasi tentang jiwa kepahlawanannya, jiwa patriotis yang diiringi dengan semangat membara, optimis, dan pantang menyerah.

Lihatlah pemuda ini, yang hidup beberapa ratus tahun lampau. Hidup pada lingkungan masyarakat yang jahiliyah membuatnya mau tidak mau memberontak terhadap kehidupannya. Dan iapun berangkat mencari jatidiri Tuhannya. Dan ternyata idealism dan perjuangan yang dilakukan tidak mudah, dan mendapat penentangan yang luar biasa dari masyarakatnya, dan bahkan ayahnya sendiri. Dialah Ibrahim As. Nabi ke 6 yang mengalami penentangan hebat dalam perjalanan pencarian Tuhannya. “Maju, meski sendiri,”ujar Ibrahim. Sejarah panjang Ibrahim sennatiasa diiringi peristiwa kesejarahan hebat yang dilakukannya sendiri. Ideologi yang diyakininya dan perubahan yang harus dia lakukan dalam masyarakatnya, menemui tembok yang tebal, yaitu Ayahnya sendiri. Adalah tantangan besar, seperti kondisi saat ini ketika segolongan pemuda dan mahasiswa harus berhadapan dengan masyarakat yang agak membenci kritik sosial politik. Dan pilihan Ibrahim adalah terjun kedalam api mempertahankan ideologi yang dia yakini. Dan dia pun menang.

Lain lagi dengan Ibrahim, kali ini adalah sekelompok pemuda yang memilih untuk mengasingkan diri disaat masyarakat dan Negara kembali menghadang proses perubahan, pilihan lain adalah dengan memarginalisasikan diri. Dan sekelompok pemuda itu adalah Ashabul Kahfi. Dan diabadikan para pemuda pemberani itu dalam Al-Qur’an. Tindakan ini adalah sebuah pilihan para pemuda idealis ketika ide yang meraka bangun dan dimiliki terhadang. Sebuah pilihan terberat bagi sebuah perubahan adalah dengan pengasingan diri demi mempertahankan kemurnian ideologi yang diyakini.

Lihatlah pula sosok muda ini, yang menjadi pemimpin “Perang Mu’tah” tiga pemimpinnya adalah dari para muda (Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah bin Rowahah ). Dan sebelumnya kita menemukan seorang pemuda yang bernama Ali bin Abi Thalib yang rela mengorbankan jiwa dan menjualnya untuk dakwah Rasulullah saw.

Dalam konteks Indonesia. dikatakan Indonesia adalah jantung dunia. Ngera Indonesia adalah penghasil bahan tambang terbesar nomor 1 dunia kategori tambang timah, penghasil batu bara nomor 3 terbesar, penghasil tembaga keempat, penghasil nikel kelima. Selai itu, juga memiliki kekayaan emas noomor tujuhbesar dunia. Sedangkan dilihat dari potensi kekayaan hayati, Indonesia adalah salah satu Negara terkaya dan terluas hutan dan keanekaragaman hayati. Memiliki 515 jenis mamalia, 397 jenis burung, 1400 jenis air tawar 477 jenis palem, terumbu karang yang mempesona, 17.504 pulau tersebar di Indonesia, dan masih banyak lagi.

Tetapi yang menjadi masalah adalah bangsa ini krisis pemimpin yang memiliki jiwa besar, visi besar, dan kinerja besar untuk membangun bangsa ini. Sangat berat memang memimpin sebuah bangsa yang besar dengan segala potensinya, dan hal itu juga dialami negeri kita saat ini. Mari kita lihat fakta dan data bangsa kita saat ini. Bangsa ini sedah terkena penyakit akut bernama korupsi. Menurut data dari Transperency Internationial, Indonesia bersama Kenya menempati urutan keenam dalam kategori kasus korupsi. Luar biasa. Bahkan disalah satu institusi yang seharusnya tidak terjadi praktik korupsi dan suap, tetapi malah terjadi, seperti di institusi Departemen Agama dan kejaksaan. Dari aspek kesejahteraan rakyat, Indonesia masih jauh dari sempurna. Angka pengangguran masih tinggi, berkisar antara 8-10%. Itu diakibatkan dari pertumbuhan ekonomi yang hanya sebesar 5% yang tidka cukup menyerap seluruh tenaga kerja yang memasuki usia kerja. Pun demikian dengan realitas SDM bangsa kita ini. Hasil survey Human Development Index (HDI) atau indeks pembangunan manusia di 179 negara didunia, Indonesia hanya menempati urutan ke 109. Sedikit gambaran, bahwa indicator penilaian HDI adalah dengan mempertimbangkan 4 dimensi dasar manusia, yaitu usia, pola hidup sehat, pendidikan, dan standar penghidupan yang layak. Dari empat dasar tersebut, Indonesia semuanya masih rendah.

Dari konteks Indonesia, dapat kita ketahui bahwa bangsa ini benar – benar membutuhkan terapi penyembuhan segera. Dan itu harus berasal dari ide – ide segar para pemudanya. Tetapi ketika melihat realitas pemuda Indonesia saat ini, sepertinya kita pun sebagai pemuda harus merasa khawatir, karena pemuda kita ternyata telah disetting mempunyai pemikiran yang sempit, egoism tingkat tinggi, dan tidak mau memikirkan bangsanya. Dan citra negative pun sepertinya masih saja disematkan pada pemuda kita saat ini. Dari tawuran, aborsi, kasus narkoba, kriminalitas, rata – rata melakukan pada usia muda. Lalu pertanyaannya mau dibawa kemana bangsa kita ini?

