Mari bertaubat, segera


Oleh : Dwi Purnawan *

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Qs. Ali Imran : 133).
Malam menjelang pagi, pukul 01.30 WIB, setelah hujan deras. Sepi. Hening. Hanya bertemankan laptop, sambil terkadang mendengarkan bunyi sisa – sisa air hujan yang berjatuhan. Kadang juga mendengar suara nafas tim kepanduan lain yang tertidur karena kecapekan. Yang lain sudah pada tidur, terlelap dalam mimpi, tetapi tidak demikian dengan mata ini. Masih terjaga. Ya, karena mendapatkan jatah shift jaga di Musyawarah Daerah DPD PKS Kota Semarang, mau  tidak mau mata ini harus tetap terjaga, walaupun kadang menguap, walaupun kadang mengucek mata merah, tetapi mau tidak mau, sampai pagi, harus tetap terjaga, disini. Disudut parkiran Bawah Gedung Dharma Wanita Semarang.

Dalam keheningan malam, pikiran ini terbang, melayang, entah kemana, dan akhirnya berada pada satu titik, sebuah titik yang kadang orang – orang sulit untuk melakukannya, yang kadang kitapun mesti kembali merenunginya. Titik tersebut bernama iman. Ya, imanlah yang kelak akan menghantarkan kita sampai ke jannah-Nya. Imanlah yang akan membersamai kita dalam kerinduan bertemu dengan kekasih Allah, dan imanlah yang akan meneguhkan kita dalam keadaan apapun. Yakinlah sahabat. Tetapi, kita pun harus sering menanyakan dalam hati kita, sudahkah kita beriman? Karena salah satu bukti dari rasa iman itu adalah senantiasa bersegera bertaubat setiap kali melakukan kesalahan.

Ya, iman dan taubat. Sepasang kata yang serasi yang hanya cocok dialamatkan kepada orang – orang mukmin. Dan mari kita tengok hakikat iman menurut orang mukmin. Ya, mereka menyadari bahwa kesalahan bisa datang tanpa disadari. Sehingga taubatlah yang akan segera membuat mereka kembali kepada iman. Mereka selalu mengawali hari dengan taubat, karena mereka sadar bahwa rentang antara taubat di awal hari dengan hari berikutnya sangat memungkinkan ternodai kesalahan dan kemaksiatan yang baru. Dan di sinilah letak perbedaan orang-orang mukmin dengan golongan yang lainnya. Seketika, begitu sadar kesalahan atau kemaksiatan terkerja, orang-orang mukmin bersegera bertaubat, sehingga dapat dipastikan kemungkinan berbuat maksiat bisa diminimalisir atau dihilangkan samasekali. Pertanyaannya, sudahkah kita demikian, sahabat? Sudahkah kita senantiasa membiasakan diri dengan taubat?

Sahabat, di pagi ini saya ingin bercerita tentang dua orang yang besar, yang pernah membersamai Rasulullah dalam dakwahnya, yang akan memberikan inspirasi bagi kita, tentang hakikat iman.

Orang yang pertama adalah sosok tegap, yang berprofesi sebagai petani makmur kala itu di Negara Madinah. Yang mempunyai banyak strategi untuk menjamin ketahanan pangan Negara Madinah, dan barangkali menteri pertanian kita saat ini perlu banyak mengkaji tentang sosok sahabat ini, agar mempu menjamin ketahanan pangan Indonesia. Dia juga pernah mendapat julukan dari Nabi sebagai syahid yang berjalan di muka bumi dan tetangga Nabi di surga. Ya, Thalhah Bin Ubaidillah. Suatu ketika pernah terbersit keinginan dalam diri Thalhah untuk menikahi Aisyah setelah Rasulullah wafat. Sehingga turunlah ayat ini.

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.”(QS Al-Ahzab : 53)

Saat itu Thalhah datang ke rumah Aisyah, yang masih saudara sepupunya. Hatinya bergejolak, berdebar, sebuah perasaan manusiawi ketika bersua dengan Aisyah.  Namun begitu dia teringat ayat tersebut, Thalhah segera menyadari kesalahannya. Dan ia pun segera bertaubat. Dan apa yang dilakukannya setelah itu? Barangkali inilah makna taubat versi Thalhah. Ia memerdekakan budak, menginfakkan seluruh untanya yang berjumlah sepuluh ekor, dan pergi umrah dengan berjalan kaki. Segera. Tanpa menunggu waktu lama.

Inspirasi kedua datang dari sahabat yang lain, dan barangkali kitapun jarang menjumpai sahabat ini di berbagai buku yang mengkaji tentang sahabat Nabi. Dia tidak terkenal memang, tetapi inspirasinya tentang taubat bisa menjadi motivasi bagi kita untuk bersegera mungkin bertaubat atas kesalahan yang kita lakukan. Dia bernama Tsa’labah. Suatu ketika, Tsa’labah diutus Rasulullah untuk suatu keperluan. Ia pun bergegas berangkat. Di jalan, tanpa sengaja, ketika ia menoleh ke sebuah rumah yang tidak tertutup pintunya, terlihat wanita yang sedang mandi. Wajahnya pun berubah dan mendadak pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia segera berlari sekencang – kencangnya melewati rumah demi rumah, kampung demi kampung, hingga keluar Madinah. Ia tiba di sebuah padang pasir yang sepi. Di sana ia menangis sejadi-jadinya. Menyesali apa yang telah dilihatnya. Dengan derai air mata dan suara yang tersisa ia memohon ampunan Rabbnya. Di tempat lain, Rasulullah kehilangan sahabat ini untuk satu hari, sehingga Nabi mengutus Umar dan Salman untuk mencarinya, dan akhirnya dengan susah payah Umar berhasil menemukannya. Ia memeluk Tsa’labah dengan penuh rindu.

