Cerita tentang kampungku


Oleh : Dwi Purnawan*

Pagi itu, sang mentari nampak berwajah kemerah – merahan karena agak malu untuk keluar dari peraduannya, lalu sang ayam pun terus memanggil sang mentari untuk keluar dari peraduannya. Bukan hanya ayam, para kodok pun saling bersahut – sahutan di pematang sawah pertanda mereka sangat gembira atas datangnya pagi. Sementara angin tetap berdesir, bertiup, menari – nari melambai kesana kemari diantara hijaunya pepohonan yang nampak basah namun kelihatan segar karena sang embun tetap pada tugasnya, memberikan kesegaran pagi. Lambat laun akhirnya sang mentari pun mulai bangun dan  pelan – pelan mulai menyinari bumi, ayam tidak lagi berkokok karena mereka harus mencari makan dihutan agar tidak ketinggalan dari yang lainnya. Pun demikian dengan para kodok yang juga akhirnya berhenti setelah  bernyanyi dipagi hari itu. Setelah hari semakin siang, para warga segera bekerja ditempat kerja masing – masing. Nampak seorang bapak – bapak segera memakai capingnya, memanggul cangkulnya, dan bergegas ke lading untuk mencangkul, dan mencangkul, lalu setelah mencangkul ia segera mendapatkan banyak rupiah dari tuannya. Bagi bapak tersebut, cangkul adalah uang, karena dengan cangkul, dia dapat menghidupi anak istrinya, menghidupi keluarganya, karena cangkul bagi dia adalah sumber penghasilnnya. Lalu, lain lagi dengan bapak yang satunya, dia tidak mencangkul, tetapi segera bergegas memakai seragam sekolah, yang tampaknya sudah mulai lusuh akibat termakan usia, segera dia degan mengendarai sepeda motor butut menuju kesekolah tempat ia bekerja, ia pun mengendarai sepeda butut itu, naik, melewati jalanan yang hampir semuanya becek, dan sulit dilaui, dan akhirnya sampai juga ia disekolah itu, setelah sampai disekolah, ia disambut dengan sukacita oleh murid – muridnya, semua muridnya menciumi tangannya, bahkan sampai tangan bapak itu kotor karena ternyata salah satu murid mencium dan ingusnya menempel ditangan bapak itu. Tapi tidak masalah, bagi sang bapak, itu adalah bagian dari perjuangannya untuk mendidik anak – anak desa tersebut, menjadikannnya pandai, juga disisi lain ia dapat menafkahi keluarganya. Luar biasa pemandangan pagi itu, penuh dengan kesegaran, penuh dengan kedamaian, penuh dengan ketulusan, penuh dengan pengabdian, penuh dengan perjuangan yang tak kenal lelah, dalam rangka menggapai makna hidupnya masing – masing.
Tempat itu, tempat dengan sejuta warna – warni simphoni alam yang luar biasa, itulah sebuah kampung, yang barangkali tidak semua orang dapat mengatakan demikian, yang barangkali itu hanya kampung biasa dengan nuansa pedesaan yang pelosok yang sangat umum seperti di pelosok lainnya, dan bahkan barangkali ada juga yang mengatakan itu adalah kampungnya orang – orang primitif, yang tidak peka terhadap zaman. Ah, biarkan orang menilai apapun, tetapi bagi sebagian orang, termasuk diriku, ini adalah kampung surga, atau surganya kampung, dan barangkali itu hanya dapat dirasakan oleh segelintir orang saja. Bayangkan saja, selain indahnya pesona alam berbalut dengan kealamiannya, kampung ini juga menyimpan potensi sumber daya manusianya. Keharmonisan dan kerukunan bertetangga selalu dijaga, bahkan ketika membangun rumah salah satu penduduk, semua warga secara sukarela bergotong royong membantu mendirikan rumah penduduk itu, begitu juga ketika menjelang puasa, dengan komando dari Ketua RT melalui pengeras suara di surau untuk bekerja bakti membersihkan jalan kampung, secara kompak dan tanpa pamrih, mereka, para warga itu secara sukarela membersihkan jalanan kampung agar terlihat bersih dan nyaman dilewati. Begitu juga ketika ada tradisi ngobong boto (membakar batu bata) oleh salah satu penduduk setempat, para warga pun