Lalu, bagaimana seharusnya menjadi pemuda yang tangguh, atau lebih tepatnya pemuda muslim yang solutif? Dibawah ini adalah tentang cirri – ciri pemuda itu, yang mampu menjadi solusi bagi permasalahan ummat dan bangsa.

– Mereka adalah yang memandang bahwa taat kepada Allah adalah sebuah kekuatan yang mampu mendorong jiwanya untuk bangkit dan membangunkan umat dari tidurnya , sebagaimana ungkapan Rasulullah saw: “Dan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah…”

– Mereka yang disibukkan dengan besarnya amanah dan beratnya perkara dan tidak menyiakannya sekecil apapun.

– Mereka adalah orang-orang yang sibuk menjadikan ilmu sebagai bekal peradaban dan senjata kemajuan serta amunisi keimanan.

– “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah dari para hamba-hambanya hanyalah para ulama dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Maha Pengampun”. (Fathir:28).

– Sehingga mereka tidak meninggalkan sedikit pun pintu ilmu kecuali mengetuknya dan tidak ada sisi kemuliaan kecuali mereka bersegera menujunya.

– Mereka yang menyadari bahwa kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia, sehingga tidak waktu sedikit pun yang lewat tanpa disusun dengan baik dan tanpa ada persiapan yang matang.

– Mereka adalah orang yang memandang bahwa persatuan umat hal utama dari pondasi kekuatan umat. Sehingga mereka berusaha untuk selalu menjalin silaturahim, menghormati guru dan ulama, tersenyum dan menyampaikan salam kepada orang yang dijumpai, ketika berbicara dengan ucapan lembut dan bersih dari perkataan kotor, paling cepat memberikan kontribusi, dan meninggikan syiar Nabi saw: ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”.

– Mereka adalah orang-orang yang memiliki jati diri dan lapang dada ketika berada di tengah pertikaian, mengembalikan dengan cara yang baik terhadap orang yang mencelanya. Manusia melempari mereka dengan batu namun mereka membalasnya dengan buah kurma yang paling baik. Dan terpatri dalam tubuh mereka karakter dari para sahabat Rasulullah saw : “Dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”. (Al-Fath:29)

– Mereka adalah orang-orang yang memahami hak atas tanah air dan negaranya, dan memandang bahwa agama Islam adalah saudara kembar dari negara. Memandang pada sisi lainnya bahwa politik adalah sahabat karib dalam jalan menuju perubahan dan reformasi. Dan pada semua itu tangannya membentang untuk membawa bendera negaranya, memutar roda perubahan menuju hari esok yang lebih cerah, menuju kemerdekaan umat dari para pencuri mimpinya dan kekuatan anak bangsanya, bersih dari ikut-ikutan, kediktatoran dan individualisme.

– Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal kata frustrasi

– “Dan tidaklah ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat” (Al-Hijr:56).

– Sehingga semangat mereka tidak lemah saat krisis ekonomi mendera, tidak berkompromi dengan kendaraan yang tidak termasuk dalam garis Allah, tidak berhenti untuk memberikan kontribusi saat tersebar sikap oportunis dan individualis, dan isolasi. Gerak mereka tidak memiliki tapal batas, langkah mereka tidak ada yang mampu menghalangi sekalipun dengan seribu manusia, perbuatan mereka adalah contoh dan teladan sekalipun dalam bentuk satu buah kerja tangan atau satu buah produksi, tidak mengenal ketergantungan namun selalu bekerja dengan gigih dan penuh inovasi dalam berbuat dan dalam melakukan reformasi.

– Mereka adalah orang-orang yang merasakan bahwa loyalitas terhadap negara adalah bagian dari ibadah dan memandangnya sebagai bentuk dambaan dan kerinduan seperti yang dilakukan oleh Nabi saw terhadap tanah air Nya: “Demi Allah, engkau adalah negeri Allah yang paling aku cintai, sekiranya pendudukmu tidak mengusirku darimu maka akan tidak akan pergi darinya”.

– Dengan kecintaannya mereka selalu menyeru untuk bekerja dalam berbagai kegiatan dan aktivitas yang positif, syiar mereka adalah reformasi, slogan mereka adalah kontribusi sebanyak-banyaknya, bekal mereka adalah sabar dalam menghadapi berbagai ujian dan ciri khas mereka adalah tawadhu.

Akhirnya, semoga semangat pemuda Islam yang visioner selalu menjiwai setiap langkah kaki kita, sehingga setiap yang kita lakukan adalah solusi bagi permasalahan bangsa. Akhirnya selamat hari sumpah pemuda, selamat menginspirasi Indonesia.

* Mahasiswa Penjaskes dan Rekreasi FIK Unnes

Penulis lepas dan pegiat Humas KAMMI Unnes

Tulisannya bisa dilihat di http://thedwy.com dan

https://terpaksabikinwebsite.wordpress.com

One thought on “Refleksi 82 tahun sumpah pemuda : keniscayaan pemuda, menjadi pemimpin

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s