“Wahai Umar, tahukah Rasulullah SAW tentang dosaku”, tanyanya penuh kekhawatiran.

“Aku tidak tahu permasalahan itu. Yang jelas, Rasulullah menugaskan kami untuk mencarimu.” Jawab Umar

“Wahai Umar, satu permohonanku padamu. Jangan kau bawa aku menghadap Rasulullah, kecuali ketika beliau sedang shalat.”

Sesampainya di Madinah dan mendapati Rasulullah membaca Al-Qur’an dalam shalatnya, sahabat yang bernama Tsa’labah ini pingsan. Ia jatuh sakit hingga berhari-hari. Tsa’labah masih saja khawatir akan dosanya melihat wanita mandi dengan tidak sengaja. Ketika Rasulullah tahu kondisinya dan menjenguk ke sana, ia masih saja khawatir akan dosanya.

“Apa yang kau rasakan?” Rasulullah bertanya kepada sahabat yang kini telah berada dalam pangkuannya ini.

“Seolah semut merayap di antara tulangku, dagingku dan kulitku”, timpal Tsa’labah
“Apa yang kau inginkan?” tanya beliau lagi.

“Ampunan Rabbku”, jawabnya penuh harap.

Tak lama kemudian Jibril menyampaikan wahyu,

“Wahai Muhammad, Rabbmu mengirimkan salam untukmu. Dia berfirman padamu, ‘Seandainya hambaKu ini datang padaKu dengan kesalahan yang memenuhi bumi, tentulah Aku akan menemuinya dengan ampunan sebanyak itu pula.”

Ketika Rasulullah SAW memberitahukan wahyu ini kepadanya, sahabat ini meninggal seketika. Dan ia mengajari kita untuk bertaubat segera. Segera mungkin, tanpa menunggu waktu lama.

Sahabat, mari merenungi kembali, lintasan hati seperti Thalhah yang terbersit keinginan menikahi Aisyah dan tatapan tanpa sengaja seperti Tsa’labah barangkali hari ini tidak dianggap dosa oleh kebanyakan kita. Bahkan dosa-dosa besar sudah dianggap biasa. Pandangan mata yang jelalatan, dan lintasan hati yang tak karuan sering sekali kita lakukan. Astaghfirullahadzim. Namun dua sahabat mulia ini berbeda. Ia mengajari orang-orang mukmin berikutnya untuk takut, bukan pada besarnya dosa yang dilakukan tetapi kepada siapa ia telah bermaksiat. Takut kepada Allah melahirkan konsekuensi: bertaubat segera ketika menyadari kesalahan yang diperbuat. Segera bertaubat secepat mungkin tanpa menunggu waktu lama.

Lihatlah sekali lagi Imam besar As Syafi’i, ketika tanpa sengaja melihat betis seorang wanita, hafalan yang telah dilakukannya sejak lama hilang seketika. Demikianlah orang – orang mukmin yang dikasihi Allah. Selalu takut, takut berbuat maksiat kepada Allah. Lalu sahabat, bagaimana dengan kita hari ini? Sudahkah kita takut kepada Allah, sehingga setiap hari kita selalu kita awali dengan berkontemplasi, bertaubat kepada Allah? Barangkali, seperti kata al-akh suatu ketika dalam sebuah forum diskusi pekanan, yang menyebabkan kita tidak sukses dalam ibadah, hafalan qur’an kita tidak pernah nambah, dalam qiyamullail kita jarang meneteskan air mata, adalah karena maksiat kita lebih besar dari ibadah kita, dan kita tidak sadar, dan tidak peka. Mata kita masih jelalatan memandangi lawan jenis, tanpa mempedulikan lagi adab menundukkan pandangan. Hati kita jarang, atau bahkan tidak pernah fokus dalam ibadah hanya kepada Allah. Dan seharusnya, mari segera kita bertaubat, taubat yang sebenar – benarnya taubat.

Sahabat, diakhir tulisan ini, tepat pukul 02.43 WIB, jalanan kota Semarang di belakang gedung Gubernuran sudah mulai ramai kendaraan, mari kita berdoa kepada Allah Azza wa Jalla

Ya Allah… jadikan hamba-Mu ini orang – orang yang takut, takut untuk berbuat maksiat,

Ya Allah… jadikanlah kami ahli taubat, jadikanlah diri kami mampu meneladani mereka berdua Thalhah dan Tsa’labah dalam menyegerakan taubat.

Ya Allah… semoga Engkau berkenan menjadikan kami golongan kaum mukminin

Ya Allah… Kabulkanlah do’a Hamba – Mu ini

Referensi : http://muchlisin.blogspot.com/

*Ahad, 24 Oktober 2010 Pukul 02.43.50 WIB

Gd. Dharma Wanita Kota Semarang, Lt. 1, parkiran bawah

Ditulis dengan sepenuh harap

Pegiat Humas KAMMI Unnes

Iklan

One thought on “Mari bertaubat, segera

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s