Ojo apik wektu butuh, lali wektu lungguh


Oleh : Dwi Purnawan *)

Adalah Pacitan, sebuah Kabupaten yang terletak di ujung barat provinsi Jawa Timur, yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan. Kabupaten yang secara luas wilayah memang tidak seluas Kabupaten atau Kota  disekitarnya, bahkan Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten yang kecil di provinsi jawa Timur. Walaupun kecil, Kabupaten Pacitan adalah wilayah yang mempunyai potensi besar terutama dari potensi alamnya yang melimpah, selain dari Potensi wisata alam, seperti Pantai, Goa, sungai, ataupun pegunungannya, dapat juga dijumpai potensi tambang batu – batuan berharga, seperti batu bentonite, batu mulia atau emas yang bernilai jual yang tinggi. Pun demikian dengan potensi SDM nya, terbukti beberapa putra daerah pacitan menjadi tokoh dibeberapa tempat, baik regional maupun nasional. Seperti Haryono Suyono (Menteri BUMN zaman Soeharto), Bambang DH (Walikota Surabaya), Rektor UMS, Rektor Unnes, SBY (Presiden RI) dan beberapa tokoh – tokoh lainnya. Begitu dahsyatnya potensi yang dimilki Pacitan, baik potensi alam maupun SDM putra daerahnya, ternyata belum memberikan pengaruh signifikan bagi kesejahteraan masyarakatnya. Dari segi pengelolaan tata ruang kota, Pacitan masih kalah jauh dibandingkan dengan kota – kota lainnya, seperti Ponorogo, Demak, Purworejo, ataupun  Kota – kota lainnya di Indonesia. Masyarakat Pacitan juga masih tergolong miskin dibanding Kabupaten – kabupaten lainnya di Jawa Timur. Bahkan beberapa waktu yang lalu, Pacitan sempat digolongkan menjadi Kabupaten termiskin diantara kabupaten lainnya di Jawa Timur. Yang lebih parahnya, dulu sempat beredar kabar pula bahwa Kabupaten Pacitan akan dijadikan satu dengan Kabupaten Wonogiri dan Ponorogo. Sungguh ironis melihat kenyataan tersebut mengingat Pacitan dengan segala potensinya yang luar biasa. Ada sebuah pertanyaan besar menggelayuti saya, ada apa gerangan dengan Kabupaten Pacitan? Mengapa pacitan begitu tertinggal dengan Kabupaten lainnya? Adakah yang salah?