dengan sukarela dan hanya rela dibayar dengan suguhan ubi rebus dan segelas teh hangat untuk membantu suksesnya tradisi tersebut. Inilah kampungku. Yang barangkali nuansa gotong royong, yang dibalut dengan nuansa kekeluargaan dan rasa saling memiliki satu warga dengan warga lain itu masih sangat kental. Inilah kampung itu, yang diantara hijaunnya pepohonan, sepoinya angin yang berhembus di pematang sawah, masih terlihat anak – anak kecil dengan tawa renyahnya berlarian dan berkejaran satu sama lain dalam permainan khas desa, permainan delung – delungan (permainan petak umpet). Inilah kampung itu, yang masih sangat kental melestarikan budaya Jawa, yang diambil dari nilai – nilai islam, tentang budaya anggah – ungguh, sopan santun, menghormati yang tua dan menghormati yang muda, mikul dhuwur mendhem jero. Ah, akupun jadi berfikir, aku tak ingin keluar dari tempat ini, karena aku sudah merasa nyaman berada dikampung ini, merasa telah berada disurga.
Tetapi ternyata itu semua terjadi dulu, dulu sekali. Ketika sang zaman belum tua, ketika sang penjajah belum menusuk sampai ke ulu hati. Sekarang telah terjadi perubahan dikampung itu, dikampungku, dikampung yang dulu terlihat damai, yang dulu sangat ramah. Anak – anak yang dulu didik dengan ketulusan hati oleh sang guru yang berwajah sayu, kini telah berubah, mereka tidak lagi mengamalkan nilai – nilai tenggang rasa, nilai cinta tanah air, seperti yang pernah diajarkan dalam mata pelajaran PPKn oleh guru mereka. Tidak ada lagi nilai sopan santun yang pernah diajarkan oleh guru mereka, kini mereka telah berubah, dari yang semula menjadi anak yang sangat penurut, pandai, dan beretika, kini mereka berubah menjadi pemuda – pemuda bengal, tak mau diatur, dan suka kebut – kebutan. Maunya punya uang banyak, tetapi suruh bekerja tak mau. Atau ada lagi profil bebarapa anak kampung itu, yang dulu pandai, penurut, dan mempunyai anggah – ungguh, mereka terlihat seperti tidak berubah, masih pandai dengan gelar doktor atau bahkan profesor disandang dipundak, masih terlihat ramah, tetapi ternyata ini malah lebih parah. Para doktor dan profesor yang terlihat ramah ini ternyata bermuka dua. Mereka hanya menggunakan kepandaiannya untuk mengeruk sumber potensi yang ada dikampung itu. Mereka secara liar membangun pabrik – pabrik dengan tidak memperdulikan lagi dampaknya terhadap lingkungan, atau bahkan, para anak – anak pandai yang kini tumbuh dan menjadi pemegang kebijakan publik di kampung ini membuka selebar – lebarnya investor asing untuk mengeruk sebanyak – banyaknya potensi alam dikampung itu. Kampung itu, kini menjadi kampung yang tidak lagi ramah, para warganya lebih mementingkan ego pribadi daripada semangat gotong royong yang dulu selalu menjadi tradisi. Mereka beranggapan, dimana ada rupiah disitu mereka berada, sehingga para warga itu kini menjadi pemburu rupiah. Kampungku kini semakin terlihat malang, semakin terlihat tandus, semakin terlihat kering. Kini tidak ada lagi sepoi angin yang berdesir disela – sela pepohonan yang hijau dan sang pohon pun menari – nari dengan lembut. Kini tidak ada lagi suara kodok bersahut – sahutan, karena tempat mereka bernyanyi mereka kini telah digusur, berganti dengan pabrik – pabrik dengan kepulan asap yang membuat sang awan tidak lagi beterbangan dengan nyaman. Matahari pun kini bersinar sangat terik, pertanda bahwa ia sangat marah terhadap kampung ini. Dan kampung ini bukan semakin terlihat makmur, tetapi semakin terlihat terpuruk. Anak – anak mudanya tetap pada zona nyaman mereka, bersenda gurau, hidup dengan gaya hedonis yang mereka pikir itu dalah puncak kenikmatan hidup, pun demikian dengan para cerdik pandai, atau para politisinya, mereka menyalahgunakan wewenang yang mereka miliki untuk mengeruk keuntungan sebanyak – banyaknya demi kepentingan pribadi mereka. Berlomba – lomba mereka memasang wajah mereka dipinggir jalan, sambil berjanji manis, mengumbar janji yang pada intinya adalah untuk memakmurkan rakyat kecil, dan parahnya para warganya pun terbuai dengan janji – janji itu. Dengan dalih untuk memakmurkan kampung, para calon pemimpin ini, dengan semua usaha yang mereka lakukan, termasuk memberi rupiah kepada para konstituennya, berupaya untuk menjadi pemimpin tertinggi dikampung itu, dan ternyata janji – janji itu hanyalah janji belaka. Setelah meraka jadi pemimpin, mereka tidak lagi berfikir memakmurkan rakyat kecil, karena yang ada dibenak mereka hanya bagaimana cara mengembalikan utang – utangnya sebelum mencalonkan diri. Dan janji mereka untu memakmurkan kampung, hanya berujung pada janji semu belaka. Tidak ada kemakmuran dikampung itu, kampung itu tetap stagnan, tetap menjadi kampung yang termiskin, dan walaupun dengan banyak potensi, kampung ini tetap miskin.
Aku, mulai berfikir, dan mengutuk ini semua. Mengutuk kepada sang penjajah yang semakin sadis menjajah kampung – kampung ini, dan kampung – kampung lainnya di Indonesia. Ya, sang penjajah, bernama kapitalisme telah menjadi momok bagi semua warga dikampung ini. Para pemuda atau pelajarnyanya didoktrin untu belajar setinggi – tingginya, mendapatkan prestasi banyak, dan setelah sekolah tinggi, lalu mereka mendapatkan jabatan tinggi, dan penjajah itu telah menjadi tuan bagi pemimpin itu. Para pemimpin- pemimpin itu kini telah menjadi budak kapitalisme belaka. Ah, aku rindu zaman itu, rindu kampung yang asri, yang nayamn dihuni, yang alami, yang indah, yang menawarkan sejuta pesona keindahan, yang warganya ramah, yang nilai gotong royong itu menjadi kekuatan utama. Yang para pemimpinnya benar – benar menjadi abdi dalem bagi rakyatnya, yang pemimpinnya benar – benar bekerja untuk rakyat, dengan tegas dan gagah menolak segala bentuk penjajahan, dan campur tangan asing, lalu bersama dengan rakyat memajukan kampung ini, mengembalikan kampung ini menjadi kampung yang disegani, seperti cerita tentang Kaisar Jepang dalam Film The Last Samurai, yang akhirnya secara tegas menolak kerjasama senjata dengan Amerika Serikat, dan kembali dengan kekuatan samurai untuk membuat  Jepang lebih jaya dan maju. Di akhir cerita ini, aku hanya ingin berharap satu hal, bahwa pemimpin bagi kampung ini haruslah mereka yang benar – benar mempunyai kapasitas, bukan hanya berkapasitas dalam hal pencitraan saja, tetapi mempunyai niatan yang tulus untuk membangun kembali kampung ini, membuat kampung ini menjadi jaya, dan disegani oleh kampung – kampung yang lainnya. Dan momentum itu sudah sangat dekat, sebentar lagi, dan aku sudah sangat rindu sekali, rindu sekali melihat kampungku yang dulu lagi, kampung yang penuh dengan sinergi alam yang indah. Kampung dengan sejuta potensi alamnya yang luar biasa. Aku rindu kampungku, Pacitan.

* Mahasiswa Penjaskes dan Rekreasi FIK  Unnes
Penulis lepas dan pegiat Humas KAMMI Unnes
Tulisannya bisa dilihat di http://thedwy.com dan https://terpaksabikinwebsite.wordpress.com

Iklan

3 thoughts on “Cerita tentang kampungku

  1. vika like this,,,

    Ya kondisi saat ini membuat kita sebagai generasi muda harus gelisah,gelisah karena orang2 “lapar” mulai melirik kota kita,,,

    So apakah kita rela melihat orang2 “lapar” itu bebas berbuat dikota kita???apakah kita akan membiarkan mereka bebas bergerak???

    Tidak,,, kita tidak bisa membiarkan itu semua terjadi,,,,
    kita akan kembali kekota kita, dan menjadi al-bana2 baru,,,
    Insyaallah,,,

  2. Ping-balik: The Heaven Of Indonesia – Cerita tentang Kampungku

Mari berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s