Judul artikel diatas saya ambil dari isi baliho salah satu bakal calon Bupati pacitan di pinggiran jalan Kecamatan Punung, Pacitan. Namun untuk mengetahui maksud saya memunculkan judul diatas, mari kita awali dari pertanyaan di alinea pertama paragraf terakhir. Ya, ketika ada pertanyaan, adakah yang salah dengan pacitan, tentu jawabannya adalah ada. Tetapi mari kita lihat lebih dalam mengapa Pacitan, dengan begitu banyaknya potensi yang ada, menjadi daerah yang tertinggal diantara daerah – daerah lainnya. Yang pertama yang tentu sedang menjadi masalah besar bagi pacitan adalah masalah pengelolaan potensi pacitan yang belum optimal dan tepat sasaran. Selama ini, potensi – potensi alam di Pacitan hanya dikelola secara sederhana, sehingga tidak menghasilkan produktivitas yang tinggi, atau dengan kata lain, potensi sumber daya di pacitan belum produktif. Yang kedua, ketika kita bicara masalah kesejahteraan masyarakat, maka kita akan membicarakan masalah mekanisme pengelolaan penyelenggara Negara, yang dalam hal ini adalah Pemkab. Sejauh mana pemkab memberdayakan masyarakat, inilah yang mesti kita pertanyakan kepada para penyelenggara Negara tersebut, sudahkah program – program yang dilaksanakan benar – benar menjadi prograf strategis-solutif untuk menyelesaikan problematika ekonomi masyarakat Pacitan. Maka berangkat dari dua pertanyaan besar tersebut, lalu kemudian kita komparasikan dengan kondisi riil masyrakat pacitan, maka jawabannya adalah tidak, atau belum semasekali. Pemkab, terutama dalam lima tahun terakhir belum banyak menyentuh masalah sentral masyarakat Pacitan. Artinya dapat kita jadikan sebuah kesimpulan awal bahwa program – program yang dijalankan Pemkab hanya berjalan ditempat, belum menyentuh semua golongan masyarakat sampai di pelosok desa paling pelosok di Kabupaten pacitan. Bahkan, Pemkab dalam melaksanakan setiap agendanya, sering membuat blunder, seperti dalam pengelolaan APBD yang tidak transparan, dan raport merah yang diberikan BPK kepada Pemkab, maka dengan fakta ini menunjukkan bahwa kinerja dari pemkab selama lima tahun ini masih tidak berjalan dengan baik. Walaupun Pacitan didaulat sebagai penerima adipura selama tiga tahun berturut – turut sekalipun, masih banyak Pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh pemimpin Pacitan nantinya, ketika memang berkeinginan tulus untuk membuat Pacitan menjadi lebih baik dimasa yang akan datang. Yang ketiga, terbatasnya akses informasi dan transportasi di Pacitan yang indah ini, menjadi kendala sendiri sehingga peluang terjadinya eksplorasi besar – besaran terhadap semua potensi yang ada di Pacitan oleh pihak – pihak yang tidak bertanggungjawab ini semakin besar, dan hal tersebut sudah terbukti dilapangan. Pacitan punya tambang emas di Ngadirojo, tetapi warga disekitar belum menikmati atau belum kecipratan  hasil tambang tersebut, begitu juga warga sekitar Pantai Srau, Watukarung, dan sepanjang Pantai di Ngadirojo, tingkat kehidupan mereka masih jauh dari kelayakan.

Pada intinya pacitan memang membutuhkan solusi segera untuk menyelesaikan segala permasalahan yang melanda Pacitan, inilah yang sebenarnya menjadi inti dari tulisan singkat ini. Karena selama ini, Pemkab (yang lebih banyak disorot) sekali lagi belum menunjukkan tajinya, seperti ketika dulu dengan gesit mengkampanyekan diri untuk mampu memberikan solusi bagi Pacitan ketika nyalon menjadi pemimpin Pacitan. Kalimat Ojo apik wektu butuh, lali wektu lungguh, walaupun sebenarnya saya faham adalah sebagai sebuah strategi pencitraan diri sang calon AE 1, namun ketika dimaknai secara lebih cermat, sepertinya memang seperti itu adanya kondisi kepemimpinan pacitan kita ini, atau bahkan hampir di seluruh Indonesia, model kepemimpinan kita masih seperti ini. Ya, sebelum kita (maksudnya para pemimpin yang mencalonkan jadi bupati tersebut) menjadi pemimpin, kita membutuhkan suara masyarakat untuk mendompleng suara agar menjadi lebih banyak sehingga mampu memenangkan pemilihan kepala daerah, dan strategi – strategi yang diambil pun tidak lepas dari kekuatan uang. Lalu setelah jadi, kita malah terbuai dengan kekuasaan kita, dan melupakan masyarakat yang memilih kita dulu. Inilah kondisi riil perpolitikan kita. Saya lihat belum ada niatan serius dari pemimpin Pacitan untuk membenahi pacitan, dan menjayakan Pacitan. Pacitan, yang walaupun hanya kecil secara letak geografis, ternyata sampai saat ini juga belum ada pemimpin yang sanggup merawat, memelihara, dan menumbuhkan Pacitan menjadi prototype bagi daerah lain. Dan momentum pergantian pemimpin itu sudah sangat dekat, dan saatnya para masyarakat Pacitan mulai meneropong dan mencermati siapa sebenarnya yang sangat serius ingin membenahi Pacitan secara menyeluruh disegala bidang, dan siapa yang hanya bermuka dua dan menjadi maling di kampung halamannya sendiri. Dan saran saya untuk para tokoh yang kelak akan mencalonkan diri menjadi pemimpin Pacitan, mari kita rekonstruksi ulang paradigma berfikir kita tentang Pacitan, ibarat sebuah tanaman, Pacitan sedang dalam masa pertumbuhan, tugas kita adalah menjadganya, menyiraminya, memupuknya, dan melindungi dari hama – hama yang merusaknya, jangan sampai kita malah menjadi hama bagi tanaman tersebut, bahwa kita sepakat Pacitan adalah daerah potensial, tugas kita adalah menjaganya, merawatnya, dan meledakkan potensi yang ada di Pacitan, bukan malah merusak potensi yang ada untuk kepentingan pribadi. Saya sangat optimis bahwa suatu saat Pacitan akan menemukan kembali kejayaannya, rakyatnya makmur, dan sejahtera, daerahnya dikagumi oleh daerah lainnya. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan Pacitan menjadi jaya, salah satunya adalah kita mulai dari pemimpin kita kelak, dan bulan desember adalah penentuan masa depan Pacitan, menjadi lebih maju, atau lebih mundur, itu menjadi pilihan bagi kita. Dan sekali lagi bagi para calon pemimpin Pacitan, jangan hanya baik ketika kita membutuhkan pacitan, dan selanjutnya menjadi lupa, tetapi ingatlah bahwa pacitan adalah masa depan kita, jadi selamanya kalian (para calon pemimpin Pacitan) harus menjadi baik bagi rakyatnya, menjadi pelayan yang setia bagi msayarakatnya, itulah ciri pemimpin sejati. Sebelum tulisan ini diakhiri, saya sedikit menegaskan bahwa saya bukan samasekali pendukung dari calon yang memasang jargon Ojo apik wektu butuh, lali wektu lungguh. Tetapi hanya warga Pacitan yang ingin urun rembug, memberikan sesuatu, (yang semoga bermanfaat)  bagi kampung halaman tercinta ini.

* Mahasiswa Penjaskes dan Rekreasi FIK  Unnes

Penulis lepas dan pegiat Humas KAMMI Unnes

Tulisannya bisa dilihat di http://thedwy.com dan

https://terpaksabikinwebsite.wordpress.com

3 thoughts on “Ojo apik wektu butuh, lali wektu lungguh

  1. Pacitan… hm … sebuah kota kenangan sewaktu saya masih anak-anak… warga yang santun dan penuh ramah tamah.. semua pendatang yang masuk di kota Pacitan dianggap warga Pacitan seperti keluarga Sendiri… Salam kagem Warga Pacitan…

  2. Ping-balik: PT. BATIK SEMAR membutuhkan mitra kerjasama yang berminat untuk membuka cabang baru diwilayah Bandar lampung ? | Indonesia Search Engine

  3. “Ojo apik wektu butuh lali wektu lungguh”
    membaca tulisan disepanjang perjalanan pulang kmrn(sejak donorojo-rmh)ane gak bisa mengartikannya, tulisan tanpa tanda baca yg Jelas!
    tp alhamdulillah tulisan antum bisa menjawab ketidakfahaman ane,,,

    Menjelang PILKADA para orang2 “lapar” mulai melakukan PENCITRAAN DIRI, mengharapkan setiap orang “melirik”nya dan terpikat dengan “PESONA”nya
    Itulah para Calon2 Pemimpin “INSTAN” yang mencoba “MEMIKAT” untuk mencari “NIKMAT” pribadi,,,,

    Para Generasi Muda Calon ALBANA PACITAN, persiapkan diri untuk segera melakukan “PERUBAHAN”